Iam Come Back

Iam Come Back
Undangan VIP


“Undangan itu aku yang kasih ke kalian! Tujuan utama saya mau mengundang keluarga Arya selaku ayah dari sahabat saya, tapi aku sekalian saja bawain banyakan untuk kalian semua.”



Lantas semua pandangan mereka tertuju pada Max. Arya lah yang merasa kaget, dan merasakan kalau undangan VIP itu dari Max apa yang tadi dikatakan Robert itu benar.



“Memangnya kamu gimana bisa dapat undangannya? Ngerampok? Paling juga pura-pura doang” kata Lara.



“Apa kamu nggak tahu ya kalau 1 undangan itu harganya miliaran, apa kamu sekarang uang sebanyak itu setelah diusir dari rumah.” Kata Daniel.



“Max, kamu tahu malu dikit apa nggak bisa? Jelas-jelas tuan Agung yang dapetin, nggak ada urusannya sama sekali denganmu.” Kata yuki.



“Memangnya kamu siapa? Berani sekali merebut jasaku!!” kata Agung yang sambil marah-marah.



“Besok jangan bikin kami kecewa ya. Kalau besok gak dikasih masuk, jangan ngaku-ngaku kenal sama kami ya.” Ujarnya Adi.



“Belum tentu siapa yang ga bakal dikasih masuk nanti.” Balas Max sambil tersenyum.



“Oke, oke, kita lihat saja nanti.”



“Arya, lihat tuh sahabatnya anak kamu, cepat bawa dia pulang! Lain kali jangan bawa dia lagi! Malu-maluin saja.” Timpal Rino.



Baru saja Max akan mengatakan sesuatu, tiba-tiba dicegah dan ditarik sama Alena karena ia tak tahan terhadap hinaan mereka. “Ikut aku” kata Alena dengan tegas dan disusul kedua orang tuannya Alena.



Akhirnya mereka berempat tiba diluar, sambil menangis-nangis Alena memohon. “Aku minta tolong sama kamu jangan bikin kami malu lagi, aku sudah lama kenal sama kamu, tapi baru kali ini kamu mempermalukanku.”



Sambil menyeka air mata Alena, Max bertanya padanya, “Alena, apa kamu begitu mau ikut ke pesta besok?”



“Siapa yang nggak mau? Kamu nggak lihat mereka yang mendapatkan undangan, sedangkan kita tidak dapat.” Jawab Alena.



“Aku bisa! Pak Arya mendapat undangan VIP kan?” tanya Arya.



“Kok kamu tau, kalau aku dapat undangan apalagi kategori VIP. Tapi sebelum aku menjelaskan kita pulang dahulu, karena ini pesan dari Pak Robert kalau kita mendapatkan undangan jangan sampai ada yang tahu. Dan untuk Max ayo ikut pulang ke rumah om, dah lama kan nggak pernah mampir?” Jawabnya Arya.



Max mengangguk-angguk, sedangan Alena dan ibunya merasa masih bingung apa yang telah terjadi. Mereka berempat tidak mengikuti jamuannya karena tidak tahan dengan hinaan yang mereka keluarkan dari mulutnya. Serta memutuskan untuk keluar dari Restoran Golden Star itu dan menuju ke rumah Arya.



Mobilnya Alena diserahkan sama supir pribadinya Arya, sedangkan mobil Arya yang nyetir adalah Max. Selama perjalanan Max mencoba menghubungi Sebas.



Setelah panggilannya terjawab, Max bilang, “Sebas, kasih tau Pak David dan para petinggi kota S, kalau aku bakal ikut ke acaranya besok.”



“Eh? Jenderal mau ikut!? Kabar baiklah ini! Para petinggi kota S tadi pada pusing takut Jenderal nggak datang!” kata Sebas.



“Iya, aku bakal ikut, tapi ada beberapa orang yang tidak boleh datang...”




Setelah menutup telepon, Arya semakin curiga apa yang akan terjadi dengan besok, ‘apa sebenarnya identitas Max ini’ ujarnya Arya dalam hati. Lantas ada sebuah pertanyaan muncul dari mulut Alena.



“Kamu tadi bicara dengan siapa? Kok kamu bilang mau ikut terus kata kamu tadi para petinggi kota S” tanya Alena.



“Aku tadi bicara sama teman aku tentang kita mau datang ke pesta besok malam.” Max menjawabnya dengan setengah jujur setengah bohong, karena Max tidak mau identitasnya terbongkar lebih awal.



