Iam Come Back

Iam Come Back
Menghina Jenderal?


Suasana jadi ricuh, semua orang celinguk kanan kiri untuk mencari keberadaan sang jenderal.


“Kalian semua nggak perlu nyari sekarang beliau ada di mana, tapi setiap kata-kata dan tindakan kalian diketahui sama jenderal. Untuk hari ini aku yang datang mewakili sang jenderal, kalau ada apa-apa bisa hubungi saya.” Ujar Sebas.


“Apakah dia ngesih kode?” tanya Arya.


Orang lain juga mengerti apa maksudnya.


“Aku mau hadiahin beliau SportCar Unlimited Edition.”


“Kamar dagang Violetgreen hadiahin 2 batang ginseng berumur ratusan tahun.”


“Aku juga mau hadiahin sepasang mutiara.”


......


Semua orang berbondong-bondong memberikan hadiah yang mereka bawa. Hadiah yang diberikan juga sangat mengerikan. Bahkan ada juga yang memberikan 1 unit villa berharga ratusan miliar.


Kedua orang tua Alena merasa minder karena yang lain membawa hadiah kecuali mereka. Alena juga sudah ingin segera pergi dari tempat itu.


Sebas yang saat itu sedang berada di atas panggung merasa kesal melihat hadiah yang bertumpuk menggunung.


“Apa maksudnya ini?” seru sebas.


Teriakan Sebas ini membuat semuanya syok, bahkan para petinggi terutama David pun bergidik ketakutan.


“Kalian semua mau menghina Jenderal ya?”


“Gak, bukan begitu maksudnya.”


“Aku peringatin ke kalian! Jenderal paling nggak suka sama yang beginian! Kalian kayak begini sama saja gak menghormati beliau! Jadi tolong jangan berbuat ini lagi!”


Apakah Jenderal Dragon Lord terlihat seperti orang yang kekurangan harta? Sama sekali tidak. Kekayaan dan kekuasaan Jenderal Dragon Lord tak ada duanya.


“Mayor Jenderal Sebas tolong jangan marah! Kami tahu kami salah!”


“Bentar, di antara kalian ada yang nggak kasih hadiah?” tanya Sebas.


“Om, cepat angkat tangan!” Ucap Max.


Perasaan mereka menjadi jauh lebih tenang saat mengetahui bahwa Jenderal Dragon Lord tidak suka diberikan hadiah, akan tetapi tetap saja mereka tidak berani mengangkat tangan.


“Alena, kamu percayakan sama aku? Cepat angkat tangan.”


Alena mengangguk-angguk, dan akhirnya Alena meberanikan diri untuk angkat tangan. Semua orang yang hadir di pesta itu pun beramai-ramai melihat ke arahnya.


“Bagus! Dengan gak kasih hadiah itu berarti kalian menghormati Jenderal! Saya salut!” puji Sebas.


Alena secara tak sadar beranjak dari tempat duduknya saat mendengar dirinya dipuji.


“Siapa nama kamu?” tanya Sebas.


“Perkenalkan, Mayor Jenderal, namaku Alena. Ini ayahku, Arya..” jawab Alena.


“Nama kalian bakal saya ingat, kalau nanti ada apa-apa saya bakal priotasin kalian!”


Seketika itu juga semua para tamu yang hadir menatap Alena penuh iri, termasuk David.


Alena dan kedua orang tuanya pun langsung berterima kasih kepada Sebas. Mereka sama sekali tidak menyangka hal seberuntung ini datang pada mereka.


“Ya tuhan, ini semua beneran terjadi, hoki banget ya kita hari ini.” Seru Nanda.


“Ma, semua ini berkat Max! Dia yang sudah memprediksi kalau Jenderal Dragon Lord gak suka dikasih hadiah, dan dia juga yang suruh aku angkat tangan, kalau gak mah aku nggak berani.” Ujar Alena.


“Anggap saja ini keberuntungan kalian, aku Cuma minta temanku untuk menyiapkan undangan VIP nya doang.” Balas Max.


Namun Alena memberikan reaksi yang berbeda, semua yang terjadi hari ini seoalah seperti dikendalikan oleh Max. Hanya dengan satu kalimat yang keluar dari mulutnya bisa mengubah segalanya.


