
Saat terbangun Hani sudah berada di kamarnya yang sebelumnya ia ingat berada di ruang tengah, Hani pun menerka jika dirinya sebelumnya pingsan lantaran melihat sesuatu yang mengerikan.
Yaitu tas miliknya terdapat wajah orang tua perempuan sedang dalam keadaan sesak nafas membuat dirinya shock seketika saat itu juga.
Tapi dirinya yang sekarang berada di kamar itu artinya ada seseorang yang telah membawanya kemari.
Hani lalu beranjak dari tempat tidurnya dan mencari Stefan siapa tahu dia sudah pulang.
mencari ke berbagai ruangan dirinya tidak menemukan keberadaan Stefan sama sekali yang mana membuatnya merinding berada sendirian di rumah yang luas dan besar ini.
Melihat jam tangan miliknya rupanya menunjukkan pukul 16.30 membuat Hani bertambah ketakutan ingin seseorang menemaninya.
Hani kemudian lari menuju kamarnya menutup pintu dan mengunci dari dalam.
"Huh...lega."
Dirinya saat ini merasa nyaman, ketika sudah berada didalam kamar seakan-akan kamar adalah tempat persembunyian terbaik. Mampu menghilangkan rasa takutnya dalam sekejap.
Memencet tombol daya ponselnya Hani lalu menekan logo headphone berwarna hijau guna menelpon Stefan.
"Ada apa, tumben sekali kamu memanggilku?" jawab Stefan dari sebrang sana.
"Kamu masih ada di kantor?"
"Iya."
"Pulangnya jam berapa?"
"Kapanpun setelah tugasku selesai dengan cepat, dan langsung saja ke tujuan dirimu menelpon ku."
"Gimana ya aku bilangnya..."
"Oke, aku matikan!"
"Jangan! Aku sebenarnya ketakutan sendirian di rumah setelah bangun, lebih takutnya lagi saat aku mau menuju ke ruang tengah tempat sebelumnya aku pingsan!"
Tut...tut...
Terdengar sambungan terputus secara sepihak membuat Hani kesal dan ingin teriak melampiaskan emosinya, namun ia urungkan setelah sadar dirinya sendirian di dalam rumah.
"Jahat banget pria dingin itu, beda sekali dengan suamiku. Dia pasti akan pulang kalau aku bilang ketakutan di rumah," gumam Hani sembari memeluk guling.
Tok..tok..tok..
"Siapa itu?" tanya Hani menghentikan aktivitasnya bermain game menanyai seseorang yang sedang mengetuk pintu kamarnya.
Tidak ada respon yang mana membuat Hani gelisah di tempat dan ingin bersembunyi, namun ia urungkan karena untuk melawan rasa takut pada dirinya.
Kemudian mencari sesuatu sebagai senjata untuk berjaga-jaga saat dirinya membuka pintu.
Tok..tok..tok..
Suara ketukan terdengar lagi kali ini semakin keras dan suara dobrakan pintu dengan tangan.
Drek! drek!
Hani memberanikan diri untuk mendekati pintu itu dan akan membuka untuk memastikan siapa yang mengetuk pintu kamarnya sembari memegang pas bunga.
Klek!
"Umm... ngga ada orang ya, ka...lau... begitu aku tutup saja pintunya."
Klek!
Hani kemudian merasa jika dirinya ke tempelan makhluk halus saat dirinya berada di luar, bahkan ia merasakan aura berbeda didekatnya.
Mampu membuat bulu kuduknya berdiri.
Prak!
Sebuah buku jatuh dari nakas membuat Hani langsung menutupi dirinya dengan selimut sampai tak terlihat dirinya.
Dok! dok!
Bukan cuma itu saja gangguan yang dialami olehnya terdengar lagi kali ini Hani pastikan adalah suara lemari.
Mengingat dirinya yang ingin cepat keluar dari kota ini dan pulang bertemu suaminya perasaan berani ini kini langsung naik dalam sekejap.
Dirinya membuka selimut dan beranjak dari tempat tidur lalu berlagak seperti hendak berkelahi.