Iam Come Back

Iam Come Back
Akuisisi


“Oh iya? Kok akunggak tahu, kalau ada peraturan kayak gitu?”


Sebenarnya Max memang sungguh tidak tahu itu. Dia hanya tahu kalau restoran itu sangat terkenal, tapi dia tidak tahu apa-apa soal peraturan tidak jelas itu.


“Sebenarnya Bos Relax Dine itu bokapnya senior aku, makanya aku bisa tahu peraturannya. Senior aku juga sudah berkali-kali ngajak aku makan di sana, tapi aku nggak pernah sekali pun terima ajakan dia! Aku kan cewek baik-baik!” Jelas Kelly.


“Oh, tapi ngapain kamu jelasin ke aku? Ayo cepat kita naik, bodo amat sama peraturan mereka.”


Lantas Max dan Kelly pun masuk ke dalam S Center. Relax Dine terletak di lantai 90.


Setibanya di restoran, mereka langsung disambut oleh 10 orang pelayan, “Permisi tuan dan nona, boleh lihat kartunya?”


Seorang pelayan yang bertanya mengira Max dan Kelly datang ke sana untuk bersantap.


“Bukan, aku datang untuk booking tempat ini! Waktunya besok Lusa dan juga aku mau booking seisi restoran ini!” ucap Max.


Kelly yang berdiri di samping terpana melihat Max dan berpikir, ‘Haha, sultan mah bebas!’


“Mohon maaf tuan, mungkin tuan dan nona belum mengerti peraturan restoran kami. Tuan harus booking satu bulan lebih awal dengan melalui website kami, atau tuan tidak akan dilayani!” jelas pelayan itu dengan sabar.


“Hah? Peraturan? Bodo amat! Kamu nggak ngerti ya aku ngomong apa? Lusa aku mau booking satu restoran ini!”


“Uhuk uhuk ...” asap rokok Max mengenai wajah pelayan.


Rokok yang Max isap adalah rokok khusus anggota militer yang sangat menyengat tenggorokan hanya dengan menghisap satu batang saja sudah bisa membuat area sekitarnya mengepul lebat.


Rokok semacam itu sangat mudah memberikan persepsi yang salah kalau itu adalah rokok murahan, ditambah lagi pakaian yang Max kenakan terlihat sangat sederhana.


“Woi, ini bukan tempat untuk orang sepertimu! Mengacau aja! Lagian memangnya kamu tahu berapa harganya kalau mau booking satu restoran seharian? Mungkin seumur hidupmu juga tidak akan mampu!”


Sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, Max bertanya pada mereka, “Wah, memang berapa harganya?”


“Aku kasih tau kamu ya, tapi jangan pinsan di sini! Kamu dengar baik-baik, 1 hari sedikitnya 15 miliar! Kamu sanggup kagak?”


“Hahaha ...” Max tertawa keras.


Max segera mematikan putung rokoknya setelah dia selesai merokok, dan mengatakan, “Seharian Cuma 15 miliar?” 15 miliar bagi Max sungguh nominal yang sangat kecil.


“Apa-apan kamu? Rokok sekotak aja nggak lebih dari 30.000 saja banyak gaya! Pergi sana!”


Ketika Max baru mau mengeluarkan dompetnya dan mengambil Black Card untuk membanyar DP, tiba-tiba erdengar suara teriakan seseorang, “Siapa yang berani membuat onar di sini? Aku mau lihat dari keluarga mana mereka!”


Kedatangan suara tersebut diiringi dengan kemunculan seseorang. Dia adalah Jordan Hilbert, anak dari pemilik Relax Dine, yang juga senior yang tadi dikatakan Kelly.


Di dalam ruang lingkup pergaulannya, Jordan dikenal sebagai si playboy tiada tanding alias playboy kelas kakap, bahkan akhir-akhir ini dia juga berhasil menggaet seorang selebritis.


“Eh? Kelly, kenapa kamu ada di sini?” tanya Jordan yang terkejut saat melihat Kelly berada di belakang Max.


“Apa kabar, kak Jordan!” sejujurnya Kelly sedikit takut dengan Jordan.


