Horror Disturbing

Horror Disturbing
Kejahatan Bertopeng


Temuan berkas yang tak sengaja Stefan temukan saat lari dari kejaran hasil eksperimen itu yang terpasangi bom membuatnya mendapatkan informasi mengenai para korban.


Dalam berkas itu pula terdapat catatan-catatan penting mengenai identitas para korban, lengkap dengan foto sebelum dan sesudah dijadikannya sebuah eksperimen.


Naasnya lagi Stefan mendapati sebuah kenyataan pahit bahwa para korban sudah seakan di legalkan untuk dijadikan bahan eksperimen maupun kelinci percobaan.


Dari tanda tangan seseorang yang merujuk pada sebuah bisnis gelap akhirnya Stefan tahu selama ini mereka aktif dalam kegiatan tidak manusiawi.


Mengadili para pelaku kejahatan dengan sangat mengerikan atau bagi orang-orang yang sudah tidak dianggap lagi didalam masyarakat maupun mata pihak berwajib.


Serta lepas tangan dari pihak keluarga dan sanak saudara serta kenalan semasa hidupnya.


Dan hal itu berhubungan erat dengan kasus kejahatannya yang sangat berat, seseorang itu akan didatangi oleh orang-orang dari bisnis gelap itu.


Bila perlu membelinya dengan harga mahal.


"Ini, aku menemukan berkas penjualan hasil eksperimen gila ini. Aku tidak menyangka bahwa korban selain dijadikan bahan eksperimen akan di jual pula setelahnya!" ujar Hani menyodorkan berkas temuannya kepada Stefan, ia tak menyangka bahwa perbuatan kejam dari ekperimen gila itu nyatanya mirip seperti bisnis pada umumnya.


Stefan mengambilnya lalu membacanya dengan teliti dan cepat, karena sekarang ini mereka sedang bersembunyi di suatu tempat, dalam sebuah ruangan kamar yang cukup besar.


"Aku mengerti sekarang, untuk itu aku akan memutuskan rantai dari tindak pidana melampaui batas ini!" tegas Stefan rahangnya nampak mengeras.


Sebenarnya alat komunikasi mereka saat ini tidak bisa digunakan sama sekali, namun anehnya bangunan yang mereka singgahi memiliki semacam teknologi termutakhir.


Walaupun didalamnya terlihat kuno dan biasa-biasa saja, tapi dari hal normal itu ada sesuatu tersembunyi yang butuh kejelian serta kesadaran akan sekitaran dengan baik.


Anggapan itu diperkuat dengan adanya aliran listrik ditempat terpencil ini yang jauh dari perkotaan dan desa sekitar.


Wof... wof... wof...


"Mereka datang!?" ujar Hani mulai gelisah serta merinding mendengar suara anjing itu lantaran suaranya terdengar seperti suara manusia.


Dan memang kenyataannya mereka adalah orang-orang yang dijadikan sebuah eksperimen.


"Tenang, aku sudah memiliki rencana. Hasil eksperimen itu tidak akan bisa mendekati kita maupun terbunuh akibat bom yang terpasang di tubuhnya!" ucap Gerry yang membuat Hani seketika tenang dari rasa kekhawatiran dan kegelisahannya.


"Hmmm."


Bom yang terpasang pada tubuh hasil eksperimen itu adalah tipe bom area, yang jika target berada pada area bom maka ledakan akan terjadi.


"Apa yang kamu rencanakan Gerry...?" ucap Hani berbisik karena penasaran dengan rencana Gerry.


"Itu, saat mereka berada di luar kamar ini gas pembuat pingsan akan aktif. Hanya dengan menekan remote control ini diriku bisa mengatur kapan gas itu akan aktif!" terang Gerry sembari menunjukkan remote control dari gas pembuat pingsan, hanya saja dibuat mengerutkan dahi setelahnya.


"Tapi nggak sampai masuk kesini kan gas berbahaya itu, sepertinya berbahaya bagi manusia dan hewan jika menciumnya?" tanya Hani lagi.


"Memang, tapi jarak kita sekarang ini diluar jangkauan gas yang keluar dari wadah bola berukuran kecil!"


Ches...


Tak lama anjing-anjing berkepala manusia itu mulai terlihat dan beberapa hendak memasuki kamar tempat mereka bertiga bersembunyi.


