
Max yang melihat itu dengan segera membantu Keysia bangun, duduk sambil menyandarkan tubuh di sandaran tempat tidur, biar bagaimana pun karena menolongnya Keysia harus merasakan hal ini.
"Tadi kamu mendapat pukulan, jelasnya aku tidak tau mereka memukulmu di bagian mana, karena aku melihatmu ketika tidak sadarkan diri di jalanan. Karena telah menolongku, terimakasih banyak karena telah melakukan ini untukku." Kata Max.
Keysia mengingat apa saja yang terjadi yang sebenarnya, hingga ia menjadi seperti ini, sambil mengingat Keysia memegang kepala bagian belakangnya yang terasa sangat sakit.
"Iya aku telah mengingat semuanya, tadi preman itu ingin memukulmu, karena kamu melindungiku. Jika sampai mereka memukulmu pasti kamu akan kesakitan bahkan sampai tidak sadarkan diri, sama seperti yang terjadi padaku saat ini. Aku sungguh minta maaf dan sangat berterimakasih banyak, karena kamu telah menolongku dari penculikan tadi.” Ujar Keysia.
Semenatara Max yang mendengar ucapan gadis yang ada di hapannya terdiam, melihat aneh ke arah Keysia, ia bingung sekaligus merasa lucu mendengar apa yang di katakan Keysia barusan. Gadis ini memang sangat lucu, Max menampakkan senyuman tipis di bibirnya.
"Baiklah sekarang kamu istirahat dulu, sebentar aku akan mengantarmu pulang ke rumahmu"
"Tidak! aku tidak ingin kembali ke neraka itu mereka semua jahat, aku akan pergi meninggalkan kota ini besok." Keysia nampak sangat kesal ketika mengatakan itu kepada Max.
"Sudah cukup mereka menyakitiku Tio, sudah cukup! Aku tidak bisa menahannya lagi, mereka semua ingin memanfaatkanku dan menjualku ke orang yang bukan aku cintai. Kenapa harus aku yang menanggungnya? Sebenarnya ...” Keysia menggantungkan ucapannya karena ia malu mengatakan yang sebenarnaya kepada Max.
Max mengerutkan dahi bingung ketika mendengar ucapan Keysia, ia sangat penasaran dengan ucapan Keysia yang tidak sampai itu.
"Sebenarnya apa Keysia? Aku siap membantumu kalau kamu mempunyai masalah yang sulit dipecahkan." tanya Max duduk di pinggir tempat tidur menatap ke arah wajah Keysia yang menatap lurus ke depan.
Keysia hanya terdiam ketika mendengar pertanyaan Max, ia merasa malu mengatakan yang sebenarnya kepada pemuda yang baru saja ia kenal.
“Key, katakan! Kamu tidak perlu malu atau sungkan kepadaku, anggap saja aku sahabatmu yang telah mengenalmu dengan sangat baik" ucap Max.
Keysia beralih menatap ke arah wajah Max, wajah tampan terlihat jelas di mata Keysia, karena wajah Max terpancar jelas oleh cahaya lampu yang begitu sangat terang.
"Apa yang harus ku katakan Tio, hidupku terlalu rumit untuk aku ceritakan kepada orang lain." Keysia menundukkan wajah melihat ke arah tanganya ketika mengatakan itu.
"Katakan saja Keysia, biar hatimu merasa lega, setelah mengatakan itu padaku.”
Keysia meneteskan air mata ketika mendengar ucapan Max, hatinya terasa sakit dan perih ketika keluarganya memanfaatkannya.
"Tio boleh aku memelukmu, aku ingin menangis."
"Peluk saja," jawab Max santai mendekatkan tubuhnya ke tubuh Keysia.
Setelah tubuh Max mendekat ke arahnya dengan segera Keysia memeluk erat tubuh Max dan dan mulai menumpahkan tangisannya yang terdengar perih di telinga Max.
"Hiks, hiks, hiks. Sebenarnya masih ada cara lain Tio, tapi aku menyarankan bawa aku pergi keluar dari kota ini. Bantu aku untuk menjauh dari neraka yang terus membuatku aku menderita, aku bekerja apa saja asal bisa membuatku menjauh dari kota ini, hiks, hisk, hiks."
