
Kelak jika aku memiliki istri, aku akan sangat menyayanginya dan memperlakukannya sebagai ratu di rumah mewahku. Aku tidak akan membiarkannya melakukan apapun, yang ia lakukan hanya terus berada di sampingku bukan melakukan hal yang lainnya.
Semoga aku bisa menemukan jodoh yang baik dan setia terhadapku.
"Tio, minum," ucap Keysia memberikan segelas air untuk Max dan itu membuat Max tersadar dari lamunannya.
"lya," Max meraih gelas yang berisi dengan air yang Keysia berikan untuknya.
Setelah selesai menikmati makan malam, Keysia membersihkan piring, sendok, dan gelas yang telah mereka gunakan, lalu menyimpannya di rak piring mini yang ada di dalam kamar Max.
Keysia kembali berjalan ke arah tempat tidur setelah selesai mengerjakan pekerjaannya di dapur dan melihat Max tengah membuat kopi untuk Rezaldin dan dirinya sendiri di depan dispencer.
"Boleh aku membantumu?" tawar Keysia.
Max melihat ke arah Keysia yang kini tengah berdiri di sampinnya, sambil tersenyum.
"Apa kamu yakin? Ingin membuat kopi untukku dan Rezaldin?"
"Tentu saja, aku sering melakukan ini semua di rumahku, bahkan semuanya aku bisa lakukan kalau soal pekerjaan di rumah." Keysia menjelaskan apa saja yang bisa ia lakukan ketika ia berada di rumah.
"Baiklah, silahkan."
Max memundurkan langkahnya, duduk di lantai yang telah ia lapisi dengan tikar agar bagian tubuhnya tidak terkena lansung dengan semen yang akan membuat tubuh merasa kram jika terlalu lama duduk tanpa ada lapisan.
"Terimakasih," ucap Max kepada Keysia ketika melihat Keysia meletakkan kopi yang ada di hadapannya.
"Sudah, kamu tidak perlu terus berterimakasih denganku, santai saja. Sudah sewajarnya aku membantumu, karena kamu juga telah membantuku.” Keysia menampakkan senyuman hangat ketika mengatakan itu kepada Max, ia merasa lebih lega tinggal bersama dengan pemuda yang tidak ia kenal, daripada hidup di tengah anggota keluarga yang telah lama mengenalnya.
Andai Max adalah keluarga dekatku, mungkin aku akan memilih untuk tinggal di rumahnya daripada harus tinggal di rumahku.
“Keysia, kamu sudah memikirkan rencana ke depannya kalau kamu meninggalkan kota ini?” tanya Rezaldin.
“Kalau soal itu, aku berencana mau bekerja apa adanya asal bisa bertahan hidup di luar sana Za.” Jawab Keysia.
“Oh begitu, kamu jangan khawatir, kami siap membantumu kok, apalagi Tio yang semangat banget untuk membantumu.” Ucap Rezaldin dengan sedikit tertawa.
Setelah Rezaldin menghabiskan secangkir kopi, ia pamit pada Max dan Keysia.
“Oh iya, udah makin larut nih, aku balik ke kamar dulu ya untuk istirahat.” Rezaldin pamit dengan berjalan keluar dari kamar Max menuju arah kamarnya sendiri untuk istrirahat.
Waktu terus berlalu tidak terasa, Keysia tinggal di kamar kost Max selama seminggu tanpa ada yang mengetahui, cuman Rezaldin satu-satunya yang mengetahui hal itu.
Segala keperluan Max semuanya telah ia lakukan, mulai mencuci semua pakaian kotor, hingga menyiapkan sarapan dan makan malam untuk Max. Bahkan Max lebih sering membawa bekal makanan ke tempat ia bekerja karena Keysia yang memintanya.
Meskipun Max kerap melarang keras agar ia tidak melakukannya, namun ia lebih senang melakukan semua itu, daripada harus tinggal menumpang tanpa melakukan apapun.
