Horror Disturbing

Horror Disturbing
Hari Yang Sama Berbeda Tanggal


Mengecek uang tunai dalam dompetnya yang kurang saat melihat harga bayar pada taksi Hani pun memutuskan untuk berhenti pada tempat random.


Tapi tempat tersebut masuk kedalam salah satu perkiraannya pada area yang memiliki rumput terawat.


"Ini pak uangnya."


"Hmm, terimakasih nona. Ini nomor telepon bapak, jika lain kali nona butuh tumpangan."


"Eh iya, makasih pak."


"Sama-sama."


Sebuah pekarangan terlintas di kepala Hani membuatnya jadi teringat keadaan tempat yang dicarinya.


Beberapa menit berjalan sembari bertanya-tanya pada warga Hani akhirnya mendapati informasi mengenai tempat itu yang tak jauh darinya sekarang.


Meskipun ia turun secara random perkiraan Hani sebelumnya dan usahanya telah membuahkan hasil. Semacam takdir mengharuskannya dirinya mengalami hal ini terlebih dahulu.


Ia kini mengedarkan pandangannya serius melihat sekeliling tempatnya yang dirasa adalah tempat pertama kali dirinya bangun, setelah tersadar dari kondisi tak sadarkan diri waktu itu.


Seperti seorang penyidik Hani berjongkok mengamati rerumputan guna mencari sesuatu yang berguna sebagai petunjuk hingga beberapa saat dirinya tidak menemukan apa-apa.


Malahan dirinya di lihat oleh seseorang pria dari kejauhan dengan tatapan intens yang membuatnya tidak nyaman.


"Hu... sia-sia aku kemari tapi tidak mendapati hasil memuaskan. Apa mungkin di jam tertentu aku bisa berpindah tempat?"


"Nggak deh, kalau iya aku takut malem-malem kesini sendirian. Mending aku meng-cancel saja anggapan yang dikatakan oleh suamiku."


"Argh! Tapi kalau beneran bisa membuat aku keluar dari sini dan aku terlalu lama menyadari, maka aku akan menyesal dikemudian hari!"


Seseorang mendekati Hani dengan senyum smirk diwajahnya, namun Hani masih belum menyadari keberadaannya saking sibuk dengan jalan pikirannya sendiri.


Satu lengan lalu hendak menyentuh pundak Hani yang masih dalam mode senyap tak bergeming, namun hatinya gelisah.


Puk..


"Ah!?"


"Astaga... aku hanya menyentuhmu saja, kenapa bereaksi seperti itu. Sangat mengarahkan seorang pria pada pemikiran dangkal!"


"Jangan mendekat, atau aku akan berteriak!" ucap Hani seraya mundur perlahan dari hadapan orang yang telah membuatnya kaget barusan.


Pria itu memakai topi yang membuat wajahnya tertutupi dengan baik sehingga Hani susah untuk melihat wajahnya dengan jelas.


Dia kemudian membuka topinya dan Hani sesaat terperangah pada pria yang disangkanya orang mesum adalah rekan kerja di Perusahaan milik Stefan yang notabenenya sebagai salah satu editor.


Walaupun jarang sekali mengobrol dengannya Hani selalu menyempatkan waktu untuk bertanya jika dirinya merasa kesusahan pada pekerjaannya.


Berawal saling mengenal saat Hani terburu-buru pergi ke ruangan pribadi milik CEO di tengah perjalanan ia tak sengaja menabrak Ainsley.


"Kamu... kenapa bisa ada disini?" tanya Hani bingung.


"Lucunya ekspresimu, sebenarnya rumahku disekitar sini. Dan harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kamu berada di pekarangan milik seseorang yang kemarin bekas pembunuhan!"


"Huua..."


Dan akhir-akhir ini Hani agak menjauhi dirinya dari Ainsley mengingat dia terlalu akrab dengannya dan sering menggoda maupun menjahilinya dalam kondisi tertentu.


Kali ini pun Hani sepertinya masuk dalam jebakan Ainsley untuk yang kedua puluh kalinya.


Puk..puk.. puk..


Setelah sadar dan melihat senyum tak berdosa Ainsley Hani pun membalasnya dengan pukulan bak tepukan kecil menurut orang yang dipukul.


