Horror Disturbing

Horror Disturbing
Wabah Mengerikan Part 2


Selesai disuntik demi menjaga sistem imun tubuh dari infeksi laba-laba mereka berdua lalu pergi meninggalkan laboratorium tersebut.


"Kita mau ke desa itu ya, apa benar setelah disuntik aku bakalan terlindungi dari infeksi virus mematikan?" tanya Hani merengek ingin segera Stefan menjawabnya.


Sebenarnya beberapa saat yang lalu Hani terus bertanya kepada Stefan yang kini sedang mengemudi, dan fokus pada jalanan.


Dan seseorang memiliki batasan kesabarannya masing-masing.


"Diam, jika kamu terus bertanya lagi aku akan menurunkan dirimu! Aku kasih tahu padamu, kamu itu sangat cerewet sekali!" ucap Stefan mengeluarkan isi hatinya yang ingin ia sampaikan pada Hani secara langsung, karena dari tadi ia terus tahan dan rasanya sangat mengganjal di hati.


Hani terdiam seperti membisu dalam sekejap sambil memalingkan wajahnya yang barusan mendekat dan memandangi Stefan untuk bertanya.


Merasa perkataannya terlalu kasar Stefan berinisiatif untuk melirik Hani yang saat ini dalam keadaan ngambek sambil bersedekap dengan raut wajah cemberut.


"Huh... aku minta maaf. Mungkin perkataan ku tadi kurang mengenakkan bagimu."


Hani seperti halnya menerima tamparan online karena terkejut mendengar perkataan Stefan barusan, menurutnya sangat langkah bagi pria dingin sepertinya yang terkadang cuek meminta maaf.


Tidak ingin melupakan momen langkah ini Hani berusaha untuk mengingatnya pada sebuah catatan kecil yang sedang ia bayangkan di dalam pikirannya.


"Em, aku juga minta maaf sama kamu."


"Untuk apa?" tanya Stefan sekilas menoleh kearah Hani.


"Atas kelakuan diriku sebelumnya yang tidak sopan, jika bukan karena hal itu kamu mungkin tidak akan marah kepadaku sampai segitunya..." kini Hani terlihat menundukkan wajahnya.


"Hmm masuk akal juga."


Tak lama berkendara dengan mobil pribadinya Stefan akhirnya berhenti di depan batas masuk desa.


Sekarang ini Hani langsung keluar dari mobil dan muntah-muntah karena cara berkendara Stefan yang bak pembalap jalanan di malam hari.


Ada alasan mengapa ia mengemudi seperti itu dan alasannya cuma satu, demi menghindari kemacetan.


"Ini, pakai tisu untuk mengelap bagian bawah bibirmu itu."


"Iya, makasih."


Entah kenapa Hani saat ini tidak mengomentari cara mengemudi Stefan yang bak Koboy di atas kerbau itu.


Desa ini terletak disebelah danau dan jauh dari padatnya penduduk di kota. Suasananya masih asri dan sekitarannya sungguh hijau, sebab desa ini berada di tengah hutan. Namun saran dan prasarana desa ini lumayan baik.


Mereka berdua lalu berjalan sambil membawa senjata yang berisikan peluru penawar virus laba-laba berukuran sedang, dan untuk berjaga-jaga Hani juga membawa kotak P3k kecil didalam tasnya.


"Kok sepi banget ya disini, apa mungkin orang-orang sudah pergi dan dievakuasi dari desa ini? gumam Hani berharap Stefan akan memberi jawaban memuaskan. Sembari memandangi sekitaran.


"Mungkin saja kedua-duanya benar."


Sayangnya jawaban Stefan barusan sudah membuat Hani menyesal untuk bertanya melalui gumaman nya.


"Ahhh!!"


Suara jeritan terdengar dari arah sebuah rumah yang masih menggunakan dinding bambu. Hani yang mendengarnya langsung bergerak cepat berinisiatif untuk mengecek apabila ada seseorang yang membutuhkan pertolongan, sedangkan Stefan hanya bisa menghembuskan nafas kasar melihat kepergian Hani yang mendadak itu.


"Dia ini terlalu gegabah," ucap Stefan seraya menyentuh pelipisnya yang diakhiri dengan jarinya sedang membetulkan rambutnya.


Kemudian Stefan berjalan cepat mengikuti Hani dari belakang pandangannya tak lepas dari sekitaran yang nampak tenang tanpa suara sedikitpun, kecuali suara jeritan barusan.


