
Dan dia menyebutkan, ada orang lain yang terlibat dalam kejadian ini. Artinya, bukan hanya keluarga Setiono! Max maju beberapa langkah sambil tertawa dan menatap Jeffrey sambil berkata, "Hahaha ... apa kamu tidak takut kalau aku akan membalasmu?"
Jeffrey tidak mengatakan apa-apa, hanya tersenyum.
Bodyguard di belakangnya maju dan melindungi Jeffrey, tatapan mereka penuh dengan ancaman. Cukup dengan satu perintah dari Jeffrey, Max pasti akan mati.
Jeffrey sangat percaya diri, dia sama sekali tidak takut pada Joan. Jeffrey mengisap cerutunya, lalu tertawa dingin, "Joan memang sangat kuat apalagi Peter Oscar. Namun bagaimanapun juga mereka hanyalah orang biasa. Mereka bukanlah ancaman bagiku. Apalagi kamu!"
Wibawa Jeffrey sangatlah kuat, dari sini saja, Joan sudah kalah dengannya.
"Hahaha... Joan memang bukan tandingan Anda!" Max tidak pernah membual.
Max lalu duduk di sofa itu, menuangkan gelas anggur untuk dirinya sendiri, lalu berkata, "Bang lvan, 700 miliar aku tidak bisa berikan, mungkin kita harus membicarakan lagi harganya atau menukar dengan sesuatu ..."
Jeffrey melirik Max lalu tertawa dingin dan berkata, "Aku ini Jeffrey tidak pernah muluk-muluk, kamu sebutkan harga yang kamu mau atau kamu tukar dengan sesuatu yang harganya sepadan!"
“Baiklah, aku tidak perlu membayarnya! Dan juga aku tak perlu menukar apa-apa! Apabila terpaksa menukarnya, itu juga tidak apa-apa.”
“Sebenarnya, aku bisa mendapatkan rekaman video itu kapanpun jika aku mau. Tapi aku hanya ingin melakukan formalitasnya, dengan cara membeli. Akan tetapi pembelian ini menimbulkan kesalahpahaman.”
Max mengatakan sebenarnya, dia bisa mengambil rekaman video itu kapanpun jika dia mau.
Jeffrey tercengang mendengar kalimat Victor ini Bukan hanya Jeffrey, semua orang di ruangan itu tercengang!
"Brakkk!"
Jeffrey menggebrak meja dan berkata pada Max, "Kamu main-main denganku ya?! Aku akan membunuhmu!"
Delapan bodyguard Jeffrey langsung maju dan mengeluarkan senjata mereka. Pada saat yang sama, pintu ruang rapat terbuka dan ada 40 orang tentara yang masuk ke ruangan itu untuk mengepung Max dan Sebas. Mereka jelas adalah bodyguard profesional yang pernah mengikuti perang.
Jeffrey melihat Max dan tertawa, "Apakah amu ini tidak bertanya dulu pada Joan tentang diriku? Seluruh kota S tahu reputasiku, tidak ada yang berani main-main denganku! Bahkan bos nomor 1, Peter Oscar pun menaruh hormat padaku!"
"Kamu malah berani main-main denganku?! Benar-benar cari mati!" Jefrey sangat marah.
Max tertawa dan berkata, "Hahaha ... aku tidak pernah mempermainkanmu, aku benar-benar tulus tidak berniat lagi untuk membeli video itu. Sebaliknya aku tertarik untuk mendapatkan video itu dengan caraku sendiri ..."
Jeffrey dan para bodyguard-nya semakin kesal mendengar ucapan Max. Tidak berniat untuk membeli tapi berani datang ke markas mafia dan juga ingin mendapatkan rekaman video itu dengan cara dia?! Mimpi!!!
Jeffrey menatap Max dan mengatakan, "Kamu serius?"
"Ya, aku serius. Aku sudah tak ada niat lagi membeli rekaman video itu, melainkan berminat untuk mendapatkan rekaman video itu.” jawab Max sambil menganggukkan kepalanya.
Max dan Sebas hendak keluar dari ruangan itu, akan tetapi sudah dihadang oleh banyaknya tentara bayaran.
"Kalian pikir kalian berdua bisa keluar bebas dari ruanganini?" Jeffrey tertawa sinis.
"Hahaha ..." Max dan Sebas tertawa setelah mendengar ancaman dari Jeffrey.
Jeffrey merasa sangat aneh, seluruh isi ruangan tercengang.
