Iam Come Back

Iam Come Back
Tamu yang terhormat


Mereka pergi dan meninggal Arya dan lainnya, Arya pun berkomentar, “Dasar manusia sombong, lihat saja nanti kalau tau undangan kita.”



“Om, kalian liat deh, mereka gak akan bisa masuk walaupun sampai memohon-mohon.” Kata Max



Pintu masuk Star Villa dijaga oleh 13 orang dari pasukan khusus. Adam dan Agung, serta rombongannya mengeluarkan lembaran undangan dan diberikan kepada yang berjaga, lalu mereka menegakkan tubuhnya disertai dengan wajah yang angkuh.



Tapi tiba-tiba penjaga berkata demikian, “Kalian dilarang masuk! Meskipun kalian punya undangan!”



“Apa maksudmu kami dilarang masuk?” tanya Agung dengan penasaran.



Agung dan yang lain mengira mereka salah dengar.



“Gak mungkin! Undangan ini baru dikasih langsung Pak Robert kemarin!” Bantah Adam.


Agung tidak mau kalah dan terus mendesak, “Ini undangan kami, cepat kasih kami masuk! Jangan macam-macam sama aku, kalau tidak aku akan menghubungi Pak Robert.” Kata Agung.


“Kalian tidak mengerti bahasa manusia ya? Kalian itu dilarang masuk! Apa perlu kami pakai kekerasan.” Kata salah satu penjaga yang tegas.


“Beraninya kalian bicara seperti itu, atasan kalian mana, saya perlu bicara.” Gertakan Agung, yang padahal tidak kenal dan tidak memiliki koneksi apapun.


‘Bletak’ Tiba-tiba sebuah senapan menghantam kepala mereka, ujung senapan yang mendorong ke kepala Agung membuatnya ketakutan dan nyaris saja kecing di celana.


Karena disaksikan oleh keluarga Veyron , Agung pun memberanikan diri dan mengatakan “Coba sini kalau berani! Cuma tentara doang sudah berani sama saya.”


‘Duar!’ suara tembakan dan juga 1 peluru dari senapan itu menuju ************ Agung.


Kali ini Agung benar-benar kencing di celana! Terdapat cairan kuning yang merembes keluar dari celananya, semua yang ada disitu juga ketakutan.


“Cepat kalian pergi!” seru tentara itu.


Lantas mereka pun menyeret Agung dan kabur.


“Benar apa yang kau katakan tadi, mereka tidak bisa masuk walaupun ada undangan dan mereka diusir.” Kata Arya yang juga ketakutan setelah melihat kejadian barusan.


Max hanya tersenyum dan mengatakan, “Ayo kita masuk!”


“Jangan! Kamu nggak takut mati ya? Bahkan tuan Agung aja gak boleh masuk apa lagi kita, tapi kita juga dapat undangan yang berupa VIP dan perlu dicoba dulu deh kayaknya.”


Mereka berjalan menuju pemeriksaan, ketika mereka berempat tiba di tempat pemeriksaan, Lara berkata sesuatu, “Biarpun mereka keluarga Veyron, mereka sudah diusir sama kakek Adam. Mereka tidak ada hubungan apa-apa sama kita lagi!”


‘Terserah lah mau mati hari ini juga tidak masalah, masih lebih baik dari pada menanggung malu’ guman Alena dengan suara yang lirih dan pemikiran kedua orang tuanya juga sama.


Adam dan yang lainnya tidak langsung, mereka bersembunyi dari kejauhan untuk melihat apa yang akan terjadi bila orang yang punya undangan aja diusir apalagi yang tidak punya seperti mereka.


Alena dan kedua orang tuanya mengeluarkan dan memberikan undangan VIP itu ke penjaga, undangan tersebut ada tulisan VIP. Setelah diberikan, penjaga tersebut mempersilahkan masuk.


“Nona Alena dan keluarga silahkan masuk! Kalian tamu yang terhormat, terutama Tuan Max.”


Alena membuka matanya dan mendapati 13 tentara yang berjaga membentuk 2 barisan dan memberi hormat kepada mereka.



