
Cantik dan sederhana sangat jauh berbeda dengan gadis-gadis yang pernah aku temui, aku bisa membayangkan betapa cantiknya wanita itu ketika aku memberikan apa yang pantas aku berikan untuknya.
Astaga apa yang aku pikirkan, Max ingat! Semua wanita itu sama, akan mencintaimu di awal namun setelah ia bosan ia akan mencari pemuda yang lain.
Hujan mulai mereda, Max kembali melanjutkan langkahnya menuju arah kosnya, namun baru beberapa langkah ia berjalan tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Tio tunggu!" teriaknya.
Max memutar tubuh melihat ke arah orang yang tengah memanggilnya yang tidak lain adalah Rezaldin, ia bisa melihat Rezaldin berlari dengan sangat cepat ke arahnya.
Setelah sampai di depan Max, Rezaldin berhenti berlari, sambil mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan.
Huf, huf.
Suara napas Rezaldin, ketika ia sampai di depan Max, sementara Max hanya tersenyum melihat ke arah Rezaldin yang kini masih mengatur napasnya.
"Tidak perlu berlari, cukup kamu memanggilku,” Ucap Max mulai melanjutkan langkahnya ketika melihat napas Rezaldin mulai stabil.
Rezaldin yang mendengar ucapan Max ikut tersenyum, karena memang yang di katakan Max benar adanya.
"Hehe, benar juga ya,” ucap Rezaldin menggaruk kepalanya yang nampak basah mungkin terkena air hujan atau baru selesai membersikan diri itulah yang ada di pikiran Max saat ini.
Keduanya berjalan berdampingan menelusuri jalan menuju arah rumah kost mereka, banyak para pekerja yang lainnya ikut berjalan kaki sama seperti yang mereka berdua lakukan saat ini.
"Tio," panggil Rezaldin.
"Hem, apa?"
"Kita keluar jalan-jalan malam ini, besok kan kita nggak bekerja,” ajak Rezaldin pada Max.
"Kemana?"
"Pasar malam"
“Kenapa tidak mengajak gadismu?"
"Udah, katanya dia nggak enak badan."
"Baiklah kita keluar, setelah selesai membersikan diri"
Malam tiba, Rezaldin dan Max telah bersiap menuju pasar malam, yang terletak satu setengah kilo meter dari tempat mereka nge kost.
Max dan Rezaldin memilih berjalan kaki daripada harus naik angkot karena menurut Max badan akan terasa bugar jika melakukan olahraga malam. Nanti setelah kembali mereka akan naik angkot karena pastinya tubuh mereka akan merasa sangat kelelahan setelah berkeliling di pasar malam, itulah yang ada di pikiran Max saat ini.
Mereka berdua memilih makan malam sebelum berjalan melihat-lihat sekeliling pasar malam, Max melihat ke arah warung yang nampak sedikit ramai, namun tanpa sengaja ia melihat kekasih Rezaldin tengah makan dengan seseorang.
Hingga akhirnya ia memilih untuk makan di tempat lain, karena tidak ingin Rezaldin melihat kekasihnya makan dengan pemuda lain dan pastinya akan membuat hati Rezaldin terasa sakit karena melihat orang yang di cintai makan bersama dengan pemuda lain, bahkan kekasih Rezaldin tengah berbohong kalau ia tidak enak badan.
Max berjalan menuju arah tempat makan yang lain, tanpa memilih atau melihat-lihat dia langsung menarik tangan Rezaldin masuk ke dalam warung tersebut, lalu duduk tanpa memperhatikan gadis yang ada di hadapannya.
Mata Max membulat ketika melihat wajah gadis yang membuatnya terhipnotis tadi sore di halte, ia tidak menyangka akan bertemu gadis itu lagi. gadis yang telah membuatnya merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya.
Mata ungu itu membuat Max merasa sangat penasaran soal gadis yang ditemuinya ini, dan juga gadis yang pernah ia temui di pinggir pantai, gadis yang telah mengatainya gila.
