Horror Disturbing

Horror Disturbing
Wajah Pada Benda Mati


Dalam radius yang tidak diketahui oleh Hani para bodyguard mengikuti mobilnya dari kejauhan, jumlah seluruh mobil para bodyguard itu berjumlah dua puluh.


Hani mempercepat perjalanannya dan membelah jalanan dengan lihai.


Sesampainya di lokasi pada alamat tertera pada mesin pencarian alamat seseorang yang mengirimkannya pesan kini dirinya menghampiri sebuah kediaman persis pada deskripsi yang orang itu bilang.


Rumah elit dan bersebelahan dengan rumah-rumah lain, karena berada di komplek perumahan berbayar setiap tahunnya.


Tok..tok..tok..


Si empunya membuka pintu rumah lalu mempersilahkan Hani untuk masuk dengan ramah.


Menawari Hani minuman dingin atau panas dan jenis minuman yang di sukainya, dirinya lalu memanggil seseorang hingga muncul wanita paruh baya.


Yang Hani duga adalah pembantu di rumah ini terlihat dari pakaian dan penyebutan khas kepada majikannya.


"Jadi begini Bu ehm... maksud saya nona, saya akan langsung saja menjelaskan hal supranatural yang saya alami. Dan hal itu ternyata dapat dijelaskan dengan logika, bahwa saya ini mengalami Pareidolia!" ujar pria usia sekitaran 21-24 tahun menjelaskan tentang dirinya, namun belum menjelaskan hal supranatural yang dialaminya.


Hani mengetahui arti Pareidolia dan ia tidak menganggap hal yang dialami oleh pengidapnya adalah hal supranatural, karena bisa dijelaskan oleh ilmu medis.


Disebut sebagai sebuah fenomena bagi semua orang yang dapat melihat wajah atau pola pada benda mati.


"Maaf tuan, saya tidak bisa melanjutkan membahas hal yang tuan alami, karena bukan termasuk sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dan bukan termasuk hal supranatural!" jelas Hani terlihat meminta maaf.


"Yah, saya mengerti itu. Sebelumnya saya sudah memeriksakan diri dan menemui seorang psikiater, karena apa yang saya alami yaitu melihat wajah pada benda mati semakin parah. Namun sayangnya tidak membuahkan hasil sama sekali."


Hani mengartikan perkataan pria ini agar dicarikan solusi untuk menghilangkan Pareidolia yang dialaminya, sehingga dengan berat hati Hani akan mengakhiri pembicaraan ini segera.


"Tuan, saya harap tuan dapat berkonsultasi kepada dokter secara berkala agar..." belum selesai Hani bicara dirinya di buat terkejut melihat wajah manusia di atas langit-langit persis seperti aslinya.


Pria ini lalu menjelaskan jika sesuatu yang dilihatnya seperti wajah akan menjadi bentuk wajah seseorang seperti aslinya.


Wajah di atas langit-langit rumahnya itu adalah contohnya terlihat menonjol dengan ekspresi marah.


Dia lalu mengajak Hani untuk melihat ke ruang gudang dimana dinding yang ada disana banyak yang berlubang dan tambalan bekas semen yang tidak di cat.


Saat sampai di gudang Hani dibuat terkejut melihat banyak wajah manusia yang ia lihat dengan berbagai ekspresi serta terlihat menonjol.


Serta wajah yang mengeluarkan darah dari mulutnya yang sangat-sangat menjijikkan saat Hani amati.


Dan hal ini cukup membuktikan hal supranatural yang sulit untuk dijelaskan dan terdapat sebuah misteri.


"Kalau begitu saya akan mengujinya, boleh kan?" ucap Hani.


Di halaman belakang rumah Hani berusaha mencari sesuatu yang nampak seperti wajah lalu menunjukkannya kepada pria ini.


"Itu dia!"


"Tuan silahkan lihat ini!"


Sebuah batu terdapat corak seperti wajah manusia menurut Hani dan ia menunjukkannya kepada tuan rumah.


Tak lama batu kecil tersebut perlahan menonjolkan wajah membuat Hani langsung menjatuhkannya dan menjauhinya secara spontan.


Pria itu lalu mendekati Hani.


"Apa nona tidak apa-apa?"


