Horror Disturbing

Horror Disturbing
Mendapatkan Balasannya


Hani tak bisa melihat waktu pada jam tangannya dan dirinya mulai melemas hendak jatuh pingsan.


Entah apa yang membuatnya melawan terhadap keadaannya saat ini ia berusaha sekuat tenaga untuk lepas dari cengkeraman tangan dalam kegelapan yang menerbangkan dirinya.


"Tch, aku berada lumayan tinggi dari permukaan. Kalau aku jatuh mungkin diriku akan terluka, aku hanya bisa mengandalkan Horison yang saat ini belum terlihat batang hidungnya lagi," ucap Hani dalam hati berusaha memikirkan cara alternatif lainnya selain dari segi keberuntungan. Dan itu harus ia temukan segera sebelumnya nafasnya sudah mendekati di kerongkongan.


Hani berambisi untuk dapat meloloskan diri dari kondisinya sekarang ini dalam keadaan hidup dan mati, itulah mengapa dalam detik ini ia berusaha menenangkan diri terlebih dahulu.


Memikirkan sebuah cara guna melepaskan dirinya dari cengkeraman tangan makhluk halus menurut kenyataannya.


Api membakar tubuh makhluk yang mencengkram leher Hani sampai merambat ke seluruh tubuhnya, alhasil makhluk itu melepaskan cengkeramannya lantaran merasakan kesakitan.


Disekitar api tersebut terlihat cahaya berwarna hijau memutari tubuh makhluk itu, bahkan Hani melihat kertas berisi simbol-simbol yang diyakininya adalah mantra, menempel pada tubuh makhluk menyeramkan yang dilihatnya.


Dia berwujud layaknya manusia dengan pakaian serba putih namun ternodai oleh darah, lebih menjijikkannya lagi perutnya berisikan koin emas serta barang mewah.


Kini sesuatu dalam perutnya mulai berjatuhan dikala dirinya meronta-ronta kesakitan, tepat dua sentimeter di atas Hani.


Horison sebelumnya menangkap tubuh Hani disaat akan menyentuh lantai, dengan tepat sehingga mengantispasi cidera yang bakal Hani alami jika saja dirinya jatuh pada ketinggian itu.


"Kita harus menjauhi diri darinya. Segel pengikat hantu itu hanya menahannya sementara! Aku harap kita bisa pergi dari rumah ini secepatnya, ayo bergerak!" ujar Horison terlihat menyakinkan.


Dan saat ini lampu sudah kembali terang memperlihatkan jasad ketiga polisi dalam keadaan mengerikan hampir sama seperti makhluk itu.


Tubuh ketiganya dalam keadaan terlentang dipenuhi dengan darah segar dan kental masih mengalir deras pada lantai, menjadikan sebuah genangan darah instan.


Posisi mereka sejajar satu sama lain yang menurut dugaan Hani sengaja dilakukan oleh seseorang atau mungkin saja makhluk itu.


Lebih dekat lagi melihat salah satu dari ketiga jasad itu dikala dirinya mulai bergerak mengikuti Horison, Hani nampak shock melihat bagian organ dalam salah satu polisi yang tergeletak terlihat menggelembung.


Sementara perut ketiganya seperti yang disebutkan berlubang dan berisi harta benda, begitulah kenyataannya.


Piano berbunyi saat mereka berdua melewatinya diikuti oleh suara cekikikan anak kecil.


Masih berlari menuju pintu utama benda-benda seperti vas bunga, lukisan, dan lainnya berterbangan.


Mengincar keduanya seperti hendak melakukan pembunuhan supranatural.


Horison mulai melafalkan sebuah mantra yang mana memunculkan cahaya terang benderang melindungi dirinya maupun Hani dari serangan supranatural itu, untuk pelindung itu sendiri terlihat seperti sebuah Shield.


"...apa ini tuan, sepertinya tuan bukan sekedar detektif amatir biasa?" ucap Hani dikala dirinya merasa lelah dalam berlari.


"Aku ini juga seseorang pendeta Tao!"


Aneh, ruangan yang dilewati mereka seperti halnya mengurung. Meskipun mereka berdua terus bergerak menemukan pintu utama, tapi mereka tidak kunjung sampai.


"Hosh... hosh... apa kita cari jalan lain saja, percuma kita lari terus kalau pada akhirnya akan kembali ke tempat yang sama. Sepertinya hantu yang menunggu tempat ini memang sudah melakukan sesuatu!" ucap Hani dengan nafas tersengal menyentuh kedua lututnya dengan tangan, membungkukkan badannya.


Pertahankan mereka masih berfungsi dengan baik sebuah pelindung yang berasal dari pelafalan mantra yang diucapkan oleh Horison sebelumnya.


Walaupun begitu Hani masih dibuat merem melek melihat benda-benda melayang kini mengincar dirinya yang berada didalam pelindung itu, terus-menerus seperti halnya berusaha melemahkan pelindung.


