
Tatapan wanita itu seakan mengekpresikan pertolongan kepada Hani, bahkan ia menangkap ekspresi kesedihan sekilas dari raut wajah wanita itu, yang dalam sekejap berubah setelah kakaknya batuk. Membuatnya kini menundukkan wajah, sekilas aku juga melihat raut ketakutan diwajahnya.
Jelas membuat Hani kesal, karena ia memiliki kesimpulan mendekati fakta mengenai adik pria paruh baya itu yang selama ini menderita karena ulah kakaknya, atau egonya.
Demi mengungkapkan hal itu Hani maupun Stefan saling memberi kode untuk bekerjasama mencari bukti-bukti konkrit.
Rambut wanita itu terlihat panjang semampai melihat sesuatu yang membuatnya mengerut dahi Hani kemudian mendekati wanita itu, lalu duduk di sampingnya.
"Pak, bolehkah saya berbicara berduaan dengan adik bapak. Mungkin saya bisa membuatnya tenang!" ujar Hani serius dengan ucapannya membuat kakak wanita itu menghela nafas panjang, sayangnya dia tidak memperbolehkan.
"Adik saya sebenarnya tidak ingin diganggu terlalu dekat dengan orang asing, dia terlihat diam karena terpaksa. Setelahnya, dia akan gelisah!" imbuhnya.
Saat Hani hendak menyuapi wanita itu berupa bubur dengan kuah kuning wanita muntah darah tepat didepan Hani, bahkan mengotori pakaiannya.
"Ah... ini selalu terjadi padanya.." ucap si empunya menepuk jidatnya dan dilirik oleh Stefan.
"Hmph.."
Sejurus kemudian Hani menutup mulutnya lantaran cairan muntahannya sudah naik ke mulutnya, setelah melihat sesuatu yang menjijikkan tanpa sensor.
Sesuatu itu bukan hanya makanan yang dimakan oleh wanita itu sebelumnya. Mengejutkan, organ dalamnya pun keluar bersamaan dengan muntahan darah itu.
Seketika membuatnya tewas di tempat setelah mengalami kematian diakibatkan oleh kejanggalan muntahannya itu.
Stefan kemudian membantu Hani berdiri sembari menjauhkannya dari wanita itu.
"Tidak, tidak.. tidak.. tidak...."
"Tidak mungkin adik tercintaku mati mengenaskan seperti ini, pasti karena ulahmu!!" sorot mata tajam pria paruh baya itu tertuju pada Hani yang terlihat shock melihat kejadian tadi.
"Tenangkan dirimu pak, kejadian tadi tidak ada hubungannya dengan dia sama sekali," jawab Stefan tanpa ekspresi.
"Kau... pasti sekongkol dengan wanita itu, aku akan menelpon polisi sekarang juga!" ucap pria paruh baya itu mengancam seraya merogoh sakunya.
"Oh, silahkan. Lagian bapak yang akan dipenjara karena kejahatan bapak selama ini. Dengan tuduhan kekerasan, pemerkosaan, menyembunyikan fakta, pembodohan publik, dan lainnya masih banyak lagi. Kira-kira berapa lama bapak akan mendekam di penjara, mungkin selamanya!" ucap Stefan penuh penekanan.
Perkataan Stefan barusan menusuk si empunya rumah hingga tak bisa berkata-kata lagi.
Sementara Hani sempat terpukau saat mendengar perkataan Stefan barusan, ada yang membuatnya terkejut sampai tidak disangka olehnya dari awal.
Dengan langkah seribu pria paruh baya itu lari ketika Stefan membuka identitas penyamarannya, sebelumnya dia memakai kumis agak tebal dan alis mata palsu.
Pria paruh baya itu sangat terkejut melihat CEO yang dirumorkan telah mati itu dan kini berada tepat di hadapannya. Bahkan menguak fakta tentang kejahatan dirinya selama ini.
Di depan halaman, pria paruh baya itu di hadang oleh banyak bodyguard dilengkapi dengan senjata api.
Seketika membuat jatuh pada kedua lutut dan menundukkan kepalanya, mendarat tepat di rerumputan lantai agak berbeda dari sekitarnya.