“Dia adik kelasku! Kalau dia booking tempat harus langsung dikasih, ngerti kamu?” Jordan mengatakan ke salah satu pelayan.


Ketika mendengar perkataan dari pelayan itu, barulah Jordan menilik Max dan kemudian bertanya pada Kelly, “Kelly, om ini siapa?”


Baru saja Max akan mengatakan sesuatu, tiba-tiba Kelly lebih dulu mengatakan, “Kak Jordan, aku lupa kenalin. Ini kakakku!”


“Kakakmu? Bukannya kakakmu itu Cuma 1 yaitu Alena?”


“Iya, kak Alena punya sahabat yaitu kak Max. Berarti kak Max juga kakakku! Bahkan tadi sebelum ke sini, aku pergi ke Apartemennya”


Max pun mengangguk, karena benar kenyataannya seperti itu.


“Kelly, aku sangat kecewa banget sama kamu! Memang apa bagusnya dia? Cuma dihasut kata-kata manis kamu langsung pergi ke Apartemennya? Kamu murahan banget sih mau saja sama om-om!” teriak Jordan yang marah.


Mendengar itu Max pun jadi murka. Barang siapa yang berani menghina adik sahabatnya, maka dia harus mati!


“Udah cukup! Kak Jordan, lusa kami mau booking satu restoran, apa perlu kami tambahin 2 kali lipat deh! 30 miliar!” ucap Kelly.


Mendengar Kelly bilang begitu, Jordan pun tertawa, “Kayaknya kamu banyak duit juga ya! Dari mana kamu uang segitu? Merampok? Aku buat peraturan baru deh, anjing dan mereka berdua dilarang masuk!”


Kelly langsung marah ketika mendengar ucapan Jordaan, “Jordan maksud kamu apa? kamu mau balas dendam ya?”


“Iya, aku sengaja! Lagian restoran punya keluargaku, sesuka aku mau ngelayani siapa!” bahkan Jordan juga meludah ke arah kaki Kelly.


Sayangnya Kelly juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena keluarga Jordan juga kuat, mau bagaimana juga membuatnya goyah?


Max bertanya sekali lagi padanya dengan dingin, “Aku mau tanya lagi untuk yang terakhir kali, mau melayani aku apa nggak?”


“Hah? Percuma kamu tanya, jawabanya ya nggak akan! Seumur hidup pun aku nggak akan melayani kalian!”


Max langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang, “Dalam 10 menit aku mau lihat kontrak akuisisi Relax Dine di S Center dan ganti pemiliknya jadi Alena Veyron!”


“Hahaha ...” Mereka semua tertawa saat mendengar Max bilang begitu, di mata mereka Max tidak ada bedanya dengan orang idiot.


Bahkan Kelly juga hanya menundukkan kepalanya, Kelly merasa kelakuan Max sudah berlebihan. Bagaimanapun juga rantai usaha kuliner keluarga Hilbert sudah tersebar di seluruh kota S.


Dan juga kekayaan mereka begitu besar tidak tertandingi, mengakuisisi restoran ini hanya dalam waktu 10 menit adalah hal yang mustahil!


Kelly menarik baju Max dan berkata padanya, “Kak Max, kita pergi saja. Booking restoran lain saja!”


“Jangan! Aku tertarik sama restoran ini! Kalau memang mereka nggak mau layanin kita, aku beli saja untuk hadiah kakakmu.”


Tepat di menit ke -9, pintu lift terbuka dan beberapa orang berjas hitam datang menghampiri Max dan bilang, “Tuan Max, ini kontraknya! Silahkan dilihat!”


Mereka semua yang ada di restoran itu tercengang melihat apa yang baru saja terjadi, Kelly pun syoksampai sekujur tubuhnya gemetar.


Apakah kak Max benar-benar melakukannya? Sungguh sulit dipercaya.


Kala itu ponsel Jordan tiba-tiba berdering, “Pa? Kenapa? Iya, aku lagi di S Center.”


Bokapnya yang berada di balik telepon itu sangat marah, “Kau sungguh anak gak berguna! Kamu nggak tahu siapa yang sudah kamu bikin marah? Restoran kita sudah tamat!”