Horror Disturbing

Horror Disturbing
Gangguan Dari Gadis Sekolah Part 1


Di hari Minggu tanggal merah ini Hani sibuk berlatih dengan guru beladiri yang disewa oleh Stefan guna mengajari Hani pentingnya beladiri.


Di mulai pada jam 06.30 seusai melakukan rutinitas paginya, Hani kemudian berlatih dengan sungguh-sungguh sampai tak terasa hari sudah menjelang siang.


Pukul 09.00 pelatihan beladiri tersebut berakhir untuk Minggu ini, dan akan dilanjutkan lagi Minggu depan dengan waktu tambahan extra.


Hal itu dilakukan agar Hani tidak terlalu kecapean di awal-awal berlatih, Stefan bahkan berujar agar pelatihan tidak memakan waktu terlalu lama.


"Huf... huf... cape banget... gerah lagi," gumam Hani yang kini sedang selonjoran sambil merenggangkan otot kaki dan tangannya.


Sementara untuk perkembangan pencarian Bram tentang keberadaan Hani masih belum mendapati hasil.


Semalam Hani berbicara banyak hal kepada suaminya maupun keluh kesahnya selama menjalani kehidupannya di waktu yang berbeda, sebagai penulis berita supranatural yang terkadang berita aneh maupun kasus-kasus tertentu.


Flashback on


"Han, kamu harus sabar ya disana. Berjuanglah semampumu saja, asal itu membuatmu nyaman. Aku yakin usahamu tidak mengkhianati hasil di kemudian hari, dan aku pasti akan menunggumu sampai kamu kembali..."


Malam itu Hani dibuat tersentuh mendengar perkataan suaminya yang terkesan memberikan dukungan sangat besar baginya.


Bisa ia jadikan semangat untuk terus berjuang dalam keadaannya saat ini.


"Terimakasih banyak dukungannya mas, aku... sangat beruntung memiliki suami sepertimu."


Flashback off


Mengingat akan hal semalam Hani pun bangkit dengan penuh semangat.


"Aku janji. Aku pasti akan pulang dengan selamat dan bertemu lagi dengan orang yang aku cintai!" ucapnya mengikrarkan janji penuh semangat seraya mengangkat satu lengannya ke atas.


Minggu ini Hani mendapati banyak undangan dari para klien di luar jam kerjanya, meskipun begitu Hani tetap memberikan respon terbaik pada mereka.


Dalam aplikasi pesan chat ada salah satu klien yang menjelaskan detail dan panjang tentang hal supranatural yang dialaminya.


Sehingga membuat Hani tertarik untuk menjadikannya sebagai bahan berita selanjutnya.


Yang dialami oleh seorang mahasiswa jurusan kedokteran. Dimana dirinya selalu di ganggu oleh sosok tak kasat mata, tak tanggung-tanggung aktivitas supranatural dia alami di waktu yang sama.


Untuk nilai berita itu sendiri mengarah pada tempat terjadi di sebuah rumah sakit dan menurut apa yang dikatakan pada pesan itu mengungkap bukan hanya satu orang saja yang mendapati gangguan tersebut.


"Aku mau bertemu dengannya hari ini, karena penasaran pada ceritanya. Emm... Aku tahu ini hari diriku mengistirahatkan diri. Tapi aku sempatkan waktu sedikit saja untuk berkunjung ke rumah mahasiswa yang mengirim pesan ini."


Hani bergegas membersihkan diri baru setelah itu ia bersiap-siap untuk pergi keluar.


Sementara seorang bodyguard sekaligus supir mempersiapkan mobil yang akan digunakan Hani sebagai transportasi menuju kesana.


Kini Hani dalam perjalanan menuju kediaman seorang mahasiswa kedokteran menguak apa yang terjadi dengannya saat berada di rumah sakit tempat magangnya.


Sebelumnya Hani sudah ijin kepada Stefan saat ia menemukannya sedang sibuk berkutat di depan monitor ruangan pribadinya.


Stefan menyetujui dengan syarat dua atau tiga bodyguard akan ikut bersama Hani untuk berjaga-jaga jika saja ada hal buruk tak disangka-sangka.


Sampai di tempat tujuan, Hani lalu langsung saja memasuki sebuah halaman yang dipenuhi oleh daun pohon lemon yang berguguran.