Keysia terus menangis sambil memeluk tubuh Max dengan sangat erat, perlahan Max ingin menaikan tangannya untuk memeluk tubuh gadis yang kini tengah memeluk erat tubuhnya.
Namun entah kenapa tangannya sangat sulit untuk membalas pelukan Keysia, ia gugup tidak tau harus berbuat apa, hingga ia hanya memilih menepuk pelan bahu Keysia.
"Sudah Keysia, jangan menangis lagi."
"Bantu aku keluar dari kota ini Tio, hiks, hiks, hiks." ucap pelan Keysia masih mengeluarkan suara tangisannya yang terdengar perih mengiris di hati Max.
Keysia melepas pelukan menatap wajah tampan Max yang kini tengah menatap ke arahnya.
"Maafkan aku Tio, bukan maksud aku ingin membuatmu repot seperti ini, maaf." Keysia menundukkan wajah melihat ke arah tangannya, ia merasa malu, namun juga merasa nyaman ketika mengatakan semua itu kepada Max.
"Tidak masalah Keysia, aku akan memikirkan cara untuk membantumu."
"Terimakasih Tio, kamu pemuda yang sangat baik."
Max memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin menyuruhnya untuk pulang ke rumahnya. Ia akan kembali mendapat perlakuan yang tidak baik dari keluarganya, bahkan orangtuanya juga ikut ingin Keysia menikahi orang yang bukan Keysia cintai. Aku tidak tau apa yang telah ia lakukan kepada Keysia sehingga ia tidak ingin kembali ke rumahnya lagi.
Memutar otak itulah yang tengah Max lakukan saat ini, apa yang harus ia lakukan, apakah ia akan tidur sekamar dengan Keysia? Atau menyuruhnya untuk kembali ke rumahnya, Max menjadi dilema memikirkan hal itu.
Kenapa pemikiran aku pendek sekali, aku kan bisa menginap di kamar Rezaldin dan membiarkan Keysia tidur di kamarku.
"Keysia, aku keluar sebentar," ucap Max kepada Keysia yang kini tengah memeluk bantal guling kesayanganya.
Keysia hanya mengangukkan kepala tersenyum melihat ke arah Max, ketika mendengar ucapannya.
Max membuka pintu kamar, lalu keluar berjalan menuju arah kamar Rezaldin, sepertinya Rezaldin telah kemali lampu kamarnya telah menyala.
Tok, tok, tok. (Suara ketukan pintu)
"Za, kamu di dalam?" tanya Max mengetuk pintu sambil memanggil nama Rezaldin.
"lya Tio, masuk saja, aku baru selesai membersihkan diri," sahut Rezaldin dari dalam.
Max mendorong pintu kamar Rezaldin, lalu masuk dan melihat Rezaldin baru saja selesai menggunakan pakaian.
"Ada apa Tio?" tanya Rezaldin pelan.
"Za bantu aku"
"Bantu kamu? Memangnya apa yang terjadi?" tanya Rezaldin sedikit panik berbalik melihat ke arah Max yang kini tengah berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Ada seorang gadis di kamarku, tadi ia hampir saja diculik, dan aku menolongnya. Tapi dia terkena pukulan dari para preman yang menghajarku di jalan, terkenanya di bagian kepala ." Max menjelaskan.
Rezaldin terkejut ketika mendengar ucapan Max yang mengatakan kalau ia menyelamatkan orang yang mencoba menculik gadis dan di serang oleh para preman itu.
"Kamu tidak kenapa-napa kan Tio? Apa ada yang sakit? Apa ada yang terluka?" tanya Rezaldin melihat wajah dan tubuh Max.
"Ada berapa preman yang menyerangmu?" tanya Rezaldin tidak berhenti nenampakkan wajah paniknya.
"Ini tidak kenapa-napa Za di bandingkan dengan pukulan di kepala yang di terima gadis yang ada di dalam kamarku saat ini.” Ucap Max.