
Malam itu Alena sangat sedih, tak tahu harus berbuat apa.
“Alena, kamu tenang saja. Kalau memang sudah waktunya, Adam pasti bakalan minta kamu balik buat bantu-bantu.” Ucap Max.
“Mana mungkin kakek seperti itu Max! Aku sama papa bisa dapat kerjaan lagi saja sudah bersyukur banget.”
“Tenang saja, kalau aku bilang Adam minta kamu balik, pasti bakalan terjadi.”
Kemudian Max berbalik keluar rumah untuk melakukan panggilan, “Sebas, panggilin David...”
Setelah melakukan panggilan dengan Sebas, Max bergegas pamit untuk pulang ke Apartemennya. Tetapi Arya menyuruh menginap di rumahnya, karena hari semakin larut.
“Nak Max, hari ini menginap di rumah om aja ya! Lagian juga hari sudah makin larut.” Kata Arya.
“Baiklah om.”
Keesokan harinya saat Adam baru bangun tidur, dia mendapat telepon dari Biro Pembangunan Kota yang meminta keluarga Veyron untuk mengikuti tender pembangunan jalur KRL bawah tanah.
Adam merasa tersanjung bisa mengikuti tender proyek yang sangat penting itu. Sebelumnya ia sudah melewatkan proyek tersebut dan tidak menyangka ternyata masih diberi kesempatan untuk berpartisipasi. Adam pun langsung mengumpulkan dan bertanya, “Dulu aku pernah dengar kalau ada yang lagi siap-siap ikut tender proyek pembangunan KRL bawah tanah, siapa ya?”
“kek, itu si Alena! Dia sudah planning yang detail, tapi memangnya ia bisa ikutan?” tanya Rino.
“Alena ada bikin planning-nya ya, berarti asal kita dapetin itu, kita bisa ikutan tender? Rino, kamu cepat pergi ke rumah Arya ambil planning nya! Aku gak ngira si sampah itu berguna juga!” perintah Adam.
“Siap pa, aku segera berangkat!”
......
Kala itu Max dan yang lain sedang sarapan, Alena dan orang tuanya termenung lesu dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, mereka membuka pintunya dan mendapati kedatangan Rino.
Rino menilik sekilas rumah mereka dan mengatakan, “Aku nggak yangka rumah kalian kecil juga ya? 200 meter persegi ada?”
“Mau ngapain kamu datang kemari?” tanya Arya.
“Aku datang untuk mengambil planning proyek jalur KRL bawah tanah! Biro Pembangunan Kota tadi telepon kami bakal ikutan tender!” ucap Lara.
“Gak boleh! Aku sendiri yang bikin semua perencanaanya. Dan kalau kalian mau ikut tender, bikin saja sendri! Lagian aku juga sudah dipecat kok.” Tolak Alena tegas.
“Oke, biar kakek saja yang ngomong!” lalu Alena memberikan handphone-nya ke Alena.
“Alena, apa-apaan kamu? kenapa gak kasih planning-nya? Sudah berani nentang kakek ya?”
“Kakek yang mecat aku, jadi ngapain kakek masih minta planning aku? Aku gak sudi!”
“Hmm, apa maksudnya itu? Kalau kamu emang nggak mau ngasih, hubungan kita cukup sampai hari ini. Kalian semua bukan anggota dari keluarga Veyron lagi!”
Mendengar hal itu, Alena pun menangis tersedu-sedu. Max beranjak dari tempatnya dan memberikan perencanaanya kepada Lara, lalu dia berusaha menenangkan Alena.
Rino memandangi mereka sekeluarga mereka dengan senyuman yang mengejek.
“Kenapa kamu kasih?” tanya Alena.
“udah, nurut saja sama mama aku! kamu percaya aku kan? Adam pasti bakal minta kamu balik!”
Di sisi lain, Lara dan Daniel diberikan tugas penting. Mereka berdua diminta untuk mengambil alih perusahaan Aralnaco milik Arya setelah mereka mendapatkan perencanaannya, kemudian langsung berangkat ke kantor pengurus proyek pembangunan KRL bawah tanah.
Di sana sudah banyak orang yang mengantre, Lara menjadi semakin tidak sabar begitu memikirkan nantinya semua harta keluarga Veyron akan menjadi miliknya.
