
"Aku udah tepati janji menuliskan berita supranatural, jadi itu artinya aku bisa keluar dari kota ini bukan?" tanya Hani setelah rampung mengurus berkas perusahaan berita milik Stefan.
"Siapa bilang kau bisa keluar seenaknya, lagipula berita yang kau tulis itu baru satu berita saja. Meskipun berita yang kau tulis tengah ramai di perbincangkan, tapi belum memenuhi syarat keluar dari sini. Masih harus menuliskan berita lebih dari satu!"
"Apa!? Jadi aku harus berapa kali menulis berita?" tanya Hani dengan emosi membuncah ia lalu berdiri dari tempat duduknya kemudian memandangi Stefan yang tengah membaca koran. Dia kini ada di ruangan tempat Hani bekerja.
Untuk Hani sendiri seperti merasa dibohongi oleh Stefan karena perkataannya tidak sesuai dengan janjinya, yang akan mengeluarkan Hani dari kota ini jika mau menuliskan berita sesuai dengan janji.
Maka Hani akan melawan Stefan jika dia memang bermain-main dengan memanfaatkan kerja keras seseorang dengan iming-iming menjanjikan dan janji palsu.
"Kurang lebih 45 berita, dan sekarang tinggal 44 berita yang akan kamu tulis lagi supaya memenuhi syarat utama!" jelas Stefan tanpa rasa bersalah lalu kembali membaca koran. Mengabaikan Hani dengan kesibukan tersebut.
Hani yang tersulut emosi benar-benar dibuat marah dan jengkel dengan perkataan Stefan barusan yang tanpa kejelasan lebih spesifik.
Hani pun langsung meninggalkan tempat duduknya lalu menghampiri Stefan yang tengah duduk di sofa, kemudian ia mengambil paksa koran yang berada berada di tangan Stefan.
"Kamu! Beraninya menganggu ketenangan ku."
"Iya, memangnya kenapa. Tidak boleh aku bertindak sembarangan, bukannya kamu begitu!"
Stefan beranjak berdiri dan menatap datar Hani lalu membuka mulutnya.
"Aku ingatkan lagi kepadamu, bahwa yang aku katakan tadi memang kenyataannya seperti itu. Jangan bertanya-tanya lagi kepadaku, atau aku benar-benar tidak mau lagi membantumu," ancam Stefan sembari melenggang pergi.
Seperti biasa Hani selalu mendapati jawaban kurang memuaskan dari Stefan sama halnya jawaban beberapa hari yang lalu, ketika ia bertanya kepadanya tentang siapa Stefan sebenarnya.
Orang yang ditanya pun hanya diam dengan jawaban seadanya, membuat Hani saat itu kesal namun ia masih masih bersabar dan menahan diri.
Tapi sekarang ini kesabaran Hani sudah mencapai batasnya dan ingin tahu kebenaran tentang dirinya yang bisa berada di kota bernama "Tragedy" dan identitas Stefan.
Serta hubungan menulis berita dengan suatu cara agar dirinya dapat keluar dari sini. Pemikiran ini masih Hani pertanyaan kan pada dirinya, antara percaya karena terpaksa ingin pulang bertemu dengan suaminya lagi dan tidak percaya lantaran Stefan seperti menyembunyikan fakta.
Grep!
Hani menahan tangan Stefan saat akan pergi meninggalkan ruangan ini.
"Please Stefan, aku sebenarnya ingin tau kebenarannya. Kalau kamu mau mengatakan dengan jujur aku bakalan..." perkataan Hani tertahan saat Stefan berhasil lolos dari genggaman tangannya.
Seingatnya dirinya tadi sudah memegang erat satu tangan Stefan, tapi tidak disangka akan lolos begitu saja dengan mudahnya tanpa ia sadari dan reflek sebelum Stefan mencoba lolos dari genggaman erat barusan.
•••
Di waktu yang sama.
Di sebuah rumah tempat tinggal seorang pria berusia 25 tahun, dirinya tengah menikmati waktu luang bersama kekasihnya dengan menonton drama percintaan pada televisi.
Hingga drama itu selesai dan kini pria tersebut menyodorkan kotak merah kepada kekasihnya tersebut.
"Ini... bukannya..."
"Buka saja sayang, ini adalah hadiah dariku untukmu."
Sebuah cincin dan secarik kertas terlipat kecil di dalamnya. Tulisan pada kertas tersebut saat kekasih pria itu membacanya adalah "maukah kamu menikah denganku" bila iya balas dengan senyuman manis mu.
