
"Aku dimana eh..?" ucap Hani merasakan sakit pada kepalanya dan hatinya entah kenapa ikut merasakan. Bahkan dirinya bingung setelah terbangun.
Dirinya kemudian memutuskan untuk beranjak namun selimutnya tertahan oleh sesuatu saat melirik sebelah kirinya Hani mendapati Stefan tengah tertidur di samping ranjang rumah sakit.
"Dia, berarti aku..." Hani termenung tidak melanjutkan perkataannya.
"Oh, kau sudah bangun ya. Padahal dokter mengatakan kamu sedang tertidur pulas yang kemungkinan bangun besok," ucap Stefan yang rupanya sudah terbangun dari tidurnya.
Hani masih diam tidak menyahut perkataan Stefan barusan kini dirinya terlihat sedang melamun. Hingga lama kelamaan bukit air mata jatuh pada selimut.
Stefan yang melihatnya tampak tenang seperti biasa biasa dengan raut wajah datar seperti halnya acuh pada keadaan.
Namun dirinya merasakan dorongan yang mau tak mau harus menenangkan Hani yang sedang dalam hati gundah gulana.
"Aku tebak, kamu pasti bermimpi tentang suamimu. Dan tidak salah lagi mimpimu menggambarkan perselingkuhan dirinya!" ucap Stefan setengah benar dari perkataannya.
Hani terkejut saat mendengarnya hingga ia kini buru-buru menghapus air matanya.
"Pinjamkan aku ponselmu!" titah Hani terlihat buru-buru memastikan kebenaran tentang suaminya, dan Stefan memahaminya.
Tidak ingin melihat Hani melakukan tindakan gegabah jika permintaannya tidak dituruti Stefan mau tak mau harus menurutinya.
Menyodorkan sebuah benda pipih tanpa sepatah kata kepada Hani lalu ia beranjak pergi meninggalkan ruangan kamar tersebut.
Drtt...
"Iya ada apa sayang?" ucap seseorang dari sebrang sana.
"Mas, aku mau tanya sama kamu. Apa kamu selama ini berselingkuh di belakangku, jawab dengan jujur mas?"
"Tidak Han, aku tidak mungkin melakukan perbuatan seperti itu, karena aku sangat mencintai dirimu lebih dari apapun."
"Terus kenapa kamu berkata seperti itu, apa ada masalah disana atau..."
"Aku bermimpi buruk tentang dirimu yang berselingkuh, itulah sebabnya aku ingin memastikannya. Karena mimpi yang aku alami seakan nyata."
Beberapa saat mereka berbicara lewat sambungan telepon hingga tak terasa satu setengah jam berlalu. Kini Hani terlihat ceria kembali dan dibuat luluh oleh perkataan suaminya.
Panggilan pun berakhir Hani yang merasa lapar berniat untuk memanggil Stefan ia tahu sebelumnya dia keluar meninggalkan kamar ini.
"Aku harus semangat menyelesaikan tugasku agar cepat-cepat keluar dari sih," gumam Hani seraya mengangkat kedua tangannya keatas. Dan hal itu diketahui oleh Stefan yang tengah melirik di luar pintu kamar.
Apa yang Hani katakan sudah terekam dalam ingatannya.
"Hei lihat, pria tampan itu berdiri disana selama satu jam. Apa dia tidak merasa cape? tanya seorang wanita paruh baya yang melihat pria tak jauh darinya selalu berada disana sebelumnya.
"Itu namanya jiwa muda nak, jiwa yang berapi-api, ingat!" ucap seorang nenek kepada anaknya.
"Ah... nenek... bisa aja."
Masih didalam kamarnya Hani disibukkan dengan melihat foto-foto Stefan di ponsel miliknya. Bergulir seakan berselancar jarinya.
"Eh, dia kelihatannya tampan juga. Tapi kok kelihatannya beda ya, dia sini terlihat tersenyum seperti senyuman tulus tanpa paksaan. Beda dengan dirinya sekarang yang sedingin es, bahkan senyuman saja jarang."
Klek!
Stefan kemudian masuk kedalam kamar dengan ekspresi datar namun ada sedikit raut kesal diwajahnya. Tentu saja Hani gelagapan saat Stefan masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.
"Kembalikan ponselku?" ucap Stefan seraya memajukan satu tangannya untuk meminta ponselnya kini berada di tangan Hani.