Mereka berdua memasuki kantor dan Lara hendak memperkenalkan diri sendiri, orang yang duduk di hadapannya tiba-tiba berkata, “Dari keluarga Veyron ya?”
“Iya, iya, dan ini planning proyek kami! Silahkan dilihat!” jawab Lara sambil menyerahkan sebuah berkas.
Orang yang bertanggung jawab dan berhak mengambil keputusan atas proyek ini adalah kepala administrasi Biro Pembangunan Kota yaitu Pak Kevin. Kevin hanya meletakkan berkas yang diberikan Lara tapa melihatnya terlebih dahulu, lalu bertanya, “Kenapa Non Alena atau Pak Arya gak datang?”
“Eh..? Pak Kevin, saya Lara Veyron, penanggung jawab untuk proyek ini atas nama Veyron Corp. Perihal Alena dan Arya, mereka sudah resign dari perusahaan. Kalau boleh tahu ada apa bapak tanya soal mereka?” tanya Lara penasaran.
Kevin mengangguk-angguk saat mendengar jawaban dari Lara, “Oh jadi mereka sudah resign ya. Ya sudah kalau begitu kalian pulang saja. Keluarga Veyron tak layak ikutan tender proyek ini.” Kata Kevin sambil menyodorkan kembali berkasnya.
“Haaa? Apa maksud Pak kevin ini ada hubungannya dengan mereka berdua?” Tanya Daniel.
“Iya betul. Berdasarkan survei dari atasan kami, Veyron Corp dinilai cocok meng-handle proyek ini, terutama perusahaan Aralnaco milik Pak Arya. Jadi untuk sementara waktu pihak internal sepakat untuk kerja sama dengan Aralnaco, tapi karena Non Alena bahkan Pak Arya juga sudah resign, kami pilih kandidat lain.” Jelas kevin.
Meski dia bilang ini hanya keputusan sementara, sebenarnya mereka sudah mengambil keputusan akhir. Lara dan Daniel mencoba menjelaskan kalau perusahaan Aralnaco sudah diambil alih. Daniel juga mengambil beberapa surat prosedur pemindahan tangan perusahaan dari tas yang dia bawa dan memperlihatkan kepada Kevin.
“Pak Kevin, meskipun Arya dan Alena sudah resign, tapi sekarang kami yang ambil alih Aralnaco. Dan sekarang kami yang bertanggung jawab atas Aralnaco!” ujar Lara.
‘Srak!’ Kevin membuang semua surat yang diberikan Daniel sampai berserakan kemana-mana.
“Keluar! Kalian nggak ngerti saya ngomong apa ya? Saya Cuma ingin Non Alena yang memegang proyek ini! Ngerti kalian?”
“Pak Kevin jangan marah, kenapa juga harus Alena? Aku Lara, sepupunya Alena dan aku pernah kuliah di Universitas terbaik. Jadi kemampuanku jauh lebih baik dari Alena, Pak Kevin, aku bisa pegang proyek ini!”
‘Plak!’ Kevin naik darah dan membanting dokumen yang di menjanya ke lantai.
“Saya kasih tahu sekali lagi ke kalian! Sampai besok jam 9 pagi kalau saya nggak melihat Non Alena di sini, jangan harap Veyron Corp serta anak perusahaan lainnya bisa ikut tender proyek! Sana pergi atau saya panggilkan satpam buat ngusir kalian!” ucap kevin dengan tegas.
Mereka keluar dari kantor Biro Pembangunan Kota, seketika itu mereka berdua akhirnya sadar bahwa proyek ini diberikan kepada mereka bukan karena Biro Pembangunan Kota tertarik dengan mereka, melainkan Alena. Sekembalinya mereka ke kediamanan keluarga Veyron...
“Lara, Daniel, gimana hasilnya? Kita lolos? Tanya Adam.
“Daniel, kasih tahu kakek!”
Lantas Daniel menjelaskan semua kejadian dari awal sampai akhir ke Adam.
“Apa? Harus Alena yang datang? Emang Alena sudah berbuat apa sampai proyek segede ini bisa dikasih ke dia?”
“Iya, Pak Kevin bahkan sempat bilang proyek ini mau dikasih ke Aralnaco, tapi harus Alena yang handle!”