"Maaf semoga kamu tidak keberatan untuk membawa bekal makan ini," ucap Keysia pelan, ia takut jika sampai Max menolak bekal makanan yang telah ia siapkan.
"lya," angguk Keysia pelan.
Max terlihat nampak sangat senang melihat bekal makanan yang telah Keysia siapkan di atas meja, bahkan untuk sarapannya pagi ini dan tidak lupa secangkir kopi semuanya telah Keysia siapkan untuknya di atas meja.
"Kamu bangun pukul berapa Keysia? Semua makanannya telah tersedia ketika aku bangun, bahkan semua pakaian aku semuanya telah kamu cuci," ucap Max menatap ember yang berisi dengan pakaiannya yang ada di dekat pintu.
"Aku terbiasa bangun pukul 4 ketika berada di rumah aku, mungkin karena itu, aku juga bangun sepagi itu di sini. Oh iya, sebelum berangkat bekerja, pakaiannya di jemur dulu di luar, aku takut jika aku keluar ada yang melihat." Ucap Keysia
"Baiklah, aku akan menjemurnya dulu baru membersihkan diri."
Max benar-benar merasa kalau saat ini seperti telah memiliki istri, semuanya telah siap ketika ia bangun, karena cuman istri yang bisa melakukan semua ini untuk suaminya.
Tapi aku dan Keysia tidak memiliki hubungan apapun kami hanya saling mengenal, selebihnya saling menolong. Meskipun ada rasa yang aneh ketika aku melihat senyuman ceria di bibirnya, ah, Max apa yang telah kamu pikirkan?
Setelah menjemur pakaian, Max berangkat bekerja .
Tak terasa lama Max bekerja, Jam makan siang telah tiba. Max dan Rezaldin berjalan ke arah kantin dan duduk dimana biasa ia gunakan untuk makan bersama dengan Rezaldin.
Max tidak berhenti mengusap kotak makanan yang ada di depannya, senyum ceria nampak jelas di bibirnya dan itu membuat Rezaldin yakin kalau saat ini Max pasti tengah jatuh cinta dengan gadis yang menginap di kamar kostnya.
Namun tiba-tiba Lisa duduk di samping Max sambil meletakkan bekal makanan yang berukuran lumayan besar di hadapannya.
Max melirik ke arah Lisa yang kini tengah tersenyum melihat ke arahnya, lalu beralih melihat bekal makanan yang ada di hadapan Max.
"Kamu bawa makanan Tio?" tanya Lisa melihat ke arah bekal makanan yang ada di hadapannya.
"lya, aku bawa," jawab Max pelan dan santai.
"Kenapa mesti bawa, aku kan bisa membawa buat kamu dan juga Rezaldin.”
"Tidak perlu lagi, kami berdua telah merepotkanmu terimakasih sebelumnya karena telah melakukan ini padaku dan juga Rezaldin."
"Aaa, tidak merasa di repotkan, justru aku merasa senang bisa masak untuk kamu." Lisa memasang wajah sedikit kecewa karena hari ini Max tidak memakan masakannya.
"Aku masak banyak Tio, aku dan Rezaldin tidak akan sanggup menghabiskan makanan sebanyak ini" ucap Lisa.
"Ajak Gio untuk makan bersama kita di meja ini, kan sayang jika makananya tidak dimakan," saran Max kepada Lisa, agar mengajak Gio makan bersama denganya.
Max mulai melihat sekeliling dan melihat Gio baru saja masuk ke dalam kantin sambil mengusap wajahnya dengan handuk, mungkin ia baru selesai membersikan diri sehingga rambut dan wajahnya basah, itulah yang ada di pikiran Max saat ini.
"Itu Gio, coba kamu panggil Za, agar ia makan bersama dengan kita," ucap Max pada Rezaldin.
"Baiklah," angguk Rezaldin berbalik badan melihat ke arah Gio yang mulai duduk di samping para pekerja yang lainya.
"Gio," panggil Rezaldin.