Iam Come Back

Iam Come Back
Pekerjaan baru


Namun sebenarnya di hati Max, ia merasa sangat kasihan dengan kisah cinta Rezaldin. Max masih tetap berusaha agar tidak mengatakan hal itu kepada Reza, karena ia tidak ingin membuat Rezaldin membenci dirinya.


Meskipun Max mengatakan yang sebenarnya kepada Rezaldin, apakah Rezaldin akan percaya dengannya? Tentu saja tidak! Justru Rezaldin akan membencinya, karena telah mengatakan hal yang buruk tentang gadis yang di cintainya. Cepat atau lambat Rezaldin pasti akan segera tau soal kebenaran kekasihnya, itulah yang ada di pikiran Max saat ini.


Rezaldin duduk di samping tempat duduk yang di tempati Max sambil tersenyum-senyum sendiri ketika mendengar ejekan Max.


"Kamu bisa aja Tio." Rezaldin menepuk pelan pundak Max ketika selesai mengatakan itu.


Jujur, malam ia merasa sangat bahagia. Kekasih yang di cintainya selalu menampakkan sikap manjanya kepadanya, di tambah saat ini ia baru saja menerima gaji dari perusahaan yang di tempatinya bekerja.


"Semoga secepatnya uangku segera terkumpul." ucap pelan Rezaldin tersenyum melihat ke arah lain.


Max yang mendengar ucapan pelan Rezaldin berbalik melihat ke arah Rezaldin yang kini tidak berhenti tersenyum sendiri, entah apa yang telah di lakukan Rezaldin dengan kekasihnya sehingga membuatnya tersenyum sendiri seperti itu?


Max bisa melihat senyuman ceria yang Rezaldin nampakkan di wajahnya, hingga membuatnya merasa sedikit penasaran.


"Kamu kenapa Za? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Max sambil menepuk pelan bahu Rezaldin.


"Tidak aku tidak kenapa-napa," jawab Rezaldin santai masih dalam mode menampakkan senyuman cerianya.


Dan itu membuat Max menyengitkan dahi bingung depan apa yang tengah dilakukan Rezaldin pada kekasihnya.


"Ayo katakan, kamu tidak perlu malu dengaku." Ucap Max untuk mendengar jawabannya.


"Hehe, gadisku menempelkan bibirnya di sini" dahi "Di sini" wajah "Dan di sini" bibir " Eha, aku merasa malu mengatakannya Tio." Rezaldin menutup wajahnya dengan ke dua tangannya ketika selesai mengatakan itu kepada Max.


Jujur malam ini Rezaldin merasa sangat senang dan bahagia, ia merasa kalau malam ini ia seperti mendapat sebuah jek pot ketika kekasihnya melakukan semua itu padanya. Karena ini baru pertama kalinya Vina melakukan hal itu padanya setelah menjalin hubungan selama beberapa bulan terakhir.


Namun tidak dengan Max, ia justru merasa sangat kasihan dengan apa yang tengah di rasakan Rezaldin saat ini. Ia takut jika Rezaldin sampai merasakan rasa sakit yang sulit terbendung.


"Aku ikut senang Za, jika kamu bahagia. Oh iya, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, apa di tempatmu bekerja memerlukan pekerja? Maksudku aku ingin bekerja." Max menggaruk kepalanya ketika selesai mengatakan itu.


Max tidak pernah tau, pekerjaan apa yang akan ia dapat tanpa menggunakan ijasah ataupun berkas yang lainnya.


“Kamu ingin bekerja? Kebetulan di tempatku memerlukan satu tenaga kerja laki-laki, jika kamu mau? Hari senin kita akan pergi bekerja bersama." Jawab Rezaldin


"Baiklah, aku mau."


Max menganguk kepala setuju dengan apa yang di katakana Rezaldin, ia juga ingin mengetahui bagaimana rasanya hidup menjadi seorang buruh. Apakah sama dengan kehidupan yang ia jalani di dalam kantor?


Karena ketika ia melihat Rezaldin pulang dari tempatnya bekerja, Rezaldin tidak pernah menunjukkan wajah lelah, ataupun memiliki beban pikiran yang besar yang selalu ia rasakan ketika ia mengurus semua bisnisnya.