"Kamu nampaknya sedang marah, memangnya kenapa. Terus kamu langsung meminta ponsel aja ketimbang menanyakan keadaan diriku."
"Tidak usah banyak bicara kembalikan ponselnya, kau lihat sekarang jam berapa!" balas Stefan sembadit menunjuk ke arah jam dinding.
Sebenarnya Stefan agak kesal kepada Hani yang nampak begitu polosnya tidak mengetahui Stefan dari tadi berdiri dengan bosan menunggunya selesai berbicara lewat telepon.
"Oh ya, aku agak merasakan pusing. Ngomong-ngomong dokter menjelaskan apa tentang diriku?" tanya Hani sambil menatap Stefan tengah duduk. Tanpa sepengetahuan Hani dirinya langsung menghentikan tombol rekaman pada ponselnya.
"Kekurangan darah."
Hani mengepalkan erat kedua telapak tangannya seusai mendengar jawaban Stefan yang menurutnya terlalu sederhana dengan tatapan itu dan nada malas.
"Sudah kubilang kamu harus berubah jangan seperti ini lagi, ingat tentang ada hati seseorang yang tersakiti?" tanya Hani.
"Tidak."
"Um..." Hani sedang menahan amarahnya yang membuncah.
"Tapi bukannya membuat kamu marah maka kekurangan darahmu bisa di atasi!"
Mendengarnya Hani tertawa geli hingga melupakan amarahnya sebelumnya.
•••
Dua hari kemudian, Hani yang seharusnya menikmati waktu libur dari rutinitas kerjanya kini malah mengabaikan waktu liburannya.
Dia bilang dua hari saja sudah sangat cukup untuk dirinya memulihkan diri agar kondisinya fit seperti semula.
Sementara mengenai berita tentang kematian pak Nabe nilai jual semakin naik karena lumayan banyak pembaca pada koran maupun media online yang paling banyak dikunjungi.
Memunculkan berbagai pendapat dari kalangan masyarakat setelah membaca berita itu.
Dan akhir-akhir ini Stefan jadi sangat sibuk pada pekerjaannya sehingga Hani harus bertugas menuliskan bahan berita bersama dengan seorang bodyguard lagi.
Flashback on
"Hal yang akan kamu tuliskan selanjutnya adalah tentang rumah yang katanya berhantu. Yah. Rumah besar ini milik seorang komposer ternama. Dia mengaku pernah di ganggu oleh makhluk astral disana!" ucap Stefan nampak serius.
Hani kemudian melihat foto-foto tentang rumah itu yang memang sangat besar untuk ditempati seorang diri apalagi berada di daerah sunyi sepi.
"Gangguan seperti apa yang dia alami?" tanya Hani masih melihat-lihat hasil jepretan pada sudut luar rumah besar itu.
"Benda yang bergerak sendiri dan suara-suara aneh, bahkan dirinya pernah melihat seorang gadis masuk kedalam tembok!"
Flashback off
Sampai di tempat tujuan Hani keluar dari mobil dan memandangi sekitar tempat berdiri. Terlihat rumah model lama berwarna putih berdiri di tengah-tengah kawasan sepi.
Yang sebelah kanan dan kiri masih lebat dengan tumbuhan liar.
"Pantas saja dia banyak mengalami gangguan, rumahnya aja di tempat seperti ini," gumam Hani sambil bersedekap.
Tentu saja Hani merasakan agak takut untuk memasuki rumah itu dilihat dari jauh saja sudah membuat bulu kuduknya merinding.
Dan cuacanya mendukung latar menakutkan bagi tempat tersebut, meskipun terlihat bersih dan rapi dilihat dari pot tanaman hias yang tersusun rapi.
Serta halaman yang seharusnya berserakan dedaunan kering karena banyaknya pohon besar malah terlihat bersih.
"Aku tidak perlu khawatir kan, Stefan bilang bodyguard ini memiliki banyak kelebihan dibandingkan bodyguard waktu itu. Tapi apa dia bisa membedakan mana yang racun dan mana yang bukan?" ucap Hani dalam hati bertanya-tanya. Ia berpikiran persis seperti film horor yang pernah ditontonnya.
Tokoh utama masuk kedalam suatu rumah angker lalu berkenalan dengan si empunya dan ditawari minum.
Tak lama setelah itu dirinya tak sadarkan diri dan berada di suatu tempat asing baginya.