Iam Come Back

Iam Come Back
Pembunuhan yang gagal


“Apa? Benarkah dia memiliki rekaman video pada saat mencoba membunuh Max?” seru Yaya tidak percaya.


Eko mengangguk dan mengatakan, “Itu benar! Saya sendiri telah berulang kali memastikannya, itu adalah video asli.”


“Dengan kata lain, begitu rekaman video itu dirilih, maka kita berempat akan diekspos banyak orang,” ucap Dino dengan dingin.


Erwin mengangguk, “Iya. Pada saat itu juga keluarga Setiono juga akan terekspos. Tapi tentu saja yang akan dikorbankan adalah kita semua. Kalian juga pasti tahukan Rony itu orang seperti apa.”


“Kita sudah menemui jalan buntu. Tidak ada solusi lain selain membayar uang 40 miliar itu,” kata Yaya.


“Benar, apalagi yang bisa kita lakukan selain membayar?” Erwin menanggapi dengan sedih.


“Uang yang diminta adalah 40 miliar, saudaraku. Setiap orang harus mengeluarkan 10 miliar. Apakah kalian bersedia mengeluarkannya?” Eko mengingatkannya.


“Kita dulu gagal membunuhnya, kalau kita melakukan pembunuhan terhadapnya lagi. Dan jika gagal lagi, maka kita terusik masalah ini selamanya.” Ucap Dino.


Mereka berempat berpikir cukup lama dan hasilnya mereka tidak punya cara lain selain membayar. Mereka berempat sudah sepakat masing-masing mengeluarkan uang 10 miliar untuk membayarnya.


Keesokannya, kurang 2 jam lagi waktu yang telah ditentukan Max.


Max menghubungi Eko dan bertanya, “Bagaimana?”


“Ini kami sudah sepakat membayar 40 miliar untukmu!” jawab Eko.


“Kerja bagus! Oh iya, mereka bertiga belum membuat rekaman video pengakuannya.”


“Baiklah, saya akan mengatakan pada mereka.” Ucap Eko.


Transaksi telah selesai dan pengumpulan bukti sudah lebih dari cukup. Bukan hanya bukti rekaman video saja, bukti lainnya juga sudah disiapkan. Misalnya, bukti palsu yang dituduhkan ke Mark soal penggelapan dana klien dan lain-lain.


Di sisi lain, keluarga Setiono saat ini telah melihat gerak gerik Max.


“Pa, bagaimana kalau aku mengusulkan untuk membunuh Max sekali lagi, bagaimana?” usul Luis.


“Oke, tapi bagaimana rencanamu?” tanya Rony.


“Kita panggil Max ke suatu tempat lalu membunuhnya dengan menyuruh anak buahnyaPeter Oscar.” Sisi kejam Luis pun muncul.


“Baiklah, lakukan saja!” ucap Rony.


Setelah semuanya diatur dengan baik, barulah malamnya untuk memancing Max keluar, dan membunuhnya.


Malamnya Max dan Sebas pun datang, 5 anak buahnya Peter Oscar menyambut kedatangan mereka di sebuah tempat.


“Oh, kamu yang namanya Max. Kenapa bos menyuruh kita untuk membunuh orang seperti ini?” ucap salah satu anak buah itu.


“Wah, kalian diutus untuk membunuhku? Siapa yang mengutus kalian?” tanya Max.


“Emang siapa kamu? Beraninya kamu bertanya seperti itu?”


“Kenapa tidak boleh bertanya?” ucap Max.


“Max, kamu tidak perlu berjuang lagi. Di sini sudah ada 5 orang untuk membunuhmu, bagaimana pun kamu tidak bisa lari lagi!”


“Lalu kenapa kalau ada orang-orang seperti kalian? Emang kalian pantas untuk membunuhku?” tanya Max dengan dingin.


“Brengsek kau Max! Ayo kita bunuh orang ini!”


Mereka berlima bergegas maju untuk membunuh Max, Max dengan segera menjetikkan telunjuknya. Kemudian terjadilah sebuah ledakan tidak jauh dari tempat itu. Puluhan orang bergegas menuju ke arah orang berlima itu.


Dalam sekejap, 5 anak buah Peter yang ditugaskan untuk membunuh Max pun tewas dalam genangan darah.


Lalu sebas bertanya, “Pak, mayat-mayat ini diberesin kemana?”