"Ka-kamu... kenapa bisa menyimpulkan kejahatan kepada pria paruh baya itu, apa jangan-jangan kamu sengaja memilihnya karena kamu sudah menyelidiki pria itu dari awal?" setelah membaik Hani langsung melontarkan pertanyaan kepada Stefan yang tengah menghubungi seseorang.
"Benar sekali, aku sudah menyelediki pria itu dari awal semenjak mengobrol dengannya lewat sambungan telepon. Ada yang janggal dari ceritanya, Mengenai tuduhan tadi akan aku jelaskan segera kepadamu!" ujar Stefan menjelaskannya kepada Hani.
Di ruang tamu.
"Bukti, kalian harusnya memiliki bukti atas tuduhan tadi bukan?" ucap pria paruh baya itu menyangkal kejahatannya.
Sementara Hani mengurus pihak rumah sakit setelah mereka sampai di kediaman pak Kyoto yang tak lama membawa jasad wanita itu.
"Saya juga berpikiran begitu pak, sebelumnya, di detik wanita itu akan tewas dia terlihat baik-baik saja. Lalu setelah saya hendak menyuapinya dengan bubur dia... muntah darah!" Hani merasa tidak enak saat mengatakan muntah darah yang dialami oleh wanita itu, dikarenakan masih terbayang di kepalanya.
Beberapa menit berlalu Stefan berdebat dengan pria paruh baya itu tanpa bantuan bodyguard dan orang suruhannya.
Pada akhirnya berhasil membuat pria paruh baya itu mengakui kejahatannya.
Sebelumnya Stefan menunjukkan bukti-bukti yang memperkuat argumen kejahatan yang dilakukan oleh pria paruh baya itu.
Seperti ditemukannya kuburan janin di halaman rumah, barang-barang mewah yang disembunyikan, rekaman pengakuan adiknya mengatakan kebiadaban kakaknya, serta cerita karangan pria itu berujung pembodohan publik dengan dalih kuat, yang nyatanya hanyalah bualan belaka.
Polisi datang lalu membawa pria paruh baya itu, dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kesedihan walaupun adiknya telah pergi selama-lamanya dari dunia ini.
Yang ada hanyalah kekesalan terhadap Stefan, bahkan dia sempat berkata sebelumnya.
"Aku sangat menyesal, saat pertama kali kepikiran untuk menelpon mu, kau merusak segalanya!"
Pulang dari kediaman pak Kyoto setelah melewati masalah mendadak hampir saja mengarah padanya, Hani kini bernafas lega lantaran kebenaran berada didepan.
Hari ini kejahatan pak Kyoto terbongkar semuanya dan kemungkinan tidak ada sisa.
Di satu sisi Hani sekalian menjadi wartawan dadakan pada saat itu.
Di mobil Hani masih sibuk mencatat hal-hal penting berkaitan dengan peristiwa yang tak disangka-sangka tadi.
Harusnya ia kesana untuk mencatat maupun menyaksikan sesuatu yang aneh saja, tapi tidak disangka berkembang menjadi sebuah fakta mencengangkan.
Malamnya, Hani menelpon suaminya dan seperti biasa membicarakan pengalamannya beberapa hari ini kepadanya.
Di satu sisi seseorang sedang mengamati dirinya dari kejauhan menggunakan teropong.
Jendela kamar Hani memang terbuka saat ia sedang asyik berbicara dalam sambungan telepon.
Bruk.
Pria itu lalu turun dari pohon kemudian bergerak dengan hati-hati menyelinap memasuki wilayah orang lain.
Jubah berkerudung sukses membuat wajahnya tidak terlihat pada CCTV yang sempat tertangkap.
Penjaga yang mengetahui kedatangan orang asing sedang memasuki wilayah yang dijaganya langsung saja bergegas untuk menangkap orang itu, namun...
Krek..
Krek..
Dua orang penjaga itu tewas seketika, setelah leher keduanya di pelintir oleh orang misterius itu yang sudah berada di depan pintu ruang pengawasan.
Bruk.
Bruk.
Pedang dia keluarkan dari jubahnya kemudian berjalan santai memasuki ruangan demi ruangan.
Hingga dirinya dikepung oleh banyaknya bodyguard yang bersenjata.
"Heh..." dia menanggapinya dengan seringai sembari memperkuat genggaman pedang yang dibawahnya.