
Anton masuk dengan langkah cepat dan persis sepert yang lain, “Tuan Setiono, apa anda tidak apa-apa? saya sangat khawatir pada anda.”
“Pak David sudah menelepon saya puluhan kali barusan, saya kira ada masalah besar di sini. Beliau sedang ada rapat di luar kota, tidak bisa datang hari ini. Jadi beliau mengutus saya untuk datang melihat ke adaan di sini.”
“Hah?” Detik itu juga, semua orang tercengang tidak percaya.
Siapa sebenarnya Max? Latar belakang apa yang dia miliki? Dia bisa membuat seorang David sampai begitu mengkhawatirkannya? Ya Tuhan! Ini sulit dipercaya!
Semua orang sedang menebak-nebak apa sebenarnya identitas Max.
“Aku sangat baik-baik saja. Beritahu Pak David tidak perlu khawatir. Di lain kesempatan, aku mengajak dia makan.” Max berkata sambil tertawa senang.
“Baik ... saya pasti akan menyampaikan pada Pak David. Beliau pasti akan sangat senang mendengar ini.”
Max hanya mengatakan ingin mengajak makan, sudah bisa membuat sekretaris nomor 1 ini begitu senang?
Ekspresi Anton berubah ketika dia melihat Robin, “Apa yang telah terjadi, Pak Kepala Daerah? Bos menyuruhku bertanya pada anda, apa yang terjadi di sini?”
“Salahku! Ini semua salahku! Aku tidak becus mendidik anakku! Dia sudah beraani kurang ajar pada Tuan Setiono. Ini adalah kesalahan besar saya lakukan!”
Robin menunduk di depan Max dan berkata, “Saya minta maaf, Tuan Setiono. Saya sudah salah! Silakan anda memberi hukuman pada saya!”
Seluruh ruangan mendadak sunyi tidak ada suara apapun selain perkataan Robin yang sedang minta maaf. Siapa pun tidak ada yang menyangka, seorang Kepala Daerah akan menunduk pada Max.
Semua yang ada di ruangan itu tercengang. Leon, Viola, dan yang lainnya sama sekali tidak menyangka, Max bisa membuat semua orang menunduk padanya. Apa sebenarnya identitasnya?
“Brak brak brak ...” terdengar lagi suara langkah datang.
Satu orang memakai baju seragam polisi, yang satu lagi memakai seragam tentara.
Simon melihat tanda di bahu seragam mereka dan sadar berkata, “Kepala Kantor Polisi Lokal dan Kolonel!”
“Aku tahu dia! Dia adalah Barry Hardy, Kolonel Militer Kota S! Yang satunya lagi adalah Kepala Kantor Polisi Lokal, Enzo Wilis!”
Kerumunan orang-orang itu tercengang dan menampakkan ekspresi tidak percaya. Bagaimana mungkin Enzo Wilis dan Barry Hardy bisa datang?
Sebenarnya mereka berdua kebetulan sedang rapat bersama. Mendengar keributan di sini, mereka pun langsung datang. Setelah masuk ke dalam ruangan, Barry dan Enzo langsung menghampiri dan menunduk pada Max.
Pemandangan ini membuat semua orang di dalam ruangan terkejut. Mereka semakin penasaran akan siapa sebenarnya Max? Mengapa semua orang besar di dalam ruangan ini bersikap begitu hormat pada Max?
Bahkan Pak Wali Kota pun hampir membatalkan perjalanan dinasnya demi melihat Max? Sebenarnya apa latar belakang Max? Bagaimana dia bisa mempunyai kekuatan sebesar ini?
Mereka menatap mata Max dengan persaan takut. Max yang baru saja mereka anggap sebagai gelandangan yang bahkan tidak mempunyai pekerjaan, kini tiba-tiba menjadi orang terpandang.
Viola yang berdiri di samping Max pun gemetar, kakinya kaku tak bisa bergerak. Dia baru mengerti sekarang, kata-kata Max mengandung makna lain di dalamnya. ‘Membuka bisnis senjata militer’ jika dipikir-pikir lagi, sangat mungkin bisa dikaitkan dengan hal lain.