"Apa kamu tahu? Mengapa aku bisa bertahan kokoh di kota ini?” tanya Jeffrey
“Sungguh bodoh! Aku mempunyai puluhan bodyguard yang melindungiku! Biar kuberitahukan padamu, mereka adalah tentara perang yang telah mengikuti beberapa kali perang di berbagai medan perang!”
“Kemampuan mereka tidak perlu diragukan lagi! Karena mereka lah, tidak ada orang di kota ini yang berani padaku, termasuk Peter Oscar!" Jeffrey memberitahu Max.
Sesudah mengatakan hal itu, Jeffrey menatap Max dan meraung, "Kamu bisa apa untuk melawan saya hah? Apa kamu mau mengandalkan Joan lagi? Lucu sekali!"
Max sengaja memancing keributan sebelum pergi, “Haha ... kalau itu benar, terus kenapa? Apakah aku harus takut?” tanya Max dengan raut wajah yang mengejek.
Sebas mengakui apa yang dikatakan Jeffrey memang benar, tidak perlu mafia andal untuk memeriksanya. Karena kekuatan pengawalnya.
Tidak ada seorang pun di Pulau ini yang berani menyentuhnya, puluhan pengawal yang dimiliki Jeffrey benar-benar sangat kuat.
"Apa? kamu tidak takut?! Mustahil!” ucap Jeffrey.
“Lagian hanya puluhan orang saja!” jawab Max.
“Baiklah kalau begitu. Berani datang dengan tangan kosong, hentikan mereka dan beri pelajaran yang pantas!" perintah Jeffrey dengan marah.
‘DRAP! DRAP! DRAP!’ sesuai dengan perintahnya, seluruh pengawal pun bergegas maju.
Namun, dia melihat Sebas yang berdiri di belakang Max dengan tenang melepaskan kemejanya dan hanya mengenakan rompi anti peluru. Kemudian, ketika Sebas melepaskan rompi anti pelurunya semua orang yang ada di ruangan tercengang.
Mereka dengan jelas melihat bahu, punggung, dan lengannya memiliki banyak sekali bekas luka. Bekas-bekas luka itu betul-betul rapat dan menakutkan, membuat tubuhnya tampak seakan dipenuhi dengan tato. Tidak ada kata-kata yang mampu mendeskripsikan efek kengerian yang ditimbulkan.
Seluruh pengawal Jeffrey adalah veteran yang pernah terjun ke medan perang dan mereka tahu persis apa yang telah terjadi dengan tubuh Sebas. Luka-luka tersebut ada yang ditimbulkan oleh peluru atau pecahan peluru, benda tajam, dan ada pula luka korosif yang diperkirakan disebabkan oleh zat kimia.
Bahkan mereka yang sudah berpengalaman di medan perang tidak dapat membayangkan mengapa seseorang bisa memiliki luka yang benar-benar banyak dan rapat seperti itu.
Mereka mungkin telah melalui ribuan pertempuran sehingga memiliki bekas luka yang begitu parah. Sehingga mereka menyimpulkan, Sebas pastilah seorang yang telah sering berada di medan perang.
Seorang pengawalnya memberanikan diri untuk maju berhadapan dengan Sebas.
‘DUAKK!’ Sebas dengan sekali sambar membuat pria itu terlempar jauh hingga menabrak dinding. Setelah jatuh ke lantai, dia mengejang dan tidak bisa bangun lagi.
"Serang!" Semua pengawal bergegas maju.
BAK! BUK! DUAKK!
ARGH!! Jeritan menggema di sana sini, seisi ruangan dipenuhi dengan suara jeritan
Beberapa saat kemudian, hanya tersisa Sebas dan Jeffrey ditengah ruangan. Tentu saja Max kembali duduk di sofa dan tidak bergerak.
Keempat puluh delapan pengawal khusus itu jatuh ke lantai dan mengejang. Darah muncrat di mana-mana. Benar-benar sangat mengejutkan. Adapun Jeffrey benar-benar tampak ketakutan, pemandangan itu sangat luar biasa baginya.
"Lima kekuatan besar militer Negara X, Mayor Jenderal Sebas dan Jenderal Dragon Lord.”
Tampaknya pengawal ini benar-benar mengenali mereka berdua. Bagaimana pun ada sedikit penyimpangan di sini.
Seorang pengawal bayaran yang bernama Naufal tampak berusaha duduk dengan susah payah. Kemudian dia membalik badan menghadap Max dan berlutut di hadapan Max. Tampak jelas Jenderal Dragon Lord adalah idolanya.