Hidup bergelimang harta dan kekuasaan tidaklah senyaman yang mereka pikirkan, karena dibalik itu semua ada pemikiran yang terus berjalan tanpa harus merasakan lelah.


"Sudah siap?” tanya Rezaldin baru saja keluar dari dalam kamar kostnya.


"Siap tidak siap, harus siap" canda Max melihat ke arah Rezaldin.


"Kita berangkat, namun sebelum itu kita sarapan terlebih dahulu agar kita kuat untuk bekerja."


“Tentu saja"


Max dan Reza berjalan ke arah sebuah warung yang terletak di pinggir jalan, jalanan itu tembus menuju arah pabrik dimana Rezaldin bekerja.


Rezaldin mulai memesan makanan yang biasa ia pesan, begitupun dengan Max, telur dadar ceplok dengan sayur kangkung sebuah makanan yang tidak pernah Max makan selama berada di kota tempat tinggalnya, karena di rumah Max selalu tersedia menu yang telah ia daftar untuk pelayan di rumahnya masak.


Tetapi beda halnya di kemiliteran, Max memakan apa saja yang bisa ia makan, agar bisa bertahan hidup.


Kehidupan sederhana, memakan makana sederhana itulah yang mulai menemani hari-hari Max, di tambah hari ini ia akan memulai bekerja menjadi seorang buruh, entah apa yang akan terjadi kedepannya denganku?


Setelah selesai membayar makanan yang mereka makan, Max dan Rezaldin mulai melanjutkan langkahnya berjalan menuju arah pabrik, untuk menemui mandornya agar Max bisa ikut bekerja dengannya.


Setelah selesai mendapat pertanyaan dari mandornya, Max mulai ikut bergabung dengan para pekerja yang lainya. Tugas Max hampir sama dengan tugas Rezaldin yang membawa semua barang packingan masuk ke dalam perusahaan untuk para pekerja wanita untuk ia bersihkan.


Max bekerja di sebuah perusahaan yang bernama LC Group, perusahaan itu menurut Max hanyalah sebuah perusahaan kecil, di bandingkan dengan perusahaannya yang mengimpor Berlian.


Di perusahaan ini Max selalu berada di antara serpihan es batu yang telah di hancurkan, karena ikan dan udang hanya akan bertahan lama ketika berdekatan dengan es batu.


Max bekerja di perusahaan infor menginfor sari laut, dan ia bekerja sebagai pendorong gerobak masuk ke dalam ruangan para pekerja wanita, untuk para wanita bersihkan semua sari laut yang ia bawa masuk.


Huf, tubuhku merasa sangat kelelahan, aku merasa seluruh tubuhku habis mendapat pukulan bertubi-tubi, Max duduk di depan pintu kamarnya ketika ia pulang dari tempatnya bekerja.


"Bagaimana? Apakah kamu betah bekerja di tempat kerjaku? Dan aku harap sih kamu akan betah," Rezaldin tersenyum membuka kunci kamarnya.


“Za, seluruh tubuhku rasanya sakit.” Ucap Max.


Sebenarnya, pekerjaan ini bukan seberapa untuk Max. Tapi Max mengatakan hal itu agar Rezaldin semakin percaya terhadap Max dan agar Rezaldin tidak memikirkan soal identitas Max sebenarnya.


"Memang, karena ini masih awal, namun setelah bekerja lebih dari tiga hari, tubuh kamu akan mulai terbiasa, dulu aku juga seperti itu." Rezaldin sedikit menjelaskan agar Max tidak menyerah dengan pekerjaan barunya.


"Oh, seperti itu. Baiklah Za, aku masuk ingin membersikan diri, seluruh tubuhku terasa amis bau ikan, sekaligus istirahat setelah itu." Kata Max.


“Oke, aku mengerti dengan rasa lelah yang kamu rasakan saat ini."


Waktu terus berlalu, tidak terasa Max telah bekerja di perusahaan itu selama sebulan lebih. Max kini lebih banyak memahami terik yang di gunakan para pekerja yang lainnya agar mereka bisa mendapat gaji lebih.