
Alena tersenyum dan berkata, “Sepertinya kalian yang memanggil orang-orang itu?”
“Mana mungkin? Bukan kami! Karena Max menghajar mereka, barulah melapor pada kami! Cepat kalian minta maaf! Kalau tidak, orang-orang itu akan menghukum kita. Kalian yang berbuat, kalianlah yang harus menanggungnya sendiri!” Lara terdesak.
“Hehe,” Alena tertawa sinis, firasat Alena sudah benar. Kalau masalah ini semua adalah ulah dari keluarga Veyron. Dan akhirnya ingin membuat mereka yang minta maaf?
Alena berbalik dan pergi, tapi Lara dan Daniel menghadangnya di depan.
Saat ini, sekelompok pekerja yang mengenakan helm keamanan berlari ke arah mereka. Pemimpinnya adalah Joan, “Ada apa, bos Alena?” tanya Joan.
“Hah, mau apa kamu pekerja rendahan?” Daniel mendorong Joan.
Tetapi setelah Joan melepaskan helmnya, Lara dan Daniel sangat terkejut.
“Tu-tuan Joan ... kenapa kamu?” kedua orang itu tidak percaya.
“Hajar mereka!” Joan memerintah dan banyak orang maju untuk menghajar Lara dan Daniel.
“Bos Alena tenang saja! Selanjutnya aku akan mengawasi lokasi konstruksi. Siapa pun tidak boleh berlaku tidak sopan!”
Keluarga Veyron akhirnya mengetahui bahwa Joan dan Max pernah bertemu di suatu tempat, menebak bahwa mereka memiliki hubungan persahabatan.
Dengan cepat sampai hari liburan musim panas hampir usai.
Viola menelepon, mengingat Max untuk ikut dalam reuni.
Max turun dari apartemennya. ketika sampai di pintu masuk, Max melihat Viola berjalan keluar dari pusat penjualan yang tidak jauh. Max melambaikan tangannya.
Viola lalu mengemudi mobilnya menghampiri Max, mobil yang dikemudi Viola adalah mobil BMW yang seharga 2 miliaran, calon suaminya tidak bisa sembarang orang.
Kemungkinan besar adalah pengurus perusahaan milik negara atau asing, wanita seperti ini tidak bisa bersama dengan orang biasa.
Viola berinisiatif turun dari mobil, bertanya dengan tawa di wajahnya, “Aku kira kamu udah berangkat duluan?”
“Haha, nih baru mau berangkat, eh malah ketemu kamu di sini.”
“Oh, bagaimana kalau kamu pergi bersamaku?” Viola mencoba menawarkan.
“Baiklah.”
Tadinya Max hendak memanggil Max untuk mengirim mobil, lalu melihat Vioal yang membawa pergi. Tentang Max yang tidak mengemudu, Viola menganggap Max sedang tidak bisa.
Lagi pula orang yang menyia-nyiakan 240 miliar begitu saja, bahkan jika dia mengendarai mobil mewah senilai 300 miliaran, itu tidak terlihat aneh.
“Apa yang terjadi setelah kamu diusir dari rumah, bahkan menghilang selama 6 tahun?” di dalam mobil, Viola bertanya karena penasaran.
Max terkejut, karena mendengar pertanyaan.
“Begini, setelah aku diusir dari rumah, aku pergi ke suatu tempat selama 6 tahun ini.”
“Bisnis apa yang kamu lakukan belakangan ini?” Viola meskipun mengemudi, tapi pandangannya tetap terkunci pada Max.
“Penjual senjata militer ...” Max menjawab.
Beberapa tahun terakhir, dia paling banyak berurusan dengan senjata. Tidak berlebihan untuk mengatakan bisnis ini.
“Pantesan!”
Queen Hotel.
Ini adalah tempat diadakannya reuni, meskipun tidak semewah Relax Dine, tetapi satu meja bisa sekitar 50 jutaan. Terhitung sebagai spesifikasi super tinggi.
Di depan pintu masuk hotel, ada beberapa pemuda berpakaian rapi yang sedang menyambut. Melihat BMW milik Viola datang, semua orang mendekat.