Jangan-jangan Max adalah seorang bos di kalangan militer? Viola tidak berani membayangkan lebih jauh lagi, berpikir sampai di sini saja sudah cukup mengerikan baginya.
Max mengatakan sesuatu dengan tenang, “Bawa mereka pergi, jangan sampai aku melihat muka mereka lagi dikemudian hari.”
Segera setelah itu, Robin dan bawahannya pergi meninggalkan Queen Hotel itu. Namun, Max meminta Barry Hardy untuk tetap tinggal di sana. Barry pun berdiri di samping Max dengan patuh dan wajahnya bersemangat.
Barry bergegas bertanya, “Jenderal, apa yang bisa saya bantu?”
“Seminggu lagi, aku memerlukan 100 ribu pasukan militer, tolong siapkan untukku.” Ucap Max.
Max sedang mempersiapkan sebuah rencana untuk keluarga Setiono yang saat ini.
Barry sangat terkejut mendengar permintaan Max, namun dia mengangguk kepalanya, “Baik, saya akan melaksanakan perintah.”
Setelah Barry meninggalkan Queen Hotel dan Max kembali ke dalam ruangan. Melihat Max kembali, semua orang mendadak tegang, tubuh mereka terlihat bergetar.
Semua orang paham dan mengetahui kemampuan Max sekarang. Hanya cukup sepatah kata dari mulut Max, bisa membuat orang habis dalam sekejap.
“Semuanya tidak perlu setegang itu, ini kan pesta, bertingkahlah seperti orang sedang menghadiri pesta!” Max tertawa.
Viola mencoba mencairkan suasana, “Ayo, duduk, anggap saja barusan tidak terjadi apa-apa”
Semua orang pun kembali ke tempat duduk mereka masing-masing, namun mereka masih sangat tegang dan berhati-hati. Terutama Simon, Brian dan komplotannya, mereka semua masih menundukkan kepala mereka.
Mereka takut Max akan teringat pada mereka. Sedangkan bagi yang lainnya, jika itu Leon, mereka masih mungkin kan mendekatinya dan mencari muka di hadapannya. Tapi ini adalah Max, mereka sama sekali tidak berani mendekatinya.
Max kembali duduk dan menyantap makanan yang ada di meja itu, tapi tidak ada seorang pun ikut makan maupun minum. Tiba-tiba Max menyadari suasana yang masih sunyi ini, semua orang terlihat tegang dan tidak berani berkutik sedikit pun.
Setelah selesai makan, Max pun berdiri, “Aku sudah selesai makan, mau pulang dulu!”
Viola berdiri dan mengikuti Max pulang, dengan sengajanya Max menahannya, “Tidak perlu ikut!”
Setelah itu Max pun pergi. Seketika, semua orang yang ada di dalam ruangan menghela nafas lega. Mereka pun mulai berani berbicara, “Ya Tuhan! Apa yang barusan aku lihat? Max sungguh mengerikan!”
“Kepala Daerah, Sekretaris senior, Kepala polisi, Kolonel Militer Kota S, semua datang ke sini? Sungguh gila!”
Simon dan Brian yang mendengarnya pun rasanya ingin menggali lubang untuk diri mereka sendiri. Betapa menakutkannya Max tadi.
“Eh? Bukankah ini rokok bekas Max kah? Aku sepertinya tidak pernah melihat rokok seperti ini?”
Salah satu dari mereka mengambil bungkus rokok kosong bekas Max dan bertanya-tanya.
“Apakah kamu tidak tahu rokok apa ini? Ini adalah rokok khusus untuk anggota militer! Jika dilihar dari bungkusnya, rokok ini pasti yang paling spesial. Sepertinya anggota militer biasa pasti tidak dapat menghisap rokok ini.”
“Apa sebenarnya latar belakang Max ini? Bisa begitu hebatnya.”
Viola melihat semua orang sedang membicarakan Max, di hatinya ada rasa bersyukur dan penyesalan sekaligus.
Di sisi lain Max menuju ke apartemennya untuk beristirahat. Setelah dia sampai di apartemen, ia langsung menelepon Sebas dan memintanya untuk menyelidiki tentang kudeta terhadap keluarga inti Setiono terdahulu sampai terusirnya anggota inti terdahulu.