
Aku akan menunggu dimana Tio akan menceraikan aku, lagian Tio menikahi aku karena tidak ingin merasa malu, dengan kata lain ia hanya terpaksa menikahi aku.
Keysia menghembuskan napasnya pelan, setelah beradu dengan pemikirannya sendiri, hingga ia di kejutkan oleh suara Max yang tiba-tiba berbicara di dekat telinganya.
"Aku lapar" ucap Max pelan di dekat telinga Keysia.
Hingga membuat Keysia melompat, bukannya melompat menjauh, namun justru ia melompat mendekat ke arah tubuh Max hingga membuatnya hampir terjatuh jika saja Max tidak segera menangkap tubuhnya, membuat mata mereka saling bertatapan.
Manik ungu itu kembali menatap manik coklat milik Max, Keysia bisa melihat ada sebuah beban besar yang bisa terbaca di bola mata Max, sementara Max bisa melihat bola mata ungu terlalu indah untuk ia lihat.
Menyadari apa yang tengah terjadi di antara mereka berdua, dengan segera Keysia melihat ke arah lain sambil berkata.
"Aku akan menyiapkan makan malam untukmu." Max melepas tangan yang memegang pinggang Keysia dan membiarkan gadis itu melakukan apa yang ingin ia lakukan.
"Makanannya sudah siap Tio," panggil Keysia karena saat ini Max tengah duduk di depan jendela kamarnya.
Max beranjak dari duduknya masuk, ke dalam kamar berjalan menuju arah dimana Keysia telah menyiapkan makan malam untuknya.
"Kamu tidak ikut makan malam bersamaku?” tanya Max ketika melihat piring yang Keysia siapkan hanya satu untuk dirinya saja.
Max beralih melihat ke arah Keysia yang kini tengah sibuk melipat pakaian yang telah kering di atas tempat tidur.
"Aku belum lapar, nanti aku akan makan sendiri, makanlah terlebih dahulu."
Max mengerutkan dahi mendengar ucapan Keysia, tidak biasanya Keysia menolak makan malam bersamanya, karena selama mereka tinggal bersama hingga menikah mereka berdua selalu makan bersama.
Namun kenapa kali ini ia tidak ikut makan bersamaku? Apa ada sesuatu? Entahlah.
Keysia merasa ia merasa sangat kesal dengan Max, bahkan untuk berbicara saja ia merasa tidak ingin, namun menjawab pertanyaan Max membuatnya harus berbicara dengannya, ia tidak tau kenapa ia merasa kesal seperti terhadap Max.
Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku merasa sekesal ini kepada Tio? Padahal Tio kan tidak memiliki kesalahan apapun, tapi mendengar ucapan yang ia lontarkan di dalam kamar Rezaldin membuat aku merasa sangat kesal dan marah, bahkan aku merasa ingin berteriak di depan wajah Tio.
Keysia terus diam, ia tidak akan berbicara jika ia tidak mendapat pertanyaan dari Max, hingga membuat Max benar-benar merasa sangat bingung melihat sikap yang Keysia nampakkan di tambah Keysia memilih tidur melantai ketimbang tidur di sampingnya.
Kenapa sikap Keysia berubah seperti ini? Apa ada yang salah? Apa ada kata-kata yang aku katakan membuatnya tersinggung? sehingga ia mendiamiku seperti ini.
"Key, Keysia, kamu sudah tidur?" tanya Max dari atas tempat tidur.
Tidak ada jawaban atupun tanggapan dari Keysia.
"Sudah tidur ya?" tanya Max lagi.
Keysia masih bisa merasakan usapan lembut pada rambutnya, hanya saja rasa kesal di dalam dirinya masih ada, hingga ia hanya terdiam ketika Max mengusap pelan rambutnya.
Cukup lama Keysia berusaha untuk tidur, hingga akhirnya ia terlelap di lantai dimana Max biasanya tertidur sebelum mereka berdua sering tidur bersama.