‘Apa jangan-jangan ini semua sudah direncanakan olehnya? Tapi kalau dipikir kembali, dia menghilang selama 6 tahun, apa mungkin seperti itu’ guman Alena dalam hati. Alena juga segera membuang pemikiran itu jauh-jauh.


Malam itu sungguh malam mendebarkan, untungnya semua berakhir dengan baik. Mereka sungguh berbahagia, apalagi sudah mengalahkan keluarga Veyron dan Wijaya dengan telak.


Mereka berempat masuk ke dalam mobil untuk segera pulang ke rumah. Max mencoba menjelaskan kenapa Max tidak diusir dari pesta itu, melainkan Samuel yang diusir.


“Alena, pa, ma, aku akan menjelaskan kenapa aku tadi nggak diusir, melainkan Samuel yang diusir. Jadi begini, biarkan aku nggak ada undangan, tapi aku juga masuk sesuai aturan, dan begitu nggak ada masalah. Lagian Samuel kayak gitu malah ngerusak acara. Kalian tadi juga lihat kan berapa banyak orang yang menontonin? Kalau Jenderal Dragon Lord melihat kejadian tadi, jangankan Samuel, bahkan Pak David sebagai wali kota juga kena imbasnya.” Penjelasan Max.


“Oh begitu, yang penting asal kita buktiin kalau kita nggak melanggar peraturan, kita aman!” kata Arya.


“Masuk akal,” balas Nanda.


Sesampai di rumah, tiba-tiba..Arya dapat sebuah panggilan dari ayahnya, “Mulai besok kamu dan Alena nggak usah kerja lagi!” ucap adam.


Arya sungguh kaget dengan kalimat yang barusan di ucapkan ayahnya, “Apaa...?”


“Kalian sudah membuat aku kecewa berat, dan juga kalian masih punya utang 5 miliar, kapan kalian melunasi 5 miliar itu? Kalau gak bisa lunasin, aku tarik balik perusahaan kalian. Biar aku kasih ke Rino atau kedua anaknya itu yang memang lebih kompeten.” Kata Adam.


‘Tuuut tuuut...’ suara telpon panggilan berakhir.


‘Prakk!’ Handphone Arya terjatuh ke lantai.


Alena dan Nanda saling berpelukan dan menangis setelah mengetahui apa yang terjadi.


“Ada apa?” tanya Max.


“Kakek tarik balik perusahaannya dari kita, sekarang kita pengangguran.”


“Cih, mereka bakal menyesal!” ucap Max dengan kesal.


Sementara itu di kediaman keluarga Veyron ....


Setelah Adam menutup teleponnya, Yuki bertanya, “Apa gak apa-apa kita jahat begitu sama Arya? Max itu gak ada latar belakang apa-apa, kan?”


“Ma, kek, aku sudah cari-cari informasi. Temanku punya kolega dan dia juga ikut ke pesta itu. Dia bilang Max itu nggak ada latar belakang apa-apa, dia bisa ikut pesta karena ada temannya. Dan lucunya, Cuma mereka berempat yang tidak bawa hadiah, malu-maluin banget. Orang-orang bilang Jenderal Dragon Lord gak suka dikasih hadiah, dan mereka kira beneran.” Kata Lara.


“Hahaha...” mereka semua serempak tertawa.


“Mereka sudah berani bikin aku malu di Star Villa, jadi aku tarik perusahaanku, biar mereka jadi pengangguran.” Ucap Adam.


“Setuju, mereka memang tidak tahu diri! Bahkan mereka memandang rendah kakek. Aku janji bakal bikin mereka gak punya tempat tinggal lagi untuk bertahan hidup!” tutur Lara.


Adam marah besar gara-gara kejadian pesta malam ini, dan Rino yang mengusulkan agar ayahnya menarik kembali perusahaanya dari Arya.


“Lara, kita semua ngandalin kamu. Besok di bagian Timur kota ada proyek pembangunan jalur KRL bawah tanah, sayangnya kita gak keburu. Tapi nggak apa-apa Lara, asal kamu tekun, kamu bisa pakai koneksi kamu dapat proyek yang lain.” Kata Adam sembari menaruh harapan kepada cucunya.


“Kakek tenang saja, aku bisa mengatasi kok.” Jawab Lara.