
"Bagaimana?"
Di dalam ruangan perpustakaan yang masih belum terlalu ramai, Sari siswa kelas dua bertanya padaku tentang naskah yang dia buat.
Ini pertama kalinya dia menunjukannya pada seseorang karena itulah ini mungkin bisa dibilang sebuah kehormatan.
"Penulisannya sudah rapih, hanya ada sedikit dialog yang kurang pas di sini dan beberapa lagi di sini. Alur ceritanya juga sedikit berantakan di tengah-tengah."
"Begitu," katanya lemas.
Jika menyangkut pekerjaan aku tidak ingin membohongi siapapun, karena Itulah, penilaian sebelumnya memanglah benar adanya.
"Kenapa tidak kamu coba mengirimkannya ke penerbit setelah merevisinya?"
"Aku belum percaya diri untuk melakukannya, saat tahu Rin yang menulis Magic School Assassin, aku ingin bisa menjadi sepertinya."
"Kalau begitu, mau mampir ke tempatnya?"
Atas ajakanku selepas sekolah kami berdua pergi ke rumahnya, berhubung Rin tidak masuk jadi kami sekalian ingin tahu keadaannya juga, untuk pekerjaan game sendiri hanya dua hari sekali kami berkumpul di kediamanku.
Aku menekan bel dan suara balasan terdengar.
"Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Ini aku tante, apa Rin ada?"
"Ah Tora kah, sebentar."
Seperti biasanya ibu Rin menyambutku dengan ceria.
"Sudah lama kamu tidak mampir, Rin sedikit tidak enak badan jadi ia memutuskan untuk istirahat hari ini, lalu?"
Dia mengalihkan pandangan ke arah teman yang aku bawa.
"Namanya Sari, ia teman Rin juga."
Mendengar itu dia menangis.
"Aku tidak menyangka bahwa putriku benar-benar punya teman selain Tora, aku mengira dia berbohong, terima kasih sudah mau berteman dengannya."
"Tora, apa dia baik-baik saja?"
Aku tersenyum ragu.
"Yah, dia memang seperti itu."
Mendengar teman ia akan menangis terharu.
"Aku harus menelepon suamiku agar pulang lebih cepat."
"Tolong jangan lakukan itu."
Jelas sekali itu hanya akan merepotkannya, kami mengetuk pintu kamar Rin dan setelah dipersilahkan masuk wajahku terkejut karena kamarnya jauh lebih rapih.
"Fufu bagaimana, kamarku bersih kan."
Aku bertepuk tangan untuk menanggapinya.
"Bukannya dia?"
"Kita pernah bertemu di perpustakaan, tolong jangan bersikap formal."
Aku menjelaskannya.
"Eh, jadi Sari ingin jadi penulis juga.. itu sangat bagus genre seperti apa yang kamu sukai?"
"Genre sekolah."
"Begitu, boleh aku lihat naskahmu."
"Sedikit memalukan tapi tolong dilihat."
Rin membacanya sekilas lalu mengangguk kecil.
"Bagus, sepertinya Tora sudah menandai hal-hal yang harus diperbaiki. Setelah selesai ini cukup menjanjikan jika ditawarkan ke penerbit."
"Menurutmu begitu?"
"Iya, aku bisa menghubungi Rana nanti untuk memastikannya."
"Terima kasih banyak."
Ibu Rin muncul untuk menaruh jus dan cemilan untuk kami bertiga. Dia sedikit bermain-main saat keluar kamar.
"Ini yang dinamakan cinta segitiga itu."
"Bukan, kami tidak ada hubungan seperti itu.. mama berhentilah menguping."
"Heh, tapi mama juga ingin tahu urusan anak muda."
Rin dengan susah payah mendorong ibunya untuk keluar.
Ibunya kemungkinan besar korban sinetron.
"Kamu tidak enak badan, apa baik-baik saja?"
"Aku hanya kurang tidur saja karena mengerjakan naskah berikutnya."
"Tak masalah untuk bersantai, even game masih lama dan juga kamu sudah menyelesaikan seperempat dari pekerjaannya."
"Meksi begitu aku ingin berjuang keras seperti yang lainnya."
"Kesehatan juga penting."
Sari menatap antara aku dan Rin dengan mata berbinar.
"Kalian seperti protagonis novel, ini bahan yang bagus."
Aku maupun Rin menghela bafas panjang.
Kecenderungan penulis adalah menulis apapun yang dia lihat di depan matanya.