
Meskipun menyakitkan pada akhirnya Gerry berhasil lolos dari jebakan tikus yang memerangkap satu kakinya hingga terluka parah.
Dikarenakan jebakan tikus tersebut berbeda dari kebanyakan yang ia temui. Nampak telah dimodifikasi sedemikian rupa untuk menambah tingkat berbahaya jebakan tersebut.
Sayangnya dirinya kini terkepung oleh hewan-hewan predator itu karena sibuk melepaskan kakinya.
Yang salah satunya adalah hewan dan manusia hasil dari eksperimen dengan kepala manusia bergabung dengan tubuh macan, bahkan kaki bagian depan macan itu menggunakan tangan manusia.
"Hihihi... bunuh dia...!" lalu kepala itu berucap akan membunuh Gerry lewat tubuh macan. Meskipun kaki bagian depan yang menggunakan kedua tangan manusia itu terluka parah entah kenapa.
Hewan-hewan predator kemudian menyerang Gerry secara bersamaan.
Gerry yang sudah diliputi oleh amarah merasa benci dan dendam pada orang yang telah melakukan eksperimen gila ini, seorang manusia berhati iblis dan sangat kejam di dunia menurutnya.
Lantaran amarahnya yang sudah membuncah membuat Gerry menjadi lupa akan rasa sakit dari kakinya yang terluka.
Sehingga dirinya menyerang balik dengan menghempaskan hewan-hewan predator itu, meskipun darah pada kakinya mengucur deras tidak terurus.
Dan luka baru yang ikut turut menambahkan keadaan tak mengenakkan diri Gerry sekarang.
Dor!
Dor!
Senjata api yang ditempelkan pada hewan-hewan hasil eksperimen itu bahkan dihindari Gerry dengan mudah, dikarenakan matanya yang awas.
Memiliki hati nurani yang kuat pada akhirnya Gerry sama sekali tidak membunuh hewan-hewan predator yang menyerangnya.
Malahan dirinya memilih untuk melumpuhkannya dengan membuat pingsan hewan hasil dari eksperimen itu.
Sementara itu di saat yang sama Hani tengah memasuki ruangan yang ditemukannya dari balik dinding.
Secara tidak sengaja ia temukan saat melihatnya dengan seksama.
Membawanya ke sebuah ruangan dimana layar monitor berjumlah banyak menampilkan keadaan setiap ruangan yang berbeda di tempat ini.
Sayangnya ruangan ini seperti telah ditinggalkan dari sarang laba-laba yang memenuhi sekitaran ruangan ini.
Hani lalu membersihkan sarang tersebut agar dirinya dapat duduk di kursi dan melihat monitor yang menurutnya akan mati lantaran suhunya sudah panas.
Entah berapa lama monitor tersebut telah ditinggal dalam keadaan menyala selama berjam-jam, Hani tidak tahu. Yang pasti dirinya tertolong lantaran dapat mengetahui gerak-gerik orang yang mendiami bangunan ini.
Melihat Gerry sedang diincar oleh seseorang dan hendak menembaknya dari jauh menggunakan senjata Laras panjang. Hani lalu menghubungi Gerry saat ini juga.
"Gerry.. ini aku Hani, ada seseorang di sekitarmu berniat akan menembak! Aku serius, karena aku menemukan ruangan rahasia yang dapat membuatku melihat seisi ruangan di bangunan ini!"
Meskipun saat ini Gerry tengah mendapati kabar baik tapi ekspresi tetap ia jaga agar tidak menimbulkan kecurigaan orang yang hendak menembaknya.
Kini Gerry berpura-pura berjalan untuk melihat-lihat ruangan yang ditempatinya sekarang, berisi barang-barang antik bernilai seni.
Dor!
Peluru melesat ke arah Gerry, namun karena ia sudah mengetahui seseorang yang menembaknya, membuatnya mengantisipasi arah tembakan dan berhasil menghindarinya.
Tap.. tap.. tap..
Dor!
Dor!
Dor!
Dengan gerakan berputar lalu berlari arah orang yang tengah bersembunyi sambil menghindari beberapa peluru yang melesat ke arahnya. Tak lama Gerry akhirnya berhasil melumpuhkan orang itu tanpa perlawanan lain.
"Orang ini.. dia pasti adalah asisten dari Profesor gila itu, aku pasti menangkapnya juga!" ucap Gerry setelahnya seraya mengepalkan kedua tangannya.