Di saat bersama pula wadah gas itu aktif menyebarkan gas berwarna putih hampir tak terlihat oleh lantaran seperti udara.


Hanya dalam waktu lima menit semua target berhasil dilumpuhkan.


"Hiiik!!"


"He...? Berarti anjing berkepala manusia yang kita temui di luar bangunan ini..."


"Ya, merekam semua percakapan kita. Itulah mengapa orang-orang dalam bangunan ini menyiapkan serangkaian rencana untuk menangkap kita, tapi... tunggu dulu, bukannya mereka sebelumnya ingin membuat kita berempat terbunuh?"


Temuan baru terlintas begitu saja saat Gerry menjelaskan perekam suara pada hasil eksperimen itu kepada Hani.


Mengarahkannya pada dua anggapan berbeda merujuk ke keinginan dari penghuni bangunan ini.


"Ingat saat gadis itu menjelaskan orang-orang yang menghuni bangunan ini, ada satu orang yang nampak mencurigakan, dia adalah orang terakhir yang sempat dilupakan oleh gadis itu!" timpal Stefan.


Keluar dari dalam kamar itu Gerry menyarankan untuk berpencar guna menemukan tempat persembunyian mereka.


Hani sempat mengatakan ketidaksetujuannya, namun Stefan menyela dan mengatakan setuju.


Pada akhirnya Gerry meninggalkan mereka berdua tanpa adanya rasa khawatir lantaran Hani maupun Stefan memiliki alat untuk menjaga diri masing-masing.


Hanya saja Gerry menegaskan dengan sopan dan rendah hati kepada Stefan agar tetap berada didalam kamar ini.


Sebuah kamar yang Gerry pastikan aman untuk dijadikan tempat persembunyian lantaran sudah lama tidak dibuka.


"Kenapa sih kamu setuju Gerry meninggalkan kita, bersama-sama kan lebih baik daripada sendirian?" tanya Hani merasa bahwa Stefan salah dalam mengambil keputusan, harusnya dia tidak memperbolehkan Gerry pergi sendirian. Padahal saran itu Gerry yang mencetuskan.


"Sederhana, agar memudahkan diriku dalam bergerak!" jawab Stefan singkat.


"Kalau begitu aku pergi dulu, kamu disini saja ya..." imbuhnya dengan senyuman yang jarang itu diakhir, tapi Hani menahan kepergian Stefan yang akan meninggalkan dirinya didalam kamar ini.


"Pokoknya aku nggak mengijinkan kamu pergi, titik!" pinta Hani memaksa sembari memegang dari samping lengan Stefan begitu erat.


"Aku hanya pergi sebentar. Sebenarnya diriku ingin buang air kecil, mana mungkin kan aku melakukannya didalam kamar ini, bukannya dirimu sudah berkeluarga!" sahut Stefan yang mana membuat Hani bimbang, tapi pada akhirnya memilih untuk melepaskan Stefan.


Klek.


"Hmm... tadi Gerry sekarang satu-satunya orang yang dapat ku mintai bantuan dan menjagaku malah pergi, memang disaat seperti ini diri sendirilah yang dapat dipercaya," gumam Hani sembari duduk di kursi dan bermain debu yang terdapat di atas meja.


Di satu sisi.


Robin melakukan hal serupa yaitu meninggalkan Sheila demi mengantisipasi hal yang tidak diinginkan terjadi.


Tak berselang lama meninggalkan gadis itu disana kini dirinya dalam situasi menyulitkan. Lantaran Karl yang selama ini memata-matai mereka dari layar monitor turun tangan guna menangkap mereka satu persatu.


Dia nampak percaya diri sekali lantaran menodongkan pistol kepada Robin begitupula sebaliknya, Robin menodongkan senjata Laras panjang kepadanya.


"Hehe... akan kuhancurkan tulang mu jika sudah tertangkap!" ancam Karl dengan senyum menyeringai tak ada takutnya sama sekali.


"Jangan terlalu percaya diri, takdirmu sekarang ini ditentukan oleh keberuntungan kedepannya!" sahut Robin dengan senyum setengah.


"Mau mati saja banyak lagak cih.."


Dor!


Dor!


Bruk!