Horror Disturbing

Horror Disturbing
Seseorang Yang Terobsesi Pada Rasa Sakit


Setelah kembali Hani terkejut melihat mangkok berisi masakan yang dibuatnya telah habis tak tersisa.


Stefan yang melihat Hani tengah mematung kini menatapnya intens.


"Apa, apa yang membuatmu terperangah, sini berikan segelas air itu. Aku membutuhkannya sekarang!" tegas Stefan.


Hani kemudian menyodorkan segelas air putih tersebut lalu diraih gelas itu oleh Stefan dan langsung menengguk air didalamnya sekali tengguk.


"Hah... lega sekali."


"Ehem, melihatmu kecapean selama tiga hari ini, lantaran banyak berkutat didepan komputer dan menangani berita itu sampai lembur. Aku akan memberimu waktu liburan selama satu Minggu, dengan syarat mendapati hasil wawancara untuk sebuah berita hari ini."


Tentu saja Hani bersemangat sekali saat Stefan berbicara mengenai waktu liburan yang akan dia berikan kepada karyawan Perusahaan dadakannya itu.


"Satu Minggu sekedar cukup bagiku untuk menguak misteri kota ini, ditambah mendiskusikan keberadaan ku dengan suamiku tercinta. Bukannya sekarang aku memiliki satu kesempatan untuk menelpon suamiku," ucap Hani didalam hati.


Stefan yang melihat Hani senyam-senyum sendiri membuatnya jadi malas untuk melihatnya hingga memalingkan wajahnya sedikit.


"Deal yah! Kamu harus janji pada perkataan mu tadi."


"Sudah kubilang aku ini pria yang tidak akan menarik ucapan ku kembali, maupun mengingkari janji. Lihat pada ponselmu, aku sudah mengirimkan link map tempat itu!"


Tahun di kota ini mungkin memiliki lingkungan dan suasana suasana yang sama di tahun sebelumnya, yaitu di dunia tempat Hani berasal. Dengan perbedaan 14 tahun dan Hani berasal dari tahun 2022 masa depan dari sekarang.


Hanya saja Hani dibuat bingung mengingat kembali dengan seksama melalui berbagai informasi bahwa teknologi di kota ini sama seperti tahun 2022 dimana Smartphone ikut berperan penting pada kehidupan manusia.


"Oh ya, aku mau tanya. Sebenarnya kota ini di tahun berapa sekarang? Awal aku berada di kota ini aku mengira jika diriku berada di alam ghaib, tapi setelah lumayan lama beranda disini perlahan anggapan itu sirna."


Stefan masih diam belum berbicara bahkan ketika ia akan mengambil gelas berisi teh manis ia tunda. Tidak jadi mengambilnya.


"Kamu paham tentang prinsip anomali, jika iya, kamu akan mengerti apa yang terjadi pada diriku sebelumnya. Dari awal aku sudah menduga jika dirimu akan menyadarinya lambat laun."


Tok..tok..tok..


Suara ketukan pintu menghentikan pembicaraan mereka.


Dia adalah seorang pria berpakaian rapi memakai kacamata putih persegi saat Hani membukakannya pintu.


Hani menyuruhnya untuk masuk karena paham siapa orang yang dicari pria ini.


"Tuan, anda memiliki jadwal pertemuan hari ini dengan Ketua keluarga Gu, dan saya sudah menentukan tempat pertemuan yang cocok!" ucap Juiji sopan kepada Stefan yang notabenenya sebagai asisten.


"Hm, baik. Aku segera bersiap. Dan untukmu, kita akan bertemu lagi nanti. Jadi sebelum kita bertemu kamu harus selesai wawancara dan menunjukkan hasilnya kepadaku!" ucap Stefan.


"Humph, kamu masih saja begitu," Hani menjawab ucapan Stefan sambil bersedekap dan memalingkan muka tak lupa dengan ekspresi cemberutnya.


Sang Asisten yang mendengar karyawan berani berkata begitu kepada CEO hanya menelan ludah dan menunjukkan senyum palsu. Hingga badannya berkeringat dingin.


Stefan menghembuskan nafas berat lalu membuka mulutnya.


"Bukannya lebih cepat menuliskan berita lebih cepat harapan mu akan jadi kenyataan, percayalah padaku."


