
Meninggalkan semua, dan menjadi orang biasa itulah yang Max lakukan saat ini, berjalan keluar dari dalam rumahnya tanpa menggunakan apa-apa, mobil mewah kesayangannya ia tinggalkan begitu saja dan memilih naik ojek untuk membawanya menjauh dari rumahnya.
"Tolong bawa aku ke stasiun kereta api,” ucap pelan Max kepada supir ojek yang membawanya pergi jauh dari rumahnya.
"Baik" jawab si tukang ojek yang belum menyadari Siapa sebernarnya yang ia ojek ke terminal, karena Max menggunakan topi sebelum ia keluar dari pintu gerbang rumahnya.
Setelah sampai di stasiun, tukang ojek yang membawa Max nampak sangat terkejut melihat wajah orang yang berdiri di sampinnya, wajah orang yang telah memberinya selembar uang seratusan.
"Tuan, tuan Max Setiono kan?” tanya pelan dan sopan si tukang ojek.
"Bukan, mungkin wajahku hanya mirip, banyak yang mengatakan hal itu," jawab Max sambil tersenyum menyerahkan uang seratusan pada si tukang ojek.
"Nggak mungkin salah, anda sangat mirip."
"Sudahlah pak, aku harus pergi ada urusan yang sangat penting yang harus aku lakukan."
"Kembaliannya."
"Ambil saja sebagai bonus."
Menghindari percakapan dengan si tukang ojek akan jauh lebih baik dari pada harus berdiri di sampingnya dan menjawab semua pertanyaannya, karena siapa yang tidak mengenal seorang Max Setiono sang Milyader terkenal di kota S tempat tinggalnya.
Bahkan semua poster dan potonya tersebar dimana-mana, dan salah satunya di stasiun yang ia datangi saat ini, potonya terlihat sangat jelas terpasang di depan pintu masuk ke falam stasiun.
Hingga akhirnya ia memilih untuk membeli masker untuk menutupi sebagian wajahnya, setidaknya menggunakan masker ini, membuat orang akan sedikit sulit untuk mengenaliku.
Fiu.. ternyata hidup di kalangan bawah ternyata tidaklah semuda yang aku fikirkan, aku akan selalu berusaha menutup wajah agar tidak ada yang mengenaliku, dan akan mencari tempat dimana seseorang tidak akan pernah tau dan mengenali siapa aku sebenarnya.
Max duduk di dalam kereta api dengan menutup wajah dengan menggunakan masker, dan tidak lupa ia membeli surat kabar, untuk ia baca selama berada di dalam kereta api, sekaligus menutup diri.
Namun tanpa di sengaja, seseorang menginjak kaki sebelah kirinya, seseorang yang tidak menyadari dengan apa yang telah ia lakukan. Orang itu duduk tenang dan santai di samping Max, ia seperti tidak menyadari apa yang telah ia lakukan saat ini kepada kaki pemuda yang duduk di sampingnya.
Orang itu menggunakan jaket kulit yang terbilang sangat besar dan menutup wajah dan kepala dengan sebuah selendang berwarna hitam, hingga orang yang melihat tidak akan mengenali. Dari cara ia berpakaian ia seperti laki-laki, namun dengan melihat selendang berwarna hitam yang ia gunakan ia seperti wanita.
Tidak ada yang tau kalau orang ini laki-laki ataupun perempuan kecuali dirinya sendiri dansang penciptanya.
Max mulai merasa kesal melihat kakinya di injak oleh seseorang yang menutup wajah, bahkah orang yang duduk di sampingnya menggunakan sarung tangan hingga Max tidak mengetahui orang itu laki-laki atau perempuan, hingga dengan kasar ia menarik kakinya dari bawah kaki orang
“Apa orang yang duduk di sampingku ini bisu? Kenapa ia tidak mengatakan apapun? Namun justru ia hanya mengatupkan tangan, ah sudahlah itu bukan urusan aku, laki-laki ataupun perempuan itu bukanlah urusanku.” Guman Max dalam hati.
Waktu terus berlalu, kereta api yang membawa Max menyebrangi beberapa gunung beberapa pulau, kini telah sampai di sebuah kota yang terbilang cukup ramai.
Orang yang duduk di sampingnya pun kini tengah turun dari kereta api dengan berjalan dengan begitu sangat tegak dan lurus.
Max ikut turun lalu berdiri di samping kereta api, melihat sekitar stasiun kereta api. Max menatap sekeliling untuk mencari seseorang untuk ia tanya soal nama kota yang ia tempati saat ini.
Karena kota ini seperti asing baginya, hingga akhirnya ia melihat seseorang yang membawa sebuah gerobak kayu, “Sepertinya orang itu baik.” guman Max pelan.
Max mulai berjalan ke arah orang yang membawa gerobak tersebut lalu berkata.
"Maaf, apakah saya bisa tau nama kota ini?" tanya Max pelan tanpa membuka masker yang menutup wajahnya.
"Namanya kota C tuan."
"Terimakasih, oh iya, apakah di sekitar sini ada hotel? Em, maksud saya rumah kontrakan yang bisa menampung satu orang."
Max mungkin lupa dengan apa yang tengah ia lakukan saat ini, hingga tanpa sengaja ia menanyakan soal hotel bukan menanyakan soal rumah kontrakan yang akan ia tempati untuk menginap.
"Kamar kost? Ada di samping rumah aku, kalau rumah kontrakan adanya di dekat pabrik, tempat aku bekerja, jika anda mau saya bisa membawa anda untuk melihat kost atau pun rumah kontrakan, dan kalau boleh saya tau nama tuan siapa?"
"Namaku Ma..," ucapan Max terhenti ketika ia mengingat apa yang ingin ia lakukan saat ini, menjadi orang biasa adalah tujuan utamanya dan mencari apa yang akan membuatnya bahagia. "Panggil saja Tio, iya namaku Tio"
Nama Tio yang dipakai Max saat ini berasal dari nama keluarganya ‘Setiono’, yang diambil tengahnya menjadi Tio.
"Kalau nama aku Rezaldin, biasa di panggil Reza. Ayo Tio kita pergi melihat kost yang ada di samping rumahku dan jika kamu menyukainya, kamu akan tinggal bersebelahan kamar denganku," ucap Reza dengan wajah yang terlihat nampak senang, mungkin karna mendapat teman baru sehingga ia merasa sangat senang.
Pemuda yang hampir seumur dengan Max yang bernama Rezaldin terlihat nampak sangat senang, ia seperti menemukan teman baru yang seumuran dengannya.
“Semoga saja pemuda ini mau tinggal di kost tempat aku tinggal, agar aku ada temannya di saat pulang bekerja. Di sana aku juga hanya tinggal sendiri, cuman yang jadi masalahnya di dalam kamar aku hanya muat satu orang jadi aku ngak bisa berbagi dengannya.” Guman dalam hati Rezaldin.
Max ikut berjalan di samping pemuda yang bernama Rezaldin, sambil membantunya menarik gerobak yang tengah ia tarik. Di dalam perjalanan menuju tempat kost yang Rezaldin tunjukkan, Max tidak berhenti bertanya-tanya soal kehidupan di kota C ini.
Max mengaku kepada Rezaldin sebagai perantau yang ingin mencari sesuap nasi untuk kehidupannya ke depan. Dan tentu Rezaldin dengan senang hati menjelaskan semuanya, bahkan Rezaldin berencana akan mencarikan pekerjaan untuk Tio di pabrik tempat ia bekerja sebagai buruh.