
Selagi menunggu pancinganku dimakan ikan aku baru menyadari bahwa adikku Tiara sudah tidur di sebelahku selagi menyandarkan kepalanya di bahuku, dia bilang bahwa ia ingin menungguku mendapatkan ikan namun sepertinya dia ketiduran dan yang lainnya juga seperti itu.
Untuk pergi ke sini harus berjalan kaki mereka pasti kelelahan.
Aku mengelus rambut Tiara, walau dia bukan adikku sebenarnya aku sudah menganggapnya demikian, jadi berapa kali dia menggodaku aku hanya akan membiarkannya dan meminta maaf, lebih tepatnya dia adalah anak dari kerabat jauh kami.
Orang tuanya meninggal karena kecelakaan dan kami merawatnya. Aku merasa kasihan padanya, padahal ia baru menemukan keluarga baru namun dia berakhir sama seperti sebelumnya, pada akhirnya meski aku mengatakan bahwa dia bisa pergi ke tempat lain ia hanya bilang bahwa dirinya akan terus bersamaku.
Saat itu aku menyayanginya sebagai adikku sendiri. Hal ini hanya diketahui Albert saja, ia tidak mengatakan pada siapapun karena ia juga tidak merasa bahwa kami tidak sedarah.
"Kakak aku mencintaimu."
Dia malah mengigau.
Aku teringat saat aku bertemu dengannya, itu adalah musim hujan dan ayah pulang dengan basah kuyup bersama seorang gadis kecil yang terlihat bersembunyi di punggungnya.
"Tora, kamu kini memiliki seorang adik perempuan yang manis, cepat perkenalkan namamu."
"Namaku Tiara, salam kenal."
"Aku Tora."
Kami memiliki nama yang hampir mirip.
Normalnya orang akan menuduh bahwa ayahku berselingkuh dengan wanita simpanannya namun tidak ada yang berfikir demikian, ayahku orang baik karena itulah semua orang percaya padanya.
Di sisi lain ibuku selalu bertengkar, kehidupan kami saat itu sedang merosot dan menambah orang di rumah baginya adalah sebuah beban.
Aku memeluk Tiara di pojokan sementara aku meminta dirinya untuk menutup telinga.
"Ayah, ibu, ayah, ibu."
Ia terus mengatakan keluarganya yang telah meninggal, saat itu aku sudah berjanji apapun yang terjadi aku akan melindunginya sebagai seorang kakak bahkan jika semua orang memusuhinya.
Terdapat kenangan buruk namun hal yang aku lalui bersamanya juga merupakan hari terindah.
Ia membuka matanya.
"Aku ketiduran."
"Jika kamu mengantuk tidak masalah untuk tidur sedikit lebih lama, semua orang juga seperti itu."
Dia mengitari pandangan lalu menggunakan pahaku sebagai bantal.
"Aku juga, tapi sebagai kakak."
"Menyebalkan sekali."
Aku tertawa kecil dan membiarkannya terlelap. Ketika jumlah ikan yang aku tangkap sudah lebih cukup untuk semuanya aku memutuskan untuk memasaknya sendiri. Aku membiarkan Tiara tidur di atas rumput dengan pakaianku yang dijadikannya sebuah bantal.
Aku menyalakan api kemudian memanggang ikan dan kerang yang didapatkan, ada buah, buahan dan beberapa jamur juga yang nanti akan aku jadikan sup.
Syukurlah aku tahu mana yang beracun atau tidak.
Seseorang memelukku dari belakang selagi menyamarkan suaranya, dengan dada sebesar itu aku sudah tahu siapa dia.
"Siapa?"
"Bu Nanase."
"Kamu berhasil menebaknya, tidak keren."
Dia akhirnya duduk di sebelahku.
"Seharusnya kamu membangunkan kami semua tapi malah memasak sendirian."
"Anggap saja sebuah pelayanan khusus."
"Perkataan yang cukup berani, kalau begitu ibu minta pelayanan khusus."
"Aku tidak akan melakukan apapun yang Bu Nanase pikirkan."
Dia mengembungkan pipinya, ia berusaha untuk meniru adikku tapi tentu saja damage yang diberikannya tidaklah setingkat dengannya.
"Pesonaku gagal."
"Dibandingkan mengatakan hal aneh-aneh, bisakah Anda mencoba membantu."
"Serahkan padaku."
Syukurlah bahwa Bu Nanase sangatlah pandai memasak, bahkan dengan bahan seadanya.
"Sebenarnya aku membawa beberapa daging serta bahan lainnya dan meminta temanku lebih dulu menaruhnya di dalam pondok, hanya untuk berjaga-jaga jika kita tidak menemukan makanan apapun di sini."
"Ibu benar-benar jahil," kataku lemas.