"Baiklah, baiklah aku minta maaf karena sudah menjahilimu tadi. Sekarang aku bisa membantumu demi menebus kesalahanku, silahkan kamu perintahkan diriku semaumu!"


"Kalau begitu, jauh-jauh dariku!" tandas Hani sembari kabur meninggalkan Ainsley yang menatapnya tanpa berkedip.


"Semakin kamu menjauhi diriku, semakin aku sangat menyukaimu... Btw sebenarnya kebohongan yang aku ucapkan adalah fakta sebenarnya bahwa tempat ini beberapa hari lalu menjadi saksi bisu atas pembunuhan keji," gumam Ainsley.


•••


Keesokan harinya Hani mendapati sebuah informasi mengenai tempat yang kemungkinan bisa ia jadikan sebagai bahan berita, nantinya.


Yaitu sama seperti sebelumnya di sekolah, namun berbeda nama Sekolah yang dulu terkenal akan kasus hilangnya siswi.


Di tempat kerjanya Hani mencari informasi lebih lanjut mengenai Sekolah tersebut dalam pencarian. Hingga yang membuatnya terkejut mengenai informasi yang ia temukan dari status pada akun sosial media murid dari sekolah itu.


Dikatakan sekolahnya dikutuk sehingga murid kadang kesurupan secara massal, buku pada rak perpustakaan berantakan, ada bekas telapak kaki di kamar kecil saat keesokan harinya di buka. Dan banyak lagi.


"Kamu akan melakukan penyamaran sementara sebagai seorang murid di sekolah ini!" ucap Stefan sembari menyentuhkan jarinya pada layar monitor bergambar Sekolah itu. Dia kini berada di samping Hani.


"Aku tidak mau, aku menolak. Meskipun usiaku masih tergolong muda tapi aku nggak mau pakai seragam sekolah lagi!" sahut Hani ekspresinya benar-benar menolak sambil bersedekap.


"Bukannya hal itu berhubungan dengan bahan berita yang akan kamu cari, untuk mempermudahnya."


"Kan bisa pakai cara lain, nggak usah repot-repot aku menyamar menjadi murid. Kalau kamu memaksa aku lebih baik mencari bahan berita lain saja. Atau... kamu suka ya melihat seragam sekolah perempuan saat..."


"Tidak. Dengarkan aku. Hal ini ada hubungannya dengan kutukan, apa dirimu tidak membaca korban yang berjatuhan pula di sekolah itu, karena diakibatkan mencari informasi lebih dalam mengenai kutukan di sekolah itu. Dan korbannya selalu saja yang berhubungan dengan pekerjaan yang kamu lakukan!" jelas Stefan membuat Hani terdiam seribu bahasa, meskipun belum ia pastikan sendiri kebenarannya.


Pada akhirnya Hani mau melakukan penyamaran dan mengurungkan niatnya untuk mencari bahan berita lain, karena Stefan mengatakan jika suami Hani pernah berada di sekolah itu.


Pada tanggal yang kebetulan besok dia akan berkunjung ke sana.


Mendengar membuatnya Hani terlihat antusias entah kenapa setelah diam sesaat untuk mencerna perkataan Stefan barusan.


"Selain itu kamu bisa melihat suamimu dan bertemu dengannya saat dia masih belum menikah, atau mungkin di tahun itu dia tidak mengenal dirimu!" imbuh Stefan diabaikan, Hani sekarang ini melamun memikirkan disaat dirinya bertemu dengan suaminya.


Siang ini Hani keluar sebentar setelah ijin kepada Stefan untuk pergi ke mall tentunya membeli barang kebutuhannya yang hampir menipis.


Sementara seseorang utusan dari Stefan pergi ke sekolah yang dirumorkan terkutuk itu menurut informasi dari siswanya, itu pun lewat akun sosial media anonim.


"Baik, saya akan mengurus pertukaran siswa ini dengan baik. Anda bisa menunggu informasi dari saya lebih lanjut, ini nomor saya tuan!"


"Terimakasih banyak bantuannya pak, jika berkenan saya ingin..."


Orang utusan itu yang akan menjadi wali Hani nantinya sekaligus membantu Hani bercakap-cakap lewat alat di luar sekolah. Memberitahukan hal tertentu dan saran.


Sorenya setelah pulang bekerja Hani kaget melihat sepasang seragam sekolah berada di ranjang tempat tidurnya.