
Max tersenyum, dia malah sangat menantikan datangnya hari itu. Kesabarannya pada keluarga Setiono sudah habis.
Lalu Max pamit untuk pulang ke rumah. Tiba di rumah, kedua orang tua Max dan Rena merasa bersedih.
Max mendekat kepada mereka dan bertanya, “Hari ini ada apa? kok semuanya merasa sedih begini.”
“Tadi Luis datang ke sini disaat kakak tidak ada di rumah. Dia memperingatkan kita, untuk jangan macam-macam sama mereka, kalau tidak kita yang dibinasakan.” Jawab Rena.
“Hah? Beraninya mereka memperingatkan hal itu pada kita! Jangan khawatir, selama aku masih hidup, aku akan melindungi kalian!” ucap Max.
Setelah mengucapkan itu, Max pergi ke kamarnya untuk menghubungi Sebas.
Setelah berhasil terhubung pada Sebas, Max segera memberi perintah padanya, “Sebas, batalkan undangan yang 5 hari lagi dan gantikan undangan itu kalau 5 hari lagi aku yang akan datang ke kediaman Setiono.”
“Dan batalkan juga pasukannya, aku belum ingin mengungkapkan identitas sebenarnya. Serta cari semua informasi penjabat yang terlibat 6 tahun yang lalu, dan sekelompok orang yang dulu pernah mencoba membunuhku.”
“Baik Jenderal, saya akan segera melaksakan perintah!” jawab Sebas.
Tak lama kemudian, Sebas memberikan laporan berisi informasi yang diperlukan. Informasi itu juga memberikan penjelasan, berupa Video yang diambil pada saat Max dicoba dibunuh, video itu tidak sengaja ada orang yang merekamnya.
Lalu Max memberi pesan kepada Sebas, untuk menjemputnya ke rumah. Sebas pun segera datang menjemputnya.
Beberapa lama kemudian, Max keluar dari kamarnya dengan buru-buru untuk menemui Sebas, "Aku keluar sebentar.” Ucap Max pada kedua orang tuanya dan Rena.
Sebas sudah menunggunya di sebuah mobil yang terparkir di depan kompleks rumahnya.
Setelah masuk ke dalam mobil, Sebas langsung menjelaskan, "Pak, 6 tahun lalu ketika anda coba dibunuh seseorang yang diutus oleh Rony Setiono, pada saat itu juga ada seseorang yang melihat kejadian tersebut, dan merekam kejadiannya.”
Max mendengarkan dengan saksama.
“Setelah 2 tahun anda menghilang, Tuan Mark yang menurut Rony sebagai penghalang rencananya, dia membuat rencana untuk menjebak Tuan Mark. Mereka membuat beberapa bukti palsu, seperti menelan uang klien dalam hal kerja sama."
"Pada ssat itu juga, tiba-tiba ada dana sebesar ratusan miliar masuk ke rekening pribadi Tuan Mark! Uang itu milik kliennya yang diambil untuk membeli beberapa properti yang tercatat berada di bawah namanya. Dan masih banyak bukti-bukti palsu lainnya, termasuk bukti penggelapan uang kliennya."
Setelah mendengar penjelasan Sebas, Max paham benar, rumah tangga Rony sudah merencanakan ini sejak lama. Mereka tidak hanya ingin menghabisi Max, mereka juga ingin menghabisi orang-orang yang menghalangi rencana mereka.
"Saat ini, aku sudah menyuruh orang untuk mencari orang yang mencoba membunuh Anda. Mereka sedang dalam perjalanan." Ucap Sebas.
Max menganggukkan kepala dan bertanya, "Sekarang kita harus mencari siapa?"
"Ke markas mafia Grey"
"Mafia Grey ini bekerja sebagai pencari informasi atau lebih dikenal sebagai detektif yang berada di zona abu-abu. Mereka ada profesional dalam mencari info gelap. Banyak gosip dan aib artis dan sosialita kota S yang berada di tangan mereka. Pada malam kejadian yang menimpa Anda, kebetulan mereka sedang mengambil gambar di daerah situ."
Max pun langsung berkata, "Baik, kita pergi ke markas mafia Grey untuk mencari bukti."
