Horror Disturbing

Horror Disturbing
Berita Booming


Dua hari berlalu setelah mengunjungi desa yang terkena wabah laba-laba dengan jumlah korban mencapai 70% jumlah keseluruhan penduduk desa.


Dimana jumlah tersebut belum dihitung orang yang meninggal dunia lantaran virus laba-laba tersebut telah menyebar cepat ke seluruh tubuh.


Berita kemarin tentang siswi setengah badan masih sangat ramai diminati oleh para pembaca dan laris terjual pada media cetak maupun online.


Dan ditambah lagi dengan meledaknya berita terbaru dari Perusahaan Writer Company sebuah perusahaan yang seluruh sahamnya dipegang oleh Stefan Anggara, berita yang tengah booming tersebut berisi himbauan virus mematikan yang menyebabkan wabah laba-laba terjadi.


Di rangkum dan diulas dengan baik dan jelas serta rinci sehingga pembaca memahami isi berita tersebut.


Keluaran berita mengenai wabah laba-laba itu dimuat dalam beberapa tema yang diantaranya bertema asal mula wabah tersebut terjadi dan konspirasi dibaliknya.


Hani kini menghela nafas panjang setelah menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Ia tengah duduk sembari merenggang kan tubuh akibat nyeri pada punggung karena terlalu lama pada posisi mengetik keyboard yang tidak teratur.


Dan di hari ia menelpon suaminya untuk yang kedua kalinya Hani sempat mengirimkan pesan yang panjang menjelaskan tentang dirinya di kota bernama Tragedy dan seputar informasi cara ia dapat keluar dari sini.


Awalnya Hani sempat berpikir jika pesan chat akan error sama seperti dirinya yang ingin menelpon sang suami diwaktu belum menyelesaikan tugas menuliskan berita terbaru.


Tapi nyatanya menulis pesan di saat itu adalah ide yang cemerlang karena pesan tersebut terkirim dan tidak error seperti di waktu-waktu sebelumnya itu.


"Akhirnya deadline yang menumpuk selesai juga, em sudah waktunya makan siang. Btw dimana pria dingin itu, bisa-bisanya selama dua hari ini dia jarang menampakkan diri?" ucap Hani memasang wajah cemberut.


"Astaga Hani. Kamu terlalu memikirkan pria yang bukan siapa-siapa bagimu, dia hanyalah seseorang penolong yang mau membantuku saja dengan suatu alasan tertentu. Jika sesuatu itu berhasil didapatkan maka dia akan meninggalkan mu, seperti itulah dia orangnya," ucap Hani bergumam pada dirinya sendiri.


Dan orang yang sedang dibicarakan olehnya tanpa sepengetahuan dirinya berada dibelakangnya. Stefan Mendengarkan dengan jelas semua yang Hani omongkan barusan.


Tidak ingin Hani merasa canggung maka ia pun memutuskan untuk keluar dari ruangan ini yang sebelumnya pintu tidak tertutup sempurna.


Tok.. tok.. tok..


"Tamu, silahkan masuk... kamu!" ucap Hani sambil beranjak dan melihat siapa yang telah mengetuk pintu.


"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Stefan dingin seperti biasa.


"Ngga ada apa-apa, mari masuk."


Stefan duduk pada sofa sembari melepaskan jazz yang tengah dikenakannya, sementara Hani pergi menuju ke arah dapur.


Ruangan tempat kerja Hani ini terbilang cukup luas untuk disebut tempat tinggal, karena terdapat kamar tidur dan kamar mandi pribadi. Serta berbagai fasilitas lain yang ia temukan di tempat kerjanya.


"Suamiku suka sekali minum kopi, sebaliknya Stefan tidak menyukainya. Dia itu berbeda dari kebanyakan orang, bukannya kopi itu mempunyai beberapa manfaat luar biasa."


Hani masih terus bergumam meskipun sedang membuatkan Stefan teh manis, dikarenakan dirinya merasakan kecapean hampir ditingkat lesu.


"Ini, aku buatin teh manis sama bawain kamu sepotong kue."


Stefan hanya melihat Hani sekilas dan tidak menyahut omongannya sama sekali. Ia lebih memilih untuk mengambil sepotong kue. Pas sekali kondisi perutnya saat ini sedang berbunyi.


"Apa maksudmu mengambil kue itu huh, kembalikan padaku!" tandas Stefan kesal saat kue yang akan diambilnya kini di ambil oleh Hani.