"Ha..ha..ha.."


"Huekkk..."


Hani sampai dibuat muntah melihat perempuan yang tengah melayang tak jauh darinya menunjukkan mulut penuh belatung, hanya saja entah mengapa kedua tangan Hani spontan menampung muntahan itu yang kini langsung dilahapnya lagi.


Membuat Horison terlihat kesal bukannya jijik sembari melihat ke arah perempuan tak lain adalah salah satu kerabat pemilik rumah ini.


Horison mengenalinya saat melihat identitas para korban pembunuhan dan sudah dia telisik dengan sangat teliti sebelumya.


Perempuan itu diduga menjadi korban suatu pembunuhan yang membuatnya terbunuh dengan cara sangat sadis.


Sehingga menjadikan jiwanya berubah menjadi arwah jahat yang mungkin akan memakan korban, itulah asumsi Horison untuk saat ini.


"Jangan muntah kan lagi Han. Dia akan mempermainkan dirimu, percayalah padaku!" ucapan dan tatapan meyakinkan dari Horison membuat Hani percaya padanya, ia mau tak mau harus menelan muntahannya. Meskipun rasanya sangat tidak mengenakkan.


Kini semua arwah dari para korban mulai berada di satu tempat membentuk sebuah sangkar burung mengurung mereka berdua.


Serentak para korban mulai membuka mulutnya lebar-lebar lalu mengeluarkan darah kental secara bersamaan.


Yang seakan menghujani pelindung cahaya yang melindungi mereka berdua hingga menutupi pandangan orang yang ada didalamnya, karena darah kental tersebut sudah sepenuhnya menutupi bagian luar pelindung.


Hani dalam keadaan tak sadarkan diri, namun ia sempat berkata dirinya "masih ada seorang penyidik" karena perkataannya itu Horison membulatkan matanya.


Dia kemudian mulai melafalkan mantra lagi seraya merogoh kantong sakunya guna mengambil kertas bertuliskan mantra.


Dia kemudian menyatukan kedua telapak tangannya lalu setelah melepaskannya, keadaan kembali seperti semula.


Namun Horison terlihat menyentuh dadanya dengan ekspresi kesakitan.


Seperti semula artinya mereka terbebas dari gangguan arwah para korban pembunuhan yang kini sudah tak ada lagi didekatnya.


Sebenarnya Horison melakukan ritual tertentu mengirimkan ingatan deduksi nya dan bukti kuat mengarahkannya pada seorang penyidik kepada seluruh arwah pembunuhan di dalam rumah ini.


"Kita selamat kan?" ucap Hani setelah terbangun dalam keadaan masih lemas.


Horison berusaha untuk menenangkannya hingga Hani kembali baikan setelah ia memeluknya sembari mengelus punggung Hani disertai perkataan memenangkan.


Seketika membuat Hani lega lalu menanyakan perihal yang tak diketahuinya saat dirinya pingsan.


"itu, sebenarnya aku mengetahui pelaku pembunuhan keluarga konglomerat pada malam itu. Yakni seorang penyidik yang sebelumnya aku lihat, dirimu juga mengingatkannya kembali padaku. Alhasil sebuah ide terlintas di pikiranku!" ucap Horison yang masih belum Hani pahami dirinya terlihat dengan wajah kebingungan.


"Intinya aku sebelumnya melakukan sebuah ritual, yang dapat mentransfer deduksi maupun bukti yang mengarah pada si pelaku kepada semua arwah korban pembunuhan!"


"Iyaa, aku mengerti. Aku paham kok cuma... aku mengetes dirimu saja hihi.."


Keduanya lalu pergi meninggalkan rumah itu setelah pihak kepolisian datang tepat pukul 20.00 seusai Horison memanggil nomor darurat.


Dua hari berlalu, pengalaman yang Hani alami sebelumnya kembali ia jadikan sebagai salah satu ide bahan beritanya.


Akibat pengalamannya itu Hani mengerti akan hal tak kasat mata dan bahayanya.


Dan dengan ini Stefan jadi memiliki alasan kuat untuk mendedikasikan Hani kepada guru pelatih beladiri di waktu hari liburnya.


"Kok salah sambung terus ya, padahal ini nomornya Horison?" gumam Hani setelah beberapa kali memanggil namun respon dari sana hanyalah nada suara sama, bukan si penerima.


"Siapa yang kamu panggil?" tanya Stefan memperhatikan Hani sebelumnya, dia bertanya karena Hani terus saja menunggu si penerima mengangkat panggilannya.


"Oh, itu dari orang yang telah menolongku. Dia sangat baik dan ramah, seorang detektif!"


"Apa dia seorang detektif amatir?"


"Iya benar, eh?"


"Aku hanya menebak seperti biasa, itu hanya sebuah intuisi."