Horror Disturbing

Horror Disturbing
Selesainya Kutukan Di Sekolah


Tiga orang murid yang kesurupan itu semuanya perempuan dan mereka Hani lihat memiliki ekspresi wajah yang berbeda.


Ada yang menangis histeris namun ekspresinya kontradiksi dengan senyuman kekaguman pada wajahnya, menangis dengan tawa gembira, dan terakhir yang membuat Hani mengerutkan dahi.


Pasalnya dia seakan orang yang tengah melihat sesuatu yang membuatnya sangat takut, namun tidak diketahui oleh orang lain selain dirinya.


Dilihat dari wajahnya saja murid perempuan ini berkeringat dingin sembari menangis dan menjerit histeris.


"Cepat panggil guru kemari!" ucap salah satu siswi kepada teman sekelasnya.


Tak lama kemudian ketiganya tersadarkan dari hal buruk sebelumnya hanya saja ketiganya seperti orang kebingungan.


"Aku harus menanyai salah satu dari ketiga murid yang mengalami kesurupan tadi!" ucap Hani dalam hati berniat untuk mengorek informasi dari salah satu teman sekelasnya yang kesurupan sebelumnya.


Drrtttt...


Ponsel Hani berbunyi saat jam istirahat kedua saat ini ia berada di atap sekolah dan sedang menunggu seseorang.


Tertera nama pada sang pemanggil tersebut yaitu Stefan.


"Ya, ada apa tuan?"


"Kamu harus berhati-hati, bahaya bisa saja mengincar nyawamu saat kamu lengah disana. Itu yang dikatakan wali samaranmu yang terakhir kalinya!"


"Tunggu, kamu bilang yang terakhir kalinya. Apa jangan-jangan dia sudah..."


"Fokus pada apa yang kamu lakukan, sepertinya kamu telah berhasil melawan pengaruh iblis di sekolah ini, dan ku harap kamu bisa melawannya untuk kedua kalinya."


"...Tuan kenapa bisa mengetahui aku..."


Belum selesai berbicara sambungan tersebut dimatikan secara sepihak oleh Stefan membuat Hati menghentakkan kakinya karena kesal.


Tapi dari perkataan Stefan tadi Hani memiliki ide guna merangkap iblis itu untuk selamanya agar tidak menggangu murid-murid di sekolah ini lagi.


Tap..tap..


Suara langkah seseorang menaiki tangga menuju atap sekolah sudah terdengar oleh Hani.


"Apa kita bisa melanjutkan transaksi!" ucap orang itu yang tak lain adalah salah satu teman sekelas Hani yang sebelumnya kesurupan.


Sebelumnya Hani mendekati teman sekelasnya ini untuk bertanya apa yang dia alami saat kesurupan hanya saja dia menolak, tapi berbisik ingin mendapatkan sesuatu saat dirinya sudah menceritakan tentang hal yang dialami.


Hani mengiyakan permintaannya memutuskan untuk bertemu di atap Sekolah di jam istirahat kedua.


"Hmm, jadi langsung ceritakan saja!"


"Awalnya aku mendengar seperti ada suara-suara di telingaku, lalu diriku merasa sudah di batas tertentu seakan kesadaran perlahan-lahan menghilang. Lalu... aku hanya ingat mimpi diriku mencoba... melawan... seseorang di tempat lain, yah aku ingat sekarang!"


Hani menuliskan poin penting dari perkataan teman sekelasnya itu sembari melanjutkan bertanya kepadanya lagi sampai jam istirahat kedua selesai.


Sepulangnya dari Sekolah Hani dijemput oleh bodyguard dengan penampilan seperti seorang supir dan mobil yang digunakan adalah model lama.


Hani mengetahui dia adalah seorang bodyguard dari ingatannya mengenali wajah bodyguard suruhan Stefan.


Dalam perjalanan Hani menggabungkan beberapa informasi yang ia dapatkan guna tercipta suatu kesimpulan.


Dari sebuah kutukan sekolah itu, namun bertolak belakang dengan iblis yang menjadi dalang kesurupan.


Waktu terjadi kesurupan selalu sama dan rutin di waktu itu. Korbannya pun kebanyakan perempuan.


Selain itu ada aktivitas supranatural saat malam hari di sekolah ini yang bisa ditemukan keesokan harinya, entah itu jejak maupun kekacauan yang ditimbulkan.


Untuk besok Hani akan mencari tahu tentang aktivitas supranatural itu secara gamblang sekaligus menjebak iblis dalangnya kesurupan.


Esoknya.


Ada segerombolan murid yang mungkin sedang difokuskan pada sesuatu hal itu membuat Hani penasaran.


Sebuah darah segar pada lantai yang nampak kental berwarna merah tua menjadi sorotan para murid.


Melewati perpustakaan ia pun dikejutkan dengan suara seseorang penuh kemarahan dari dalam, saking penasarannya Hani lalu memasuki ruang perpustakaan tersebut.


Menemukan seorang pria paruh baya Hani duga adalah pustakawan yang marah pada kekacauan di dalam perpustakaan.


Buku-buku terjatuh pada setiap rak seperti halnya ada orang iseng mengacaukan perpustakaan.


"Buku-bukunya pun dalam keadaan rusak, mungkin hal ini yang membuat marah seorang pustakawan sepertinya," ucap Hani dalam hati.


Pria itu belum mengetahui kehadiran Hani masih hanyut dalam kesibukannya.


Hani kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas B ada niatan untuk mengobrol dengan teman sekelasnya yang berangkat pagi.


"Hani... kamu berangkat pagi sekali?" seorang murid perempuan yang diketahui sedang membaca terkejut melihat kedatangan Hani pagi-pagi seperti dirinya.


"Hanya sebuah kebiasaan, sulit untuk aku dihilangkan," jawab Hani beralasan.


Hani lalu melakukan pendekatan kepadanya dilanjutkan mengobrol dengannya ketika sudah lumayan akrab.


Dari obrolan itu Hani mendapati informasi berbagai jejak aktivitas supranatural di sekolah ini ketika malam hari.


Di saat bel jam istirahat kedua selesai Hani mendengar suara pada kepalanya dan sama seperti sebelumnya dirinya melemah secara drastis.


Namun Hani sudah mengantisipasinya dengan baik.


"Serahkan dirimu padaku sementara, aku janji akan mengabulkan permintaanmu!"


Hani berkomunikasi dengan suara itu melalui suara didalam hatinya dan hal tersebut anehnya tersampaikan.


"Tapi kita harus menyetujui sebuah perjanjian mutlak, dan akan ada penalti jika salah satu diantara kita mengabaikan!"


"Pertama kalinya dalam ratusan tahun ada orang yang melakukan perjanjian denganku dan yang memulai bukan diriku, melainkan manusia, aku jadi tertarik untuk mewujudkan permohonanmu. Dan aku menerima tawaran itu, jadi jelaskan saja!"


"Jika dirimu tidak bisa mengabulkan permintaan diriku maka kamu pergi dari sekolah ini, dan aturannya dirimu tidak boleh memasuki diriku satu hari ini, jika melanggar maka dirimu lenyap!"


Note: sebuah perjanjian yang diusulkan manusia kepada iblis bersifat mutlak.


"Oh, baiklah. Persis seperti sebuah rencana. Tapi jika permintaanmu terkabul dirimu harus menjadi wadah diriku selama-lamanya!"


"Baiklah, sepertinya menguntungkan."


"Tsk, sulit di tebak ternyata jalan pikiranmu."


Hani saat ini seperti berada di ruangan gelap tak berujung hanya ada api berkobar tak jauh didepannya.


Sebuah kertas perjanjian telah ditandatangani oleh kedua belah pihak setelahnya, meskipun tak masuk akal tapi keduanya menyanggupi.


"Jadi aku ingin dirimu memasuki diriku sekarang!"


"Apa!? Itu berlawanan dengan aturan perjanjian dan kau menipuku dengan dalih sebuah perjanjian!"


"Bagaimana ya, tapi itu keinginan diriku, kamu kan bisa mengabulkan apapun?"


"Kau... aku tidak akan argh!!!"


Kembali pada kesadaran dirinya Hani sudah berhasil menyingkirkan iblis itu dari sekolah ini selama-lamanya.


Di jam istirahat kedua setelah usai dan bel berbunyi kini tak ada suara jeritan para murid lagi di setiap kelas.


Menandakan berakhirnya masa masa sulit berhubungan dengan mahluk tak kasat mata.


Sekarang ini Hani berada di atap sekolah sendirian sedang mempersiapkan diri untuk pekerjaannya nanti.


"Harusnya besok aku bisa meninggalkan sekolah ini dengan tenang, bahan berita juga telah aku dapatkan banyak," gumamnya.


"Jadi kamu seperti seorang mata-mata ya?" ucapan seseorang membuat Hani tersentak.