
Usai mengetahui kejelasan atas hal yang dialaminya kemarin Hani dibuat shock, namun di satu sisi ia merasa tidak terlalu terguncang.
Telah mempercayai Stefan sebelumnya setelah lepas dari pengaruh psikologi Alexander.
Hanya saja mengenai Alexander, Hani berspekulasi jika dirinya telah dicuci otak maupun ditipu tanpa ia sadari.
Menurut pandangannya perkataan Alexander seakan hipnotis membahayakan. Mampu menghipnotis dirinya tanpa jejak awal yang ketara.
Untuk sementara Hani menghentikan pencarian kisah legenda kota Tragedy pada orang-orang yang telah di data kemarin, dalam kisaran umur dan tanggal lahir tertentu.
Guna di tanyai cerita masa lampau mengenai penyebab kota ini sering terjadi hal-hal supranatural maupun aneh tidak bisa dijelaskan secara logika.
•••
Dua hari kemudian, Hani mengundang seseorang untuk di wawancarai olehnya hari ini, dikarenakan latar belakang orang yang akan diwawancarainya tidak mencurigakan dan berbahaya.
Iapun mengundangnya ke rumah ini, rumah yang diperuntukkan Stefan bagi Hani maupun tempat tinggalnya sendiri.
Sebenarnya dia memiliki villa dan rumah lain jauh lebih megah dan mewah, tapi Stefan lebih memilih untuk berada di rumah ini.
Aktivitasnya sebagai CEO pun setelah usai paling banyak dihabiskan di rumah ini.
Beberapa menit menunggu seseorang yang diundangnya pun datang dengan style rapi terlihat dirinya sudah tua serta rambutnya yang beruban.
Sebelumnya seseorang itu dengan senang hati menerima undangan Hani, katanya beliau ingin menceritakan kisah kelam dirinya di masa lalu.
Yang membuatnya menