Horror Disturbing

Horror Disturbing
Tumbal Jiwa


Sepulangnya dari Kantor tempatnya bekerja atau Perusahaan milik Stefan, Hani berinisiatif untuk pergi ke rumah teman se-frekuensinya yang dua hari lalu mengajaknya untuk mengunjungi kediamannya.


Dengan dalih nobar drama Korea yang sedang banyak di tonton jutaan orang pada aplikasi berbayar dan bisa di tonton pada saluran TV dengan kelebihan cinema.


Menggunakan kereta listrik sebagai sarana transportasi Hani nampak tenang menunggu pemberhentian kereta selanjutnya, masih berada di wilayah kota "Tragedy"


Sambil membaca beberapa artikel sebagai referensi sumber berita yang akan ia cari.


Perjalanan tersebut memakan waktu 20 menit hingga ia pun sampai pada stasiun kereta listrik.


Kini Hani menaiki taksi menuju rumah temannya itu, dan sekarang ini jam tangannya menunjukkan pukul 16.20 berganti dengan melihat langit dari jendela taksi yang terlihat masih cerah.


Tok..tok..tok..


Hani sudah berada di depan pintu rumah temannya yang bertempat tinggal disebuah apartemen sewaan.


"Hani... kamu datang berkunjung, senangnya... Hari ini aku tidak kesepian lagi. Mari masuk!" ucap Mita dengan senyum ramah dan antusias sekali mengajak Hani untuk masuk kerumahnya.


Apartemen yang ditempati Mita lumayan luas didalamnya untuk dia tempati sendiri, bahkan menurut Hani Mita mengambil apartemen sewaan paling mahal. Dilihat dari isinya yang lengkap dan memanjakan si penyewa.


"Silahkan duduk dulu Han, aku mau buatin kamu minuman sama bawain kamu cemilan enak!" ucap Mita begitu ramah membuat Hani tidak enak pada keramahan temannya.


"Eh, nggak usah repot-repot Mit. Aku nggak lama kok, soalnya udah sore. Cuma mau berkunjung sama pinjem DVD Drakor yang kamu katakan waktu itu!" ucap Hani sembari mengibas kedua tangannya dan menjelaskan maksud kedatangannya.


Terlihat ekspresi Mita yang berubah menjadi datar dengan sorot mata belum pernah Hani lihat darinya, dan dalam sekejap Mita tersenyum ceria kembali.


Mita pun melenggang pergi sesuai apa yang dia janjikan, sementara Hani menonton televisi kebetulan menayangkan siaran berita.


"Seorang gadis diketahui menghilang selama tiga hari dan belum ditemukan, kabarnya menghilang setelah pulang Sekolah!"


"Kasian sekali gadis itu, semoga saya dia cepat ditemukan," ucap Hani berdoa yang terbaik untuk gadis malang dalam siaran berita yang ditontonnya.


Tak lama Mita kembali sembari membawa nampan berisikan toples berisi cemilan dan minuman berwarna merah darah terdapat es batu didalamnya.


Menaruhnya pada meja kemudian berbincang dengan Hani, awalnya mereka hanya berbasa-basi saja, lalu beberapa menit kemudian mereka saling menceritakan tentang dirinya satu sama lain sambil menonton Drakor melalui kaset DVD.


Sangat asyik sampai Hani lupa waktu telah lama menonton dan bercanda ria dengan sahabatnya.


Hani pun memutuskan untuk pamit kepada Mita, karena melihat jam tangannya menunjukkan pukul 17.02 menandakan hari sudah mulai gelap.


Sebelum Hani pergi Mita sempat menawarkan Hani untuk minum terlebih dahulu, saking asyiknya nonton dia jadi lupa untuk minum, bahkan belum sempat mencicipi cemilan yang Mita siapkan.


Hani pun meminumnya lalu mengigit cemilan berupa snack kering dari toples.


Tapi Mita tetap saja menahan Hani untuk pergi dengan dalih ingin menunjukkan sesuatu yang luar biasa, katanya.