"Saya baik-baik saja, hanya saja saya barusan terkejut melihat tonjolan wajah pada batu kecil tadi. Ngomong-ngomong wajah itu permanen?" tanya Hani mulai penasaran.


"Hm, begitulah. Tapi saya tidak bisa memastikan wajah pada benda mati itu akan selamanya. Karena batu yang terdapat wajah itu nantinya akan hidup!"


Semacam hal berbau mistis yang kemungkinan sulit untuk dijelaskan melalui akal sehat. Kemudian Hani mendekati batu yang sebelumnya ia jatuhkan.


Melihatnya tanpa menyentuhnya namun ia mengamati dengan seksama kemudian memfoto dan memvideokan batu tersebut.


Tuan rumah pun mengijinkan Hani mengambil bukti tersebut.


Keduanya lalu menuju gudang yang sebelumnya dimasuki, namun kali ini si tuan rumah menunjukkan kepada Hani wajah yang dikatakan olehnya bisa hidup.


Hani menelan salivanya saat melihat wajah yang menempel pada dinding berganti-ganti ekspresi.


"Begini, saya pernah melakukan eksperimen pada wajah ini. Yang sudah sekitar satu bulan saya biarkan tanpa mencopotnya, dan setelah satu bulan wajah ini dapat menggerakkan dirinya dan berganti ekspresi!"


"Apa ada yang lebih lama dari yang ini tuan?" tanya Hani.


"Ada, tapi nanti saya tunjukkan. Sebelum itu saya akan menunjukkan keanehan wajah ini, dia bisa mengeluarkan darah jika saya memukulnya. Berumur setengah bulan!"


Hani mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh tuan rumah sembari mencatat informasi itu pada buku catatannya.


"Wajah ini...wajah seorang wanita," ucap Hani bersuara kecil.


Beberapa menit kemudian Hani sudah cukup mendapati bahan berita baru dan ingin mengakhiri kunjungannya ini.


"Tuan, sepertinya saya akan pamit, karena saya rasa informasi bapak berikan sudah cukup sebagai berita kami. Dan ini uang sebagai tanda terimakasih atas waktu yang tuan berikan kepada saya."


"Hmm, ya terimakasih banyak. Tapi sebelum nona pulang saya akan menunjukkan putri saya yang lama terbaring di kamarnya, apa nona mau melihatnya sebentar guna menghilangkan kejenuhan dirinya?"


Hani mengangguk sebagai jawaban "iya" ia lalu mengekor dibelakang tuan rumah yang berjalan menuju kamar putrinya.


Klek!


"Eh, kamar ini... tertutup."


"Rinka ada tamu, ayo sapa!" ucap tuan rumah kepada putrinya sedang tidur menutup dirinya dengan selimut.


"Emm... tidak usah tuan, biarkan Rinka tidur, mungkin dia kecapean," ujar Hani tidak enak kehadirannya mengganggu orang yang sedang tidur.


Selimut itu lalu bergerak-gerak dan terdengar suara orang lain seperti halnya sedang berbicara, bahkan ada yang menyuruh Rinka untuk bangun.


Dan alangkah terkejutnya Hani saat melihat selimut yang menutupi Rinka merosot saat dia bangun, memperlihatkan tubuh gadis itu yang dipenuhi wajah manusia dari leher sampai kaki. Dan Rinka seakan tidak mengenakan pakaian.


Wajah pada tubuhnya beragam ada wanita dan pria serta wajah anak kecil lebih parahnya lagi Hani melihat wajah bayi terlihat sedang menangis.


Keluar dari rumah si empunya Hani terkejut dengan banyaknya bodyguard yang menundukkan kepalanya kepada Hani menunggu sebuah perintah.


Hani pun mengerti dan menyuruh mereka untuk mengecek masuk kedalam rumah pria tadi.


Sepulangnya Hani merasa ada yang aneh saya dirinya menaruh tas yang barusan ia letakkan.


"Ha... ha... ha..."


Saat dirinya membalikkan tas ia dibuat terkejut melihat wajah orang tua sedang kesulitan bernafas membuat Hani pingsan di tempat.


Yang untungnya saat itu Stefan ada disana dan dengan sigap menangkap tubuh Hani yang jatuh.


"Tidak ada habisnya," ucap Stefan.


Tentu saja Hani shock dan menjerit histeris sembari pergi dari depan kamar Rinka segera.