Hari berikutnya, pagi-pagi sekali.


BAMM!!


Tiba-tiba ada sebuah suara berdebum kencang yang mengguncang kediaman utama keluarga Setiono. Suara ini tentu saja membuat seisi rumah kaget.


“Ada apa ini? Apa yang telah terjadi?”


Ketika mereka membuka pintu masuk rumah, terkejut dan takutlah mereka semua. Ada 5 peti mati di depan pintu, dari dalamnya tampak merembes cairan kental warna merah seperti darah.


Penjaga keamanan mereka hanya memandang 5 peti mati itu dengan hati-hati. Tidak ada satu pun yang berani melangkah maju untuk memeriksanya, dan tidak ada yang bisa menebak apa gerangan isi peti mati itu.


“Siapa yang berani mengirimnya ke sini?! Raung Rony.


Selama bertahun-tahun, tidak ada satu pun yang berani memprovokasi keluarga mereka sampai seperti ini. Apakah orang yang mengirimnya mau mencari mati?”


Rachel berkata dengan sedikit ketakutan, “Pa, apa mungkin ini Max yang mengirimnya! Dia datang untuk memperingatkan kita!”


Tapi tidak ada seorang pun dari mereka yang berani melangkah maju.


Luis ragu-ragu sebentar dan akhirnya dia maju untuk membuka kelima peti mati itu hingga terbuka. Mereka semua terkesiap ketika melihat kelima mayat di dalam peti mati.


Luis sekilas mengenali mayat-mayat tersebut dan berseru, “Mereka adalah anak buahnya Peter Oscar yang ditugaskan untuk membunuh Max!”


“Apa?”


Ekspresi semua orang berubah.


“Sepertinya Max memiliki keahlian yang bagus. Bagaimana mungkin dia bisa membunuh mereka berlima? Aku akan menghubungi Peter,” kata Luis.


Segera setelah itu, Peter datang ke kediaman utama keluarga Setiono untuk mencari tahu situasi tadi malam. Tak lama kemudian Peter dan orang yang di rumah itu mengetahui kalau Max tidak melawan dengan sendirian.


“Pantas saja anak buahku kalah, ternyata Max membawa banyak orang.” Ucap Peter.


“Kurang ajar Max! Beraninya dia mengirim mayatnya ke sini!” kata Rony dengan marah.


“Kalian harus berhati-hati, saya masih banyak orang hebat yang bisa membunuh Max sialan itu. Masih ada waktu, saya bisa mengundang mereka!” ucap Peter.


Luis segera tersenyum dan berkata, “Bagus sekali! Dengan begitu, setelah meninggal pun jasadnya sendiri tidak akan dikubur dengan tenang!”


“Haha ... sebentar lagi. Aku benar-benar ingin melihat, kejutan apa yang akan diberikan oleh Max itu,” kata Rony pada istrinya sambil tersenyum penuh kemenangan.


Peter menyeringai, “Saya juga berharap waktu dapat berjalan lebih cepat!”


Di sisi lain, Max berada di rumahnya bersama keluarganya. Tak lama kemudian, Max menghubungi Sebas.


“Sebas, kamu hubungi para penjabat tinggi di kota S, dan serahkan bukti-buktinya kepada mereka! Pastikan semua orang yang terlibat pada rencana pembunuhan dan tuduhan terhadap tuan Mark untuk di penjarakan!” perintah Max.


“Baik! Jenderal,” jawab Sebas dengan tegas.


Setelah menutup teleponnya, Max bertemu kedua orang tuanya dan mengatakan, “Pa, Ma, Rena, jangan khawatir sebentar lagi kita akan kembali ke rumah utama.”


“Tapi bagaimana caranya nak? Kamu nggak berniat untuk mencelakai mereka kan?” tanya Lula.


“Tenang saja ma, aku adalah orang yang hidupnya lurus sama sekali tidak pernah memilliki inisiatif untuk melakukan kejahatan.”


“Justru orang lain lah nyang melukaiku, menghinaku, bahkan sempat membunuhku tapi gagal. Mereka juga merampok segala-segalanya dari kita, bagaimana mungkin aku bisa diam saja menanggungnya?”


“Kalian juga paham sifatku kan, aku tidak pernah mengambil barang orang lain, tapi mereka harus membayar apa yang mereka ambil.” Ujar Max.