Tak terasa lama di perjalanan, akhirnya tiba di kediaman Arya. Lalu mereka masuk ke rumah dan Arya mencoba menjelaskan mengenai undangan VIP tadi.


Akhirnya perbincangan mengenai penjelasan tadi, Arya pun membagi 3 undangan tersebut. Setelah itu Max pamit untuk kembali ke Apartemen karena sudah pesan taksi, sedangkan Alena malam ini tidur di rumah.


“Om, tante, dan Alena, besok aku jemput ya.”


“Eh, bukanya kamu nggak memiliki undangannya?” tanya Nanda.


“Tenang tante, aku bakal bisa masuk kok besok, meskipun tidak mempunyai undangan, aku pamit dulu ya.” Balas Max.


“Baiklah, hati-hati dijalan Max.” Kata Alena dengan kekhawatirannya.


Max masuk ke dalam taksi dan menuju ke apartemen. Hari mulai malam, Max tiba di apartemen, ia langsung mandi sebelum tidur. Selepas mandi, ia menghubungi Sebas untuk segera menyiapkan mobil yang bukan kategori spot, karena besok ia menjeput Alena dan kedua orang tuannya.


“Sebas besok tolong siapin mobil, tapi jangan mobil spot dan jangan terlalu mahal karena identitas saya jangan terbongkar lebih awal.”


“Siap, dimengerti jenderal!” jawab Sebas.


......


Hari berikutnya, hari dimana pesta itu dimulai.


Max berangkat di sore hari menjelang malam untuk menjemput Alena. Setibanya di rumah, Max mencari-cari Alena yang ternyata Alena ada di ruang kerjanya. Alena sedang dimejanya dengan menulis sebuah perencanaan.


“Kamu lagi ngapain?” tanya Max.


“Di bagian Timur kota ada proyek pembangunan jalur KRL bawah tanah! Sekarang aku lagi bikin perencanaan untuk coba ajuin tender. Ya kemungkinan golnya ga lebih dari 1% sih.” Ujarnya Alena.


Hingga hari sudah malam, Alena tidak sekali pun mengeluh ataupun cemberut. Dan waktu pesta malam ini akan dimulai sudah semakin mendekat.


“Sudah waktunya nih, ayo kita berangkat.” Ujar Max sambil melihat jam.


Mereka berempat datang ke Star Villa, tempat pesta untuk menyambut Jenderal Dragon Lord diadakan.


“Alena sekarang aku mau buktiin kalau kalian bisa masuk dengan undangan VIP tersebut dan aku bisa masuk tanpa undangan itu.” Kata Max.


Max dan Alena serta orang tuanya berjalan memasuki tempat pesta.


“Hohoho, kalian beneran datang ya?” sindiran dari Adi, beriringan dengan sindiran itu, Adam beserta anggota keluarganya juga tiba di lokasi dengan membawakan banyak hadiah.


Rencana keluarga Veyron dan Wijaya sangat sederhana, bukan hanya mengikuti pesta ini, tapi juga berusaha meraih simpati dengan Sang Jenderal.


Semua keluarga Veyron dan Wijaya yang ada disitu sama sekali tidak percaya kalau mereka bisa mendapatkan undangannya. Memang siapa mereka sampai bisa mendapat undangan? Mustahil banget!!


“Aku..”


Alena sempat ragu-ragu karena dia memang punya undangan apalagi itu VIP.


“Kenapa? Apa undangan kalian terbuat dari berlian sampai nggak boleh dikasih liat?”


“Hahahaha....” semua pun tertawa.


Undangan VIP itu emang berlapis berlian, namun Alena dan kedua orang tuanya tetap diam dan hanya menunduk.


“Arya, keluarin undangan kamu.” Seru Adam


Dengan napas yang berat akhirnya Arya mengatakan, “Nanti pa, kalau kalian masuk aku juga masuk sambil menunjukan undangan ke petugas keamanan.”


“Aku kasih tau satu hal, kalian tidak akan bisa masuk bahkan kalau di pintu depan selamanya.


Sambil menggandeng tangan Adam, Lara bilang “Kakek, ayo kita masuk, nggak usah mikirin mereka.”


“Benar juga, Cuma bikin malu kenal sama mereka.


Setelah itu mereka pun ramai-ramai pergi menuju pintu masuk.