Dor!


Dor!


Dua tembakan yang keluar sesuatu kini menancap pada kedua telapak tangan yang kelihatannya berbeda si empunya diketahui sedang mengejar seorang perempuan pincang dengan memakai tongkat.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Hani sambil membantu perempuan ini untuk berdiri dan membantunya mengambil tongkat yang tergeletak di lantai.


"Aku baik-baik saja, cuma aku shock saat aku bangun tidur dan tiba-tiba saja aku melihat telapak tangan itu!" jelasnya sembari melirik telapak tangan yang tertembak tidak bergerak lagi.


"Oh, ya. Aku ucapkan terimakasih kepadamu yang telah membantuku tepat waktu, jika terlambat mungkin saja kedua telapak tangan itu sudah meloncat ke arahku."


Stefan yang baru saja masuk kedalam rumah ini langsung mendengarkan penjelasan Hani lalu memutuskan untuk membawa perempuan ini ke mobil.


Mereka lalu berdua menyusuri setiap rumah warga yang nampak masih sepi seperti tidak berpenghuni, bahkan sesuatu yang menggelikan terlihat oleh mereka berdua.


Yang nampak pada sebuah rumah yang di sampingnya terdapat sarang laba-laba berukuran besar terhubung pada pohon, terlihat sembilan telapak tangan manusia yang sedang bertengger pada sarang itu.


"Hiik... jijik banget liatnya, aku jadi tidak sanggup lihat."


Hani yang berbalik menghadap Stefan terlihat bergidik ngeri sampai menutup mukanya setelah melihat apa yang dilihatnya barusan.


Dor!


Dor!


...


Tembakan tanpa meleset sekalipun langsung membuat sembilan telapak tangan pada jaring laba-laba itu berjatuhan.


"Bahkan bayi pun bisa terinfeksi rupanya," ujar Stefan melihat sebuah fakta dengan mata kepalanya sendiri.


Kemudian mereka menemukan banyak sekali sarang laba-laba dan telapak tangan yang berada di sarang tersebut.


Ada yang bergerak pada tanah ada pula yang terlihat sedang membuat sarang. Hal yang dilihat mereka berdua sangat menggelikan untuk dilihat namun Stefan terus membujuk Hani untuk tetap kuat.


Beberapa orang masih ada di desa ini dan berhasil meraka selamatkan.


Hingga mereka selesai melakukan tugas mulia tersebut yang dilihat tanpa pandang bulu membantu siapa saja.


Kedatangan polisi dan tentara mengharuskan mereka berdua untuk pergi dari desa ini yang luas untuk mereka jelajahi maupun mengecek keadaan di setiap gang.


Berkat kedatangan polisi dan tentara hal itu dapat meringankan tugas yang seharusnya mereka berdua tidak diwajibkan untuk dikerjakan.


•••


Di sebuah rumah yang sepi karena mati lampu seorang pria sedang mencari lilin yang ia simpan pada laci di dapur.


"Tidak ada angin dan tidak ada hujan tiba-tiba saja mati lampu huh, merepotkan," gerutunya yang masih memegang ponsel miliknya sebagai penerangan.


Saat dirinya sampai di dapur ia mendengar suara gaduh kemudian ia menyorotkan cahaya flash ponselnya pada letak sumber bunyi.


Dan terlihat sebuah telapak tangan yang berjalan di area wastafel sementara pria itu hanya diam mematung karena ada yang tak asing dengan telapak tangan tersebut.


Dia mengingat-ingat kembali hingga teringat bahwa cincin yang terpasang pada telapak tangan tersebut adalah cincin pemberian darinya untuk pasangannya. Saat melamarnya untuk menikah, yang kini terlihat jelas cincin itu berada pada jari manis pergelangan tangan tersebut.


Yang merayap menggunakan jari tangan sebagai kaki seperti halnya laba-laba.


Ia lalu terduduk dengan keadaan mematung karena shock melihatnya, bahkan ponselnya sampai jatuh. Dan saat dirinya ingin mencari ponsel yang jatuh barusan dalam gulita di dapurnya itu.


Telapak tangan tadi langsung meloncat pada atas kepalanya dan merambat hingga masuk kedalam tubuhnya.


Tentu saja pria itu berusaha untuk mengeluarkan telapak tangan tersebut.


"Argh!" Ia merasa tergigit oleh sesuatu.