Berbeda dengan rekan-rekannya Robin terus-terusan mendapatkan banyak masalah setiap dirinya lolos dari masalah sebelumnya.
Dan gorila itu juga hasil dari eksperimen lantaran tubuhnya di tambahkan kepala manusia yang menyatu dengan perutnya.
Ada pula gorila berkepala manusia yang kini menatap Gerry tajam dari jarak jauh. Serta hal-hal tidak mengenakkan untuk dilihat pada tubuh gorila itu.
Tak lama kelima gorila itu menuju ke arah Robin dan melakukan serangan demi serangan menggunakan senjata yang dipegangnya.
Brakk!
Wus...
Bugh!
Sama seperti Gerry, Robin kini berpikir agar dirinya tak membunuh lagi. Dan memilih untuk menumbangkan gorila itu saja dengan cara bergulat.
Tubuh atletis dan refleks yang bagus membuat Robin mudah untuk menghindari serangan, bahkan sempat menyerang balik di hingga dua gorila terhempas.
"Aku tidak akan membunuh kalian, ku harap kalian mengerti bahwa aku akan menyelamatkan kalian dari tempat ini!" ucap Robin setelah dirinya agak menjauh dari tempat dirinya sibuk menghindar dan menyerang.
Gorila berkepala manusia lalu mendekatinya.
"Keluar dari sini! Sama saja dengan mempermalukan diriku yang sudah menjadi monster seperti ini, dan jika diriku diselamatkan dan dibawa ke kota. Kemungkinan terburuknya kami akan dipajang di suatu tempat, karena kehidupan lama kami telah berakhir dan takkan bisa seperti dulu lagi!" ucapnya dengan tatapan serius.
Lalu Gorila lain dengan kepala yang menyatu dengan kepala Gorila membuka mulut.
"Ya benar, untuk apa kita kembali jika pada akhirnya kehidupan lama kita tidak bisa kembali. Disini kita bebas melakukan apa saja dan bebas dari kehidupan yang melelahkan, apalagi mendapatkan tamu tak diundang seperti dirimu. Hehehe... mainan yang cocok."
"Baiklah, jika itu keinginan kalian. Terpaksa aku harus melumpuhkan kalian bagaimanapun caranya, kemarilah, serang diriku secara bersamaan. Bukannya kalian bebas di tempat ini!!" sahut Robin keras penuh penekan menjelang akhir ucapan.
Kali ini kelima gorila itu atau hasil dari eksperimen menatap Robin dengan penuh amarah, pada akhirnya mereka bersamaan untuk menyerang Robin. Bedanya dengan mengepungnya terlebih dahulu, namun...
Bugh!
Bugh!
Bugh
Bugh!
Hanya dengan satu teknik yaitu pukulan setelah menghindari serangan Robin dapat menumbangkan mereka secara bergantian. Dan menyisakan satu gorila berkepala manusia dengan wajah gelisah.
"Bagaimana, percuma saja kalian menyerang diriku secara bersamaan jika amarah menguasai diri kalian hingga memilih untuk mengabaikan sisi kemanusiaan!" ucap Robin.
"Tch. Kalau begitu aku akan tetap menyerang mu tanpa ampun hahaha!"
"Ada yang aneh, perkataannya barusan...?"
Dharr!!!
Sebuah ledakan terjadi saat aksi gorila yang berkepala manusia mendekati Robin dengan ekspresi tidak sesuai dengan ucapannya.
Nyatanya dalam perut hasil ekperimen itu terdapat sebuah bom peledak yang sengaja di taruh untuk suatu saat diaktifkan.
Pelakunya tak lain adalah Liam anak Profesor Valen.
Di dalam kamar yang gelap itu dirinya merasa kesal sekali hingga tak sengaja membunuh ibunya yang sebelumnya berniat meredakan emosi anaknya.
"Sialan, i-ibu sudah.. mati... dan aku yang membunuhnya..."
Menyesal dengan dirinya yang telah membunuh ibunya lantaran bermaksud baik membuat Liam sangat terpukul hingga membangkitkan niat membunuh untuk membalaskan dendamnya.
Saat dirinya mengganggap bahwa dirinya tidak sepenuhnya bersalah, dan yang harus disalahkan adalah orang-orang itu.
"
Sementara Liam tidak mengetahui jika dalam kegelapan dibelakangnya ada sosok yang hendak menerkamnya.