**********
Seluruh lampu di dalam kamar Rezaldin telah mati, namun matanya belum bisa terpejam sama sekali, ia masih memikirkan apa yang di lakukan oleh Vina di dalam kamar HomeStay bersama dengan pemuda itu, yang tidak lain adalah selingkuhannya, jika bukan selingkuhannya kenapa mereka berdua melakukan hal itu? hal yang tidak pernah aku lakukan bersama dengan Vina selama menjalin hubungan.
Rezaldin terus memikirkan wajah gadis yang telah mengisi ruang hatinya yang hampir setahun belakangan ini, ia selalu berfikir hubungan yang ia jalin akan sampai ke jenjang pernikahan. Namun ternyata ia harus menerima kenyataan pahit jika Vina telah menghianatinya dengan cara seperti itu.
Kenapa rasanya sesakit ini? Hatiku sakit, sakit Rezaldin tidak berhenti meneteskan air matanya bahkan bantal yang ia gunakan mulai terasa basah. Karena terkena air mata yang menetes dari wajahnya hingga hampir waktunya pagi, Rezaldin belum bisa terlelap. Ia masih memikirkan semua tentang Vina, tentang gadis yang sangat dicintainya yang kini tengah mengkhianatinya.
Earr, bodohnya aku yang tidak pernah mengetahui semua ini, bahkan Tio aja tau! kalau Vina telah memiliki kekasih lain selain diriku, namun hanya menjaga perasaanku ia tidak mengatakan hal itu kepadaku.
**********
Keysia malas membuka mata, ia merasa masih ingin berlama-lama tiduran seperti ini, ia merasa sekujur tubuhnya menghangat, hingga menyadari kalau semalam ia tidur melantai.
Hem, kenapa tubuhku terasa hangat seperti ini? Tangan ini? Dada ini, astaga perasaan semalam aku tertidur di lantai, lantas kenapa aku bisa berada di atas tempat tidur, bahkan sekarang aku berada di pelukan suamiku.
Keysia membuka mata melihat ke arah depan, dimana wajah tanpan Max yang kini masih berdamai dengan mimpinya terlihat jelas di depan matanya.
Keysia mengusap pelan wajah Max dengan senyuman menghias di bibirnya, ia merasa sangat senang menatap dan mengusap wajah tanpan suaminya ketika ia masih tertidur.
Aku tidak tau Tio, kenapa aku merasa sangat kesal dan sedih ketika mendengar ucapan kamu ketika bersama dengan Rezaldin, aku merasa kalau diriku ini tidak berarti sama sekali bagimu, aku merasa kecewa dan sakit hati mendengar semua itu.
Max yang mendapat sentuhan di wajah, mengeliat bangun, membuka matanya. Sementara Keysia yang melihat Max membuka mata dengan segera menutup mata, pura-pura tidur, agar Max tidak mengetahui kalau saat ini ia tengah terbangun.
"Selamat pagi istriku" ucap Max pelan, menempelkan bibir sejenak di dahi Keysia.
Setelah mengatakan itu, bukannya terbangun dari tidurnya, Max semakin menarik tubuh Keysia masuk ke dalam pelukannya, lalu memeluknya dengan sangat erat. Karena menurut Max ini masih sangat pagi kalau ingin bangun.
Hingga ia memilih untuk terus berada di atas tempat tidur sambil memeluk erat tubuh istrinya, Keysia yang merasakan apa yang dilakukan Max hanya terdiam, ikut merasakan apa yang Max lakukan padanya.
Tidak ada salahnya Max melakukan hal itu padaku, toh, aku ini istriya, istri sahnya, itulah yang ada di pikiran Keysia saat ini.
Max terus memeluk tubuh Keysia dengan sangat erat, hingga akhirnya Keysia membuka mata, mengingat kalau hari ini ia akan kembali ke rumahnya bersama dengan Max.
"Kenapa aku berada di sini Tio? Semalam aku tidur di lantai," Keysia menatap wajah Max yang masih memeluknya ketika menanyakan hal itu.