“Eh, bukankah ini gadis Primadona? Aku dengar dia menghasilkan miliaran dalam setahun, ternyata itu kabar fakta! Lihat BMW itu!” beberapa murid laki-laki memuji.
Viola tersenyum canggung.
Tetapi ketika pintu lainnya terbuka, semua orang melihat Max. Seketika, ekspresi semua orang membatu. Pertama, semua orang tidak menyangka Max akan datang. Kedua, semua orang lebih tidak menyangka Max bisa datang bersama Viola.
“Bukankah itu Max? Pria terkenal pada saat itu!”
Ada laki-laki dengan berpakaian rapi, Simon Joe. Dia adalah orang bepengaruh pada saat itu. Namun, ia selalu kewalahan oleh Max dan selalu menganggap Max sebagai saingannya.
Simon juga masuk ke perguruan tinggi 980. Setelah lulus, dia bekerja di perusahaan asing. Konon pendapatannya dari awal sudah miliaran. Dia mengemudi Rubicon, masuk daftar sepuluh besar.
Max hanya tersenyum, tanda memberi salam.
“Max, kami semua mengira kamu tidak akan datang.” Beberapa temannya itu berkata dengan ekspresi terkejut.
Simon memandang Max rendah dan berkata, “Max, bukanlah orang yang seperti itu, tidak mungkin karena masalah itu dia tidak akan datang.”
Tak disangka dia ternyata datang!
“Ya benar, Max sangat kuatk. Bahkan kami tidak bisa menandinginya!”
Beberapa murid lainnya berkata sambil tertawa. Sebenarnya maksud mereka adalah bahwa Max tidak tahu malu! Simon melewati Max dan datang ke hadapan Viola.
“Viola, akhirnya kamu datang. Cepat bersamaku, semua orang sedang menunggumu.”
Simon punya perasaan pada Viola, ditambah lagi dia juga sudah punya kemamuan. Mendengar Viola masih lajang, dia khusus mengadakan ini. Semua orang mengelilingi Viola, tetapi mereka mengabaikan Max.
“Ayo ...” Viola menghentikan langnya, dan mengajak Max. Lalu Max mengikutinya.
Lantai empat Queen Hotel.
Sudah banyak orang yang datang, beberapa orang ada yang membawa isri dan suaminya. Ada lebih banyak orang dari yang diharapkan.
Sekali Viola datang, semua orang berdiri. Para lelaki menggila, Viola dulu adalah idaman di sekolah. Sekarang profesinya semakin berhasil membuatnya lebih bersinar.
Max sedang mencari tempat duduk.
“Wah, siapa yang aku lihat ini? Max!” ucap seorang laki-laki itu yang bernama Brian.
“Iya, benar itu Max! Dia sungguh datang ke acar ini!” Dalam sekejap, perhatian semua orang tertuju pada Max.
Orang terkenal di masa lalu yang tak terkalahkan di masa sekolah, dan usaha menjadi nomor satu di dunia bisnis. Yang membuat siswa perempuan kagum, dan siswa laki-laki pun iri.
Akan tetapi, setelah terkena kecelakaan yang dibuat oleh rumah tangga Rony. Max menjadi seperti gelandangan, yang menerima kutukan dari semua temannya.Betapa gilanya untuk menahan Max sejak awal, tapi sekarang memakinya dengan sangat kejam!
“Haha, sudah kubilang, Max pasti kena masalah! Kalian masih tidak percaya!”
“Benar juga, Max adalah orang yang sangat bruntal. Asistennya sendiri dijebak dan melakukan hal yang terpuji itu!”
Ini adalah perbincangan yang dibahas ketika Max belum masuk.
Simon dan yang lainnya terus tidak senang akan Max, bisa dibilang karena cemburu. Tetapi belum ada kesempatan yang baik untuk melampiaskan, jadi tidak akan melepaskannya sekarang.
“Hahaha ...” Semua orang tertawa, mereka menatap Max dengan pandangan yang mengejek dan menghina.
“Aku dengar kamu baru kembali ke kota S selam 6 tahun ini, kamu juga tidak punya pekerjaankan? Dan sekarang kamu tinggal dimana setelah diusir dari keluarga Setiono? Kolong jembatan?” ada seseorang yang sedang menyinyir.