Tak lama berdiam diri akhirnya kekasihnya itu menerimanya, lalu pria itu langsung memakaikan cincin di jari manis kekasihnya.
Siaran darurat di televisi lalu mengagetkan keduanya yang sedang asyik bermesraan.
"Untuk seluruh masyarakat diminta harus berhati-hati pada wabah baru yang dikhawatirkan akan menyebar luas jika tidak segera ditangani dan diatasi lebih awal. Yaitu wabah dari laba-laba yang terinfeksi virus berbahaya!"
Pria itu langsung mematikan televisi nya tanpa selesai mendengarkan berita darurat tersebut dengan ekspresi kesal dan berdecak mengomentari berita tersebut, yang menurutnya hanya mencari sensasi saja.
"Eh, kok dimatiin?" tanya kekasihnya.
"Berita darurat tersebut sebenarnya hanyalah orang iseng yang menghack saluran berita lokal!" jelasnya.
"Oh gitu ya, aku percaya sama kamu."
Kekasihnya langsung percaya pada pria yang kini menjadi calon suaminya dikarenakan bekerja sebagai programmer. Ia pikir calon suaminya lebih tahu tentang hack yang tidak diketahui olehnya.
•••
2 hari kemudian.
Hani kini sedang mendengarkan berita di televisi sambil mengemil cemilan sembari menunggu kabar dari Stefan yang akan memberinya informasi tentang berita yang akan Hani tulis nantinya.
Dalam artian Stefan memang berniat untuk memudahkan Hani mencari berita supranatural dan tidak masuk akal.
Berita yang Hani tonton menjelaskan tentang seseorang yang menghack pusat siaran berita dua hari yang lalu.
Dia menghack siaran berita lokal menjadi siaran darurat dengan berita yang terbilang hanya hoax demi menakuti para penduduk kota Tragedy.
Seorang pria yang mengenakan masker dalam berita tersebut membahas mengenai wabah berbahaya dinamakan parasites on spiders yang menyebabkan efek mengerikan pada tubuh manusia, salah satunya di bagian telapak tangan setelah tergigit laba-laba yang terinfeksi.
Dalam berita tersebut pula ditampilkan gambar seorang korban yang mengalami perubahan pada pergelangan telapak tangannya yang menghitam.
Detik akhir dia mengatakan bahwa sekarang ini masih belum parah karena sempat mendapati perawatan khusus.
Diinformasikan juga bahwa jumlah laba-laba sekarang ini telah meningkat drastis dikarenakan ledakan jumlah perkembangan biakan yang tidak terkontrol.
Sehingga akan menimbulkan kesenjangan antara hewan-hewan lain, bahkan ada dampak negatif yang ditimbulkan.
"Wabah dari laba-laba ya, mungkin ada hubungannya dengan sarang laba-laba yang aku temui kemarin."
Stefan sudah kembali dan langsung menyodorkan beberapa catatan mengenai hal yang akan dituliskan dalam berita oleh Hani.
Hani langsung mengambilnya dan membaca isi catatan tersebut.
"Serius, berita yang akan aku tulis berhubungan dengan wabah laba-laba. Kamu percaya pada berita hoax yang dilakukan oleh seorang Hacker?" tanya Hani setelah beberapa menit membaca.
"Begitulah, karena sudah aku pastikan hacker untuk menginformasikan hal tersebut bukan sekedar opini saja. Lihat sendiri bukti yang aku abadikan lewat kamera!"
Foto-foto hasil jepretan Stefan semuanya tentang laba-laba namun yang membuat Hani terdiam adalah apa yang digambarkan dalam foto tersebut.
Ada pohon yang diselimuti oleh sarang laba-laba dan hampir menutupinya secara keseluruhan, lalu laba-laba yang tertiup angin berjumlah ribuan, dan bagian rumah warga yang di tutupi oleh sarang laba-laba.
"Terus aku harus menuliskan berita tentang wabah laba-laba yang belum terbukti ini?!"
"Iya, tapi aku sarankan agar kamu tidak keluar rumah selama seminggu terlebih dahulu."
"Alasannya?"
"Agar dirimu percaya pada wabah berbahaya yang akan terjadi. Dan bukannya kamu bisa menelpon suamimu sekarang ini, karena kemarin-kemarin kamu sudah menuliskan satu berita, ingat yang aku katakan waktu itu?"
Hani pun sumringah saat mendengarnya dan langsung beranjak dari sofa menuju telepon rumah untuk menghubungi suaminya.