"Sifat seperti itu jangan dibiasakan, itu tidak baik. Kamu jadi orang itu harus mengerti kapan waktunya mengucapkan terimakasih dan rasa empati. Apa kamu tidak sadar melakukan hal tersebut bisa membuat hati seseorang merasa sakit!" ucap Hani panjang lebar, sedangkan yang dinasehati hanya menatapnya dengan pandangan lebih kesal dari yang sebelumnya.


Namun akhirnya ia tahan untuk tidak emosi dan kembali pada wajah datarnya tanpa ekspresi.


Stefan yang ingin mengisi perut keroncongan dengan sesuatu untuk mengganjalnya sementara malah tertunda maupun diganggu oleh seseorang.


Yang kini membuatnya jadi malas makan roti yang diambil Hani itu.


"Apa, kamu mau kemana lagi? Kamu baru saja sampai kemari."


"Aku hanya ingin mencari sesuatu yang bisa dimakan di luar!" jawab Stefan bergegas pergi sembari meraih jazz yang ia taruh.


Hani menahan tangan Stefan hingga membuatnya menoleh dengan tatapan tidak ingin diganggu. Melihat sorot mata itu Hani langsung melepaskan genggaman.


Sadar dengan dirinya yang merasa bersalah Hani lalu berlari kecil hingga berada di dihadapan Stefan berniat untuk menghadangnya.


Keduanya tangannya direntangkan membentuk blokade menutup jalan.


"Kamu sedang datang itu kan, serta dirimu yang sering bergumam disebabkan karena kelelahan saat bekerja. Stts... diam, lebih baik kamu tidak bicara lagi sekarang. Jadi masakan saja sesuatu yang enak sebagai permintaan maaf mu kepadaku!" ucap Stefan diakhiri dengan perintah berhubungan dengan Hani yang menghadangnya.


Hani tidak menyangka jika orang sedingin Stefan akan kalah juga oleh hati nurani.


Di dapur Hani sedang memasakkan sesuatu untuk Stefan, ia bahkan pernah juara memasak sewaktu masih sekolah.


Jadi masakan yang ia buat pasti mampu memuaskan lidah Stefan dan menghilangkan perutnya yang lapar, karena Hani mengetahuinya dari ekspresi Stefan sebelumnya.


Dalam 10 menit ia telah selesai membuatkan sebuah masakan berkuah yang kini siap untuk dihidangkan.


"Maaf aku agak lama, ini masakan buatan ku, semoga kamu menyukainya."


"Hm, aku mencobanya terlebih dahulu."


"Tapi sebelum itu aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu tentang berita yang akan kamu tulis nantinya. Kali ini sangat mudah, karena kamu hanya bertanya-tanya saja dan menulis sesuatu yang bisa dijadikan isi berita disana."


"Menulis di...?"


"Rumah tempat kediaman korban yang diketahui telah mengalami tragedi naas dalam hidupnya. Beliau berumur 34 tahun dan memiliki dua orang anak, beliau meninggal setelah melakukan percobaan bunuh diri," jelas Stefan.


"Jadi aku harus bertanya kepada anaknya yang masih hidup untuk menceritakan kisah orang tuanya?" tanya Hani.


"Begitulah, karena ada kejanggalan pada kematian beliau yang masih menjadi teka-teki sampai sekarang. Jika kamu bisa menemukannya maka akan jadi nilai tambah, dan kamu tidak usah khawatir jika menyebarkan berita ini akan dianggap melanggar hak privasi orang lain."


"Semuanya sudah aku atur dengan baik."


"Kalau gitu bisakah kamu menyampaikan hal yang dialami oleh korban sedikit?" tanya Hani mulai serius memperhatikan Stefan.


"Beliau itu memiliki obsesi yang unik, bahkan membuatnya mau tak mau harus menurutinya ego nya. Dan lambat laun obsesinya semakin menjadi, hingga beliau wafat dalam keadaan yang creepy meninggalkan misteri dan tanda tanya."


Seusai menyampaikan hal yang ingin Stefan sampaikan kepada Hani ia pun mulai mencicipi masakan Hani tersebut.


Di mulai dengan menyeruput sendok berisi kuah yang sudah ia tiup terlebih dahulu.


"Apa masakan buatan ku enak, bagaimana rasanya?" tanya Hani antusias tak sabar menunggu pendapat Stefan tentang masakannya.


"Lumayan, kau ternyata bisa masak juga."


"Gitu ya, cuma lumayan doang jawaban mu..." Hani menundukkan wajahnya.


Diam untuk sesaat lalu ia ijin pergi.


Hani kembali ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Sementara Stefan nampak memakan masakan Hani tersebut dengan lahap sembari sesekali menyeruput kuah masakan itu.


"Dia pintar masak juga ternyata, apa dia belajar sendiri atau ada yang mengajarkannya?"