Horror Disturbing

Horror Disturbing
Ketidakadaan


Stefan masih diam setelah Hani langsung to the point bertanya kepada Stefan mengapa dia mengetahui aktivitasnya.


Hani curiga jika Stefan memata-matai dirinya selama ini, entah menyuruh seseorang untuk terus mengamati dirinya maupun menaruh semacam alat penyadap.


Tanpa sepengetahuan Hani sama sekali.


Mengingat bahwa teknologi di kota ini terbilang berkebalikan dengan kota aslinya di tempat Hani, membuat Hani berpikir jika mungkin saja teknologi berperan penting mengapa Stefan bisa selalu update tentang dirinya.


Kini Hani menatap lekat Stefan menunggu jawaban darinya.


"Tentu saja karena dirimu diketahui oleh bodyguard lain bahwa ada aktivitas mencurigakan antara dirimu dan bodyguard bernama Alexander itu, aku harap dirimu menjauhi dirinya!" titah Stefan dengan raut wajah serius meskipun terkesan dingin dan acuh.


"Berarti kamu memang menyuruh bodyguard lain untuk memata-matai diriku kan?" Lagian apa salahnya aku bersama dengan Alexander, dia sebelumnya berkata akan melindungi diriku!"


Baru kali ini Stefan melihat wajah meyakinkan Hani saat dia bersandar kepada orang lain, sementara dirinya yang terus melindungi Hani secara langsung maupun dalam bayang-bayang hanya dianggap sebagai angin lalu saja.


"Kamu lupa, para bodyguard itu tanpa aku suruh pun mereka akan langsung menyelidiki dirimu, itu karena demi keselamatan dirimu. Mereka adalah orang-orang pilihan. Serta alasan aku menyuruhmu untuk menjauhi Alexander, karena dia pandai memainkan psikologi seseorang!"


Hani masih kesal dengan ucapan Stefan barusan, bahkan Hani menganggap jika para bodyguard selalu seperti itu maka mereka seakan mengawasi kehidupan majikannya.


Tanpa memikirkan privasi yang seharusnya terjaga dan tidak boleh ikut masuk kedalamnya.


Bukannya itu namanya pelanggaran privasi, pikir Hani sembari mendengus kesal. Menurutnya, melanjutkan berdebat dengan Stefan tidak ada artinya sama sekali baginya.


"Udah, aku mau keluar cari angin sebentar!" ucap Hani beranjak bangkit hendak meninggalkan kamarnya, namun Stefan menahannya.


"Di luar dingin, kau tidak ingin sakit bukan."


"Humph, bukan urusanmu."


"Jika dirimu seperti ini terus terpaksa aku membatalkan perjanjian kita!" ucap Stefan menekankan kata diakhir seketika menghentikan langkah Hani yang baru saja keluar dari pintu kamarnya.


Meskipun dirinya sangat kesal karena semua ini maupun kekangan Stefan yang menurutnya berlebihan dan memaksa, tapi dirinya tidak ingin usahanya selama ini hilang begitu saja.


Maka terpaksa mau tidak mau harus menuruti perkataan Stefan.


Hani kemudian berbalik wajahnya masih dengan raut cemberut menatap Stefan yang tanpa ekspresi.


"Bagaimana, masih mau melawan?"


"Kamu curang, aku ini wanita lemah, tapi kamu mempermainkan aku begini..." ucap Hani sendu sembari menahan matanya yang ingin menangis, tentu saja hal itu disadari oleh Stefan.


"Aku terpaksa melakukannya, ini semua demi dirimu, maksudku perjanjian kita. Kamu ingin keluar dari kota menjengkelkan ini bukan, jadi percayakan saja padaku sepenuhnya. Kamu tinggal menjalankan proses untuk sampai pada tujuanmu. Mengenai Alexander, aku tegaskan padamu. Bahwa dia itu musuhmu!"


"...Stefan, barusan dia begitu serius dengan ucapannya..." batin Hani.


Entah mengapa hatinya sekarang ini menjadi lega setelah mencoba memercayai perkataan Stefan.


Dan tanpa ia sadari dirinya telah lepas dari pengaruh psikologi Alexander.