Sampai-sampai Hani merasakan firasat tidak enak jika ia menunda kepulangannya. Hanya saja melihat wajah memelas Mita yang menurutnya imut dan kasihan membuatnya tidak bisa menolak permintaannya, ia pun terpaksa mengikuti Mita dari belakang. Saat dia menyuruh Hani untuk mengikutinya.


Di halaman belakang apartemennya yang terdapat kebun dengan banyaknya pohon apel Mita menjelaskan tentang kebun itu kepada Hani.


Hingga ia masuk lebih dalam lagi pada kebun yang mayoritasnya adalah pohon apel tersebut, tiba-tiba saja ia merasakan pusing hingga membuat kepalanya seakan berputar. Mabuk dalam perjalanan.


Akhirnya Hani berusaha untuk keluar dari kebun ini, sayangnya ia mengambil jalur yang salah dan malah membuatnya semakin jauh dari pintu keluar kebun ini.


Kebun tersebut sebenarnya dibatasi oleh tembok sebagian dan bagian lain tertutupi oleh kaca berukuran besar.


Gret...


Hani mengigit lengannya guna mempertahankan kesadaran dirinya yang mulai perlahan-lahan hilang akibat efek pada minuman itu, pikir Hani.


Saat ini ia buat terperangah melihat banyak kain kafan yang tergantung pada ranting pohon apel. Setelah ia mengucek matanya agar dapat melihatnya dengan jelas ia malah dibuat shock lantaran kain kafan tersebut sudah berisi, menurut pandangannya.


Ia pula melihat wajah seseorang dalam kain tersebut yang sudah dihinggapi lalat dan belatung membuatnya menjadi mual seketika.


Posisi kain kafan berisi seseorang itu layaknya pocong, dalam keadaan kaki pada bagian atas ranting, sedangkan kepala pada bagian bawah ke arah tanah.


Persis seperti kepompong yang menggantung pada dahan tumbuhan maupun pohon dan sebagainya.


Hani berinisiatif untuk menghubungi bodyguard agar menjemputnya kemari, namun ia dikejutkan dengan suara kedatangan Mita. Terlihat dirinya membawa pisau besar berlumuran darah. Pakaiannya pun agak kotor terdapat noda berwarna merah darah.


"Aa!!?"


Hani berteriak histeris kemudian berlari secepat mungkin guna menjauhi dirinya dari Mita. Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Mita sempat memperingati Hani agar berhenti berlari, namun Hani menolaknya dengan tegas.


"Kamu pembunuh! Bukannya kamu memiliki kepribadian yang sangat baik, dan aku tidak akan berhenti apapun yang terjadi!" ucap Hani menekankan kata di akhir.


"Hehehe aku memang seperti ini saat di luar Perusahaan, di satu sisi aku memiliki kepribadian lemah lembut. Bukannya itu bisa aku jadikan modal guna menarik banyak orang untuk berkunjung kemari."


"Kau gila! Aku salah berteman denganmu!" umpat Hani kini nafasnya hampir habis saat dibuat lari terus menerus.


"Setidaknya kita pernah bercanda dan bercerita bersama tentang dirinya kita satu sama lain, itu akan menjadi kenangan paling mengesankan bagiku. Tapi dirimu harus menjadi tumbal jiwa, bagiku dirimu sangat cocok. Mungkin saat waktunya tiba kamu akan menjadi wujud paling baik!"


Hani mengerutkan dahi mendengar perkataan Mita barusan yang menurutnya tidak masuk akal seperti halnya melakukan aktivitas terlarang.


Bruk!


Swosh...


Hampir saja Hani terkena pisau besar dan nyaris saja mengenai lehernya, untungnya dalam timing yang pas dirinya menghindari pisau besar itu sambil melawan Mita.


Pisau itupun ia buang dengan satu tangannya sembari menahan tubuh Mita agar tidak bangkit. Kini posisi Mita dibawah dalam keadaan terlentang, sedangkan Hani diatasnya sambil menahan badan Mita.


"Kamu... kenapa tidak mempan pada minuman itu?" tanya Mita.


"Itu karena aku berjuang keras agar tidak menjadi korban kegilaan dirimu...!"


"Hehehe jawaban yang bagus, tapi kamu tidak tahu kan apa yang kamu minum?"


"Apa?"