Meskipun Max tahu rumah tangga Rony lah yang menyebabkan semua ini. Tapi Max ingin tahu dengan jelas seluruhnya, hal apa saja yang mereka rekayasa!
Sesampainya di gerbang masuk, mereka pun turun dari mobil. Setelah itu satpam memeriksa mobil dan tubuh mereka. Sebas berbisik pada Max, "Jenderal. Saya belum memberitahukan identitas Anda sama sekali."
Max mengangguk dan berkata, "Ya, baik."
Max mengamati bangunan itu, pintu masuk yang dibuat secara khusus, mungkin mempunyai fungsi anti peluru juga.
Satpam di gerbang masuk sangat tegap dan profesional, pasti bukan satpam biasa. Mereka memiliki aura pembunuh, mungkin mereka adalah tentara yang pulang dari perang. Mereka memakai sarung tangan putih dan mulai memeriksa tubuh Max dan Sebas.
Setelah dipastikan tidak ada masalah, Max dan Sebas pun dipersilakan untuk masuk. Mereka memasuki halaman markas diantar oleh penjaga rumah.
Jalan masuk ke dalam markas melalui sebuah lorong yang khusus dan langsung sampai ke sebuah ruang rapat.
Di sofa ruang rapat ada seorang pria, tangan kirinya memegang gelas anggur, tangan kanannya digunakan untuk mengisap cerutu.
Di belakang pria itu, berdini 8 orang pria berpakaian jas lengkap Dari pandangan dan aura mereka, bisa dipastikan mereka adalah bodyguard profesional.
Para bodyguard itu kelihatannya jauh lebih kuat dari anak buah Joan dan Isaac. Dilihat dari warna kulit, mereka mempunyai warna kulit yang berbeda, sepertinya adalah tentara bayaran.
"Pak, ini adalah bos mafia Grey ini, Jeffrey Dione. Dia adalah orang yang paling ditakuti di kalangan artis dan bos-bos kaya." Sebas memperkenalkan Jeffrey kepada Max.
Jeffrey mengisap cerutunya dan berkata, "Max Setiono? Akhirnya kamu kembali ke kota S! Bisa berkawan dengan Joan, aku rasa sudah cukup hebat."
Max dan Sebas menatap Jeffrey sedikit kaget. Sepertinya Jeffrey memang bukan mafia biasa. Bahkan informasi seperti ini pun dia bisa tahu. Tentu saja, memang informasi ini tidak disembunyikan oleh Max.
Hanya dokumen identitas Max yang sebenarnyalah yang disimpan dengan baik dengan tingkat kerahasiaan yang super tinggi. Di dunia ini, hanya ada 1 orang yang mempunyai wewenang untuk membukanya.
Max tertawa dan berkata, "Sepertinya kamu sudah tahu tujuan kedatanganku hari ini."
Ivan tertawa dan tersenyum sinis, "Tentu saja. Kamu menginginkan video percobaan pembunuhan terhadap dirimu 6 tahun yang lalu."
"Apa bayaran yang kamu minta?" tanya Max.
"Wah! Tidak perlu basa-basi ya."
Jeffrey meletakkan gelas anggurnya, kemudian mengangkat kelima jarinya dan berkata, "700 miliar! Video ini akan kuberikan padamu!"
"Apa?!" Mulut Sebas terbuka sedikit lebar. Dia syok mendengar angka itu.
Sebenarnya nominal segitu bukanlah apa-apa, akan tetapi betapa cerobohnya Jeffrey meminta nominal segitu kepada Max. Jeffrey benar-benar tidak main-main, dia tahu benar Max akan memberikan apa saja untuk video itu.
Max tertawa dan mengatakan, "Ini sedikit mahal. Ayolah, itu hanya sebuah rekaman video, kenapa harus 700 miliar?"
"Bro, kamu tahu kan saya mempertaruhkan nyawa untuk mengambil video ini! Itu adalah keluarga Setiono! Salah sedikit jika ketahuan, aku pasti akan mati di tempat!"
"Haha ... resikonya terlalu besar, ada orang lain juga di video ini! Begitu video ini tersebar, pasti banyak orang yang akan datang membunuhku! 700 miliar bukanlah angka yang besar." Jeffrey mengatakan hal itu secara langsung.