Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 32 : Kesepakatan


"Setelah ujian ini selesai aku ingin perpustakaan ditutup sepenuhnya."


"Aku mengerti."


Aku sedikit terkejut bahwa Sari tanpa keberatan menyetujuinya, padahal aku yakin bahwa tempat ini kemungkinan besar sangat penting baginya. Hal itu tersirat bagaimana ia masih mau datang kemari.


Aku segera menyela.


"Tunggu sebentar, bukannya itu terlalu cepat untuk memutuskan."


Erna kini mengalihkan pandangan ke arahku, dia menutup satu matanya selagi meletakkan jarinya di dagu.


"Kamu bukannya orang populer yang muncul di televisi itu, aku kira kamu tipe jenius yang tidak butuh semacam buku di perpustakaan."


"Tidak ada orang yang bisa melakukan apapun tanpa belajar khususnya tidak membaca buku."


Erna tersenyum dengan jawaban ambigu tersebut.


"Jadi kenapa aku tidak boleh menutup tempat ini?"


Dia malah seperti pemilik toko yang hendak bangkrut dan berusaha memecat karyawannya.


"Fasilitas perpustakaan adalah hal wajib yang harus ada di sekolah, jika kamu menutupnya maka kamu telah melanggar hak yang harus dimiliki siswa."


"Sungguh perkataan bagus, lalu bagaimana jika tempatnya sendiri tidak menarik siswa satu pun, apa harus tetap dipertahankan?"


Aku tersenyum masam sedangkan Sari di sisi lain hanya mendesah pelan.


"Kurasa jawabannya sudah jelas, aku akan."


"Tunggu sebentar, beri waktu satu bulan. Jika perpustakaan ini ramai apa kamu akan membiarkannya?"


"Perpustakaan bukan seperti game yang akan terus dimainkan, jika orang-orang tidak tertarik datang maka akan terus seperti itu."


"Aku akan menunjukkan perpustakaan yang berbeda," kataku serius.


"Konyol."


Erna membalikan tubuhnya hingga rambut peraknya berayun ke samping.


"Aku sedikit tertarik bagaimana kamu akan melakukannya, akan kuberikan waktu dua Minggu tidak lebih dan kurang."


Kami berdua hanya melihatnya pergi begitu saja.


Sari tampak lega saat dirinya memerosotkan tubuhnya ke kursi, jelas sekali bahwa dia sebenarnya tidak ingin sampai menutup perpustakaan ini.


Ia melirik ke arahku.


"Kenapa kamu melakukan hal barusan sejauh itu?"


Sari tertawa kecil.


"Nggak jelas, apa sebenarnya kamu sedang menggoda kakak kelasmu. Itu tidak sopan."


"Di Indonesia tidak terlalu memikirkan hirarki, semua orang sama."


"Ya ampun, kamu pandai berbicara... untuk sementara waktu aku berterima kasih jika kamu mau membantu tempat ini."


"Aku masih belum tahu alasannya kamu terikat dengan tempat ini."


"Soal itu akan aku katakan."


Ia mengambil sebuah album sekolah lama lalu menunjuk seorang di sana yang mirip dengannya.


"Ini adalah foto ibuku, ketika ia bersekolah di sini ia bertugas sebagai penjaga perpustakaan, ia selalu mengatakan bahwa berlama-lama di tempat yang dipenuhi buku sangatlah menyenangkan karena itu aku juga ingin mencobanya."


"Lalu apa yang kamu temukan?"


"Tidak seperti apa yang ibuku bilang."


Aku diam memikirkannya.


"Kalau dulu hal seperti ebook, dan buku sangatlah sulit didapatkan jadi masih banyak orang yang pergi ke perpustakaan, kalau sekarang pasti berbeda, tapi bukan berarti kita tidak bisa mengakalinya."


"Apa yang akan kamu lakukan?"


"Seperti apa yang dikatakan ketua OSIS barusan, perpustakaan tidak seperti sebuah game yang selalu menyenangkan jadi kenapa tidak buat perpustakaan yang menyenangkan."


"Maksudnya?"


"Masih rahasia."


Aku keluar dari perpustakaan dan saat menuruni tangga sosok Erna tampak bersandar di dinding selagi menyilangkan tangannya.


"Kamu cukup baik memberikan sesuatu yang harus kami lakukan."


"Apa yang kamu katakan, aku tidak mengerti."


"Jadi kenapa kau menungguku?"


"Apa seperti itu perlakuanmu terhadap Ilustrator temanmu... aku ingin menanyakan soal game Magic School Assassin, tapi sebelum itu tolong traktir aku makan."


Aku dari awal memang sudah mengenalnya saat kami menerima pekerjaan Magic School Assassin.


Alexia dan Erna merupakan tipe orang yang sama.