Tak jauh darinya terlihat sebuah kediaman sederhana yang ditempati oleh seorang mahasiswa jurusan kedokteran.


Tok.. tok.. tok..


Tepat didepan rumah mahasiswa itu dengan segera Hani mengetuk pintu. Keluarlah seseorang yang Hani yakini adalah Dimas, kliennya.


"Nona... mari masuk, aku akan menyiapkan minuman terlebih dahulu!" ucap Dimas senyum dengan ramah menunjukkan rasa hormatnya kepada Hani, mempersilahkan Hani masuk dilanjutkan kepada kedua bodyguard.


Hani kemudian duduk pada sofa ruang tamu sementara kedua bodyguard yang ikut bersamanya memilih untuk berdiri.


Dimas kemudian kembali sembari membawa tiga gelas berisi minuman dan cemilan dari dalam toples.


"Hanya ini yang bisa aku sediakan buat nona sama om yang ada disana."


"Tch, aku masih muda tahu," gumam salah satu bodyguard yang memang masih muda, namun wajahnya terlihat seperti pria paruh baya.


Hani menjelaskan kedatangannya yang segera ini kepada Dimas, ia kemari untuk bertanya beberapa hal mengenai cerita dan hal yang dialami oleh Dimas, yang berkaitan dengan ceritakannya diganggu oleh sosok tak kasat mata.


Sebenarnya Hani penasaran apakah dia kerap kali di ganggu di tempat kediamannya.


"Jadi Dimas, saya mau bertanya kepada kamu. Apa kamu mengalami aktivitas supranatural pula di rumah ini, emm ini tempat tinggalmu kan?" ucap Hani serius.


"Yah, ini tempat tinggal saya setelah kedua orang tua saya pergi bekerja di luar negeri. Hanya rumah sewaan. Untuk aktivitas supranatural saya..."


"Ada apa, katakan saja padaku," sela Hani.


"Mengalami juga di rumah ini, namun sering terjadi di malam hari. Sampai-sampai saya tidak bisa tidur dengan tenang!" jelasnya dengan raut sedikit ada rasa takut.


"Hmm, begitu ya. Terus kamu pernah mengundang orang pintar kemari belum?"


"Sudah, tapi tetap saja sosok menyeramkan menyerupai gadis sekolah itu terus mengganggu saya..."


Kali ini salah satu bodyguard ikut masuk dalam pembicaraan bertanya kepada Dimas gangguan apa saja yang dialaminya.


Menurut penuturan Dimas ia di takut takuti dengan suara tangisan perempuan, suara bayi, dan gangguan saat ia tidur.


Bahkan ia mengaku pernah mendapati bekas cakaran kuku lumayan dalam pada perutnya di keesokan harinya saat dia terbangun dari tidurnya.


Membuat Hani berasumsi jika ada sebab dan akibat mengapa Dimas di ganggu oleh sosok gadis sekolah, sampai membuatnya terluka.


"Apa kamu pernah melakukan hal yang tidak pantas beberapa bulan sebelumnya? Oh ya, sejak kapan kamu mengalami gangguan dari makhluk halus itu?" ucap Hani langsung to the point membuat Dimas nampak mengingat -ingat.


"Tidak. Dan seingat saya beberapa bulan sebelumnya... saya tidak melakukan hal buruk. Untuk gangguan itu sendiri aku alami sejak... Dua Minggu yang lalu, ya!"


Dimas sendiri tidak menyangka jika bodyguard yang bersama dengan Hani adalah ahli mimik wajah. Bisa mengetahui kebohongan seseorang dan menyimpulkan arti dari ekspresinya.


Tanpa memiliki keahlian mengartikan mimik wajah pun Hani mengetahui ada yang disembunyikan oleh Dimas, dan dia sepertinya ragu untuk mengungkapkannya.


"Boleh saya melihat bekas cakaran yang kamu alami!" ucap salah satu bodyguard.


Dimas lalu menunjukkannya tanpa ragu dan gerak-geriknya pun terlihat tidak mencurigakan, karena memang benar sesuai yang dikatakannya.


Bekas cakaran yang diduga berasal dari kuku makhluk tak kasat mata masih membekas pada perut Dimas.