Sang Asisten pun terperangah karena selama dirinya bekerja disini belum pernah sekalipun bos nya itu mengalah seperti itu.


•••


Hari ini Hani memutuskan untuk menyelesaikan wawancara kepada anak pria paruh baya yang sudah meninggal 3 Minggu lalu, secepat mungkin.


Tak lama setelah membelah jalanan yang ramai akan kendaraan beroda empat Hani akhirnya sampai pada tempat tujuan.


Ia membuka pintu mobil dibantu oleh bodyguard suruhan itu, meskipun Hani sebenarnya tidak ingin kemari bersama seorang bodyguard. Hal itu lantaran Stefan mengatakan alasan logis yang tidak bisa Hani bantah.


Tepat di halaman rumah pria paruh baya itu mobil pribadi milik Stefan terparkir.


Tok..tok..tok..


Beberapa saat mengetuk akhirnya penghuni rumah membuka pintu.


"Siapa ya, ada apa datang kemari?" ucap gadis diduga adalah anak pria paruh baya itu. Umurnya Hani tebak pada kisaran 17-19 tahun.


"Saya sebagai penulis berita dari Perusahaan Writer Company ingin mewawancarai anda mengenai kasus kematian tuan Nabe," jelas Hani memperkenalkan diri.


"Maaf, saya tidak bisa diwawancarai."


Hani tertegun bukannya Stefan bilang dia akan mengurus masalah seperti ini, tapi yang ia dapatkan adalah penolakan dari keluarga orang yang akan diwawancarai.


Hendak menutup pintu dengan ekspresi kesal gadis ini lalu di tarik laki-laki kedalam rumah, dia terlihat muda yang mungkin saja seusia dengan gadis itu. Pikir Hani.


"Maaf, sebelumnya saya tidak menyambut kedatangan nona dan om dengan baik. Dia itu adik saya yang belum bisa menerima kepergian ayahnya, mari masuk."


Memasuki kediaman pria paruh baya itu bersama seorang bodyguard kini mereka mengikuti langkah laki-laki ini, diketahui adalah kakak gadis tadi.


Berhenti pada area belakang rumah yang tertutupi oleh tembok namun tidak memiliki atap. Hani dan bodyguard itu duduk pada kursi yang ada disana.


Tempat ini sebagian penuh akan rumput teki dan terlihat ada kolam ikan.


"Bisa saya mulai menceritakan kisah tentang ayah saya, nona?" ucap laki-laki ini setelah duduk dan berhadapan dengan Hani.


"Kalau boleh tahu, nama saudara siapa?" tanya Hani.


"Panggil saja saya Bima, saya kelas 11 dan adik saya hanya terpaut satu tahun. Bagaimana jika saya mulai bercerita!"


Hani tak habis pikir dengan anak muda didepannya ini, karena terlalu antusias dan tidak sabar untuk menceritakan kisah tentang ayahnya yang sudah wafat.


Hani menoleh ke arah bodyguard yang ada disampingnya dibalas anggukan kepala olehnya.


"Kalau gitu langsung ceritakan saja, saudara pasti sudah tahu kedatangan saya kesini untuk apa?!"


"Hmm benar, jadi saya akan terangkan terlebih dahulu sesuatu yang berhubungan dengan ayah saya. Bahwa ayah saya memiliki obsesi pada rasa sakit, entah kapan awal kali beliau terobsesi pada rasa sakit, saya sendiri tidak tahu."


"Sebulan yang lalu, ketika ayah saya dalam keadaan baik-baik saja. Saya mengetahui beliau sedang marah-marah kepada seorang pengemis yang wajah dan badannya penuh nanah dari bentolan di seluruh tubuhnya."


"Apa pengemis itu emosi setelahnya?" tanya bodyguard agar tidak makan gaji buta, dia juga harus berbicara bukannya diam saja.


"Tidak sama sekali, pengemis itu hanya diam menundukkan kepalanya. Lalu ayahku berkata kepadanya agar dirinya lebih baik bekerja saja, tidak usah mengemis-ngemis."


Hani sedang menjadi pendengar yang baik ia memperhatikan anak muda ini bercerita. Dan manggut-manggut pertanda memahami perkataannya.


"Lalu ayah saya berkata jika rasa sakit itu hanya imajinasi saja. Tidak ada hubungannya dengan orang yang tidak mau bekerja!"