Adam dkk, yang memantau dari kejauhan pun tercengang keheranan. “Mereka kok punya undangannya? Undangan itu juga ada tulisan VIP nya, mereka dapat dari mana? Dan mereka kok bisa masuk, sedangkan kita malah diusir?”



Sejujurnya Alena dan kedua orang tuanya sangat puas pada saat mereka melihat ekspresi keluarga Veyron dan Wijaya yang tampak syok.



Arya melihat sekeliling masih tidak percaya dengan apa yang tadi dilakukan para tentara, “Ini sudah masuk? Max, kok bisa begini? Sampai-sampai tentara tadi menghormati kita.”



“Max, dulu kamu pasti punya koneksi ya disini, sebelum diusir dari rumah?” ucap Nanda.



“Iya tante, aku ada temen. Yang kemarin aku hubungi pada saat pulang ke rumah om tante.” Jawabnya Max.




Di villa itu mereka sangat berhati-hati jangan sampai di tempat seperti ini mereka menyinggung siapapun.



“Nggak salah lihat, kan? Alena kamu juga ada di sini?”



Seketika terdengar suara dari belakang, Alena menoleh ke mereka dan menunjukkan ekspresi jijik.



Keempat pria itu berpakaian sangat rapi dan penampilannya juga terlihat menawan. Pria yang menjadi pemimpin diantara keempat orang itu adalah Samuel Robinson, ia adalah salah satu pimpinan anak perusahaan Nardo Group.



Dia sudah sangat lama menyukai Alena, bahkan dulu pernah menawarkan uang agar Alena mau tidur dengannya. Tapi Alena menolak, tidak berapa lama kemudian Samuel menawarkan beberapa aset juga agar Alena segera menikah denganya.



Akan tetapi, Alena juga menolak tawaran itu. Alhasil Samuel jadi kesal dan membuat perusahaan papanya Alena mengalami berbagai masalah sebagai wujud balas dendam, padahal saat itu perkembangan perusahaan papanya Alena sangat baik.



“Kenapa kalau aku juga bisa ada di sini? Tanya Alena.



“Ini sahabatmu yang dulu punya skandal sama asistenya itu ya? Apa dia yang bawa kamu masuk?” tanya Samuel sambil memerhatikan Max.



Samuel mendekat ke samping Alena dan bergurau, “Aku nggak peduli gimana caranya masuk, tapi aku bisa bikin sahabatmu ini lebih menderita dari apa yang sebelumnya terjadi.”



Alena sendiri cukup yakin Samuel bisa melakukannya karena dia memang memiliki kesanggupan itu, “apa mau kamu?”



“Asal kamu mau tidur sama aku atau menikah sekaligus, aku janji gak akan nyusahin dia! Kalau nggak ya, kamu akan mengerti sendirikan?” jawab Samuel.



“Jangan harap!” mati pun Alena tidak akan menyetujui syarat Samuel.



“Oke, kalau begitu kamu tunggu saja!” ucap Samuel dengan tersenyum sinis dan pergi meninggalkan mereka.



“Alena, kamu kenapa? Yang tadi itu siapa?” tanya Max yang melihat wajah Alena pucat.



“Gak ada apa-apa!” namun Alena tahu Samuel tidak akan berhenti sampai di situ aja.



Di tengah kegelisahannya itu tiba-tiba ada segerombolan orang mengerumuni mereka berempat. Mereka adalah pasukan khusus yang belum mengetahui siapa itu Jenderal Dragon Lord.



Masing-masing dari mereka menodongkan senjata mereka ke arah Max dan Alena serta kedua orang tuanya, Alena dan orang tuanya begitu heran dan sangat ketakutan.



Alena mulai menggenggam erat tangan Max dan wajahnya menjadi sangat pucat, mereka tahu ini adalah balasan dari Samuel.



Pemimpin mereka yang mengenakan seragam pasukan khusus warna hitam dan memandangi Max dengan tatapan yang tidak bersahabat, “Pak Samuel, mereka orangnya?”



“Benar! Apalagi yang itu, sudah 6 tahun nggak kelihatan di kota S, tiba-tiba muncul di acara pesta ini? Saya curiga jangan-jangan dia punya motif tersembunyi! Kalau sampai dia mengacaukan pesta ini, kamu yang tanggung jawab...”