“Apa yang terjadi denganku? Kenapa gadis ini ada lagi di hadapanku? Gadis cantik yang sederhana.” Guman dalam hati Max.
Sebuah dinner romantis, menikmati makan malam dengan seorang gadis cantik di hadapannya. Meskipun tidak saling mengenal setidaknya ia di temani seorang gadis yang sangat cantik untuk menikmati makan malamnya.
Membuat Max nampak sangat bersemangat bahkan ia menyuruh Rezaldin untuk memesan apa yang ia inginkan karena ia akan mentraktirnya, bahkan untuk gadis yang ada di hadapannya ia akan membayar tagihannya jika ia tidak keberatan, itulah yang ada di pikiran Max saat ini.
"Pesan aja Za, malam ini aku yang teraktir," ucap Max tersenyum menepuk pelan bahu Rezaldin yang duduk di sampingnya.
Rezaldin yang mendengar dan melihat tingkahlaku Max merasa sangat bingung, ia tidak habis berpikir jika Max ingin menteraktirnya makan. Karena setaunya di tanggal tua seperti ini, biasanya tabungan udah menipis, itulah yang ada di pikiran Rezaldin saat ini.
"Apa kamu yakin? Ingin menteraktirku?" tanya Rezaldin pelan beralih melihat ke arah Max yang kini tengah menampakkan senyuman cerianya dan itu membuat ketampanan semakin terlihat. Lalu beralih melihat ke arah gadis yang tengah duduk di hadapan Max, gadis yang sangat cantik.
Apa mungkin karena gadis yang ada di hadapan Tio? Sehingga ia bersikap seperti itu? Entahlah, kalau memang ia akan lebih baik, setidaknya aku tidak perlu keluar uang malam ini, hahai.
“Tentu saja aku yakin, pesan saja yang kamu inginkan." Max menyakinkan Rezaldin agar memilih makanan yang ingin ia makan.
Rezaldin dengan senang hati memilih menu makanan yang ingin ia makan malam ini, ia merasa senang karena uang makannya untuk malam ini tidak akan tergores.
Sebagai anak rantau, Rezaldin memang selalu irit dengan pengeluarannya. Apalagi setelah ia memiliki kekasih uang yang biasa ia gunakan untuk membeli pakaian, kini ia gunakan untuk ia simpan untuk melamar kekasihnya kelak.
Max bertopang dagu melihat ke arah gadis yang ada di hadapannya, gadis yang sibuk memainkan ponselnya, Max tidak tau apa saja yang di lakukan gadis yang ada di hadapannya dengan ponselnya. Namun satu yang jelas, Max nampak sangat senang dan puas menatap wajah gadis yang ada di hadapannya.
Beberapa saat, tanpa sengaja gadis itu mengangkat wajah melihat ke arah Max, yang kini tengah melihat ke arahnya, bukannya marah karena mendapat pemuda yang tengah melihat ke arahnya.
Justru sebaliknya, gadis itu tersenyum hangat melihat ke arah Max, dan tanpa mengatakan apapun. Max membalas senyuman gadis cantik yang ada di hadapannya.
Dan itu membuat gadis yang ada di hadapannya terpesona melihat senyumannya yang nampak sangat menawan, ketampanan yang Max miliki akan membuat siapa saja yang melihatnya akan terkagum melihat ciptaan sang kuasa yang nampak sangat sempurna itu.
Astaga pemuda ini sangat tampan, bahkan tatapan pemuda ini masih sama ketika ia menatapku di pantai waktu itu, apa pemuda ini mengenalku?
Ini adalah pertemuanku yang ke empat dengannya, pertama bertemu di kereta api tanpa sengaja aku menginjak kakinya, pertemuan ke dua di pantai aku mengatainya gila, pertemuan ke tiga di halte tadi sore dan sekarang kami bertemu di warung makan ini.