"Benar-benar, dia itu selalu saja menjadi batu penghalang jika aku tidak secepatnya menyingkirkannya. Hanya saja diriku sudah ketahuan, maka rencana sebelumnya terpaksa tidak ku lanjutkan, lihat saja, permainan baruku nanti!" ucap seseorang dengan jubah menutupi wajahnya berada dalam sebuah ruangan yang temaram.


Hanya ada lilin sebagai penerangan, pisau pada meja terlihat samar-samar, serta aura gelap seakan menyeruak pada tubuh seseorang itu.


Malamnya, saat makan malam Hani masih was-was mengingat kejadian hari ini yang begitu membuatnya tegang selalu serta berkeringat dingin jika memikirkannya.


"K-kamu kenapa bisa akurat menjelaskan apa yang tengah aku pikirkan, sebenarnya kamu itu seorang cenayang kan?" ucap Hani terkesiap sembari bertanya kepada Stefan. Ia lalu menjeda waktu makannya.


"Hahaha seorang cenayang, bagus juga aku dikatakan seperti itu. Terserah kamu saja, lebih baik kamu habiskan makan malammu, jangan lupa meminum obat yang telah aku resep kan. Dirimu harus dalam keadaan fit selalu, kesehatan itu penting agar dirimu mengawali hari dengan baik."


Hani menjawabnya dengan anggukan dengan ekspresi cemberut namun ia tutupi dengan kunyahan sesuap makanannya.


Esoknya, kabar baik menyertai Hani bahwa tidak ada kabar mengenai kematian pria paruh baya itu, yang menurutnya disebabkan karena dirinya.


Stefan bahkan menegaskan jika Hani tidak terlibat sama sekali hanya saja ia akan dijadikan saksi untuk bukti-bukti dalam penyelidikan.


Di jam tertentu di tempat pertemuan khusus Hani memiliki janji bertemu dengan seorang detektif.


"Kontak Alexander aman, dia ternyata tidak memblokir diriku. Harusnya siang nanti dia ikut bersamaku menjadi sanksi, tapi kata Stefan jauh sebelum aku datang ke rumah pria paruh baya itu, Alexander telah mencuci otak korbannya."


Kini Hani menunggu seorang bodyguard sekaligus supir baru untuk mengantarkannya ke Perusahaan.


Dalam perjalanan Hani membaca secarik kertas yang ditulis oleh pria paruh baya itu sebelum kejadian tragis menimpa dirinya.


Tentu saja berisi cerita mengenai kota Tragedy ini, namun saat membukanya. Mata Hani terbelalak saat mengetahui tulisan pada secarik kertas itu ditulis dengan menggunakan darah.


Bahkan tercium bau anyir menyengat saat Hani agak lama memegang kertas itu.


"Hiikkk!!!"


Suara Hani barusan membuat supir pribadi itu terkejut lalu menghentikan mobil yang dikendarainya dengan aman.


"Ada apa nona muda?" ucapnya khawatir pada Hani yang sudah dia anggap seperti majikannya.


"Itu, secarik kertas itu berisi tulisan dari darah... coba kamu lihat!" sahut Hani tertunduk menahan mual, ia sempat menunjuk secarik kertas di sebelah tempat duduknya dan menjelaskan alasannya teriak barusan.


Sopir itu lalu mengambil secarik kertas itu dia nampak biasa-biasa saja saat melihat isi tulisannya.


"Maaf nona muda, saya tidak menemukan apa yang membuat nona begitu jijik barusan, serta gambaran yang dikatakan nona muda. Kertas ini kosong!"


"Apa!? Tadi aku melihat ada darah barusan..."


"Maaf jika saya lancang, saya sarankan agar nona muda istirahat terlebih dahulu."


"Hmm, mungkin saya harus istirahat yang cukup mulai hari ini..."


Drrtttt...


Suara lantunan lagu yang terdengar didalam tas selempang miliknya, membuat Hani segera mengambil ponselnya yang ia yakini seseorang sedang menelponnya.


"Iya, kamu mau bicara apa?"


"Aku langsung katakan saja padamu, sebenarnya kertas yang kamu bawa memang kosong, lalu mengenai pria paruh baya itu aslinya tidak terjadi apa-apa padanya. Artinya kejadian kemarin tidak pernah ada, dan tidak pernah kamu alami!"


Bruk.


Ponsel yang Hani pegang jatuh begitu saja dari genggamannya.


"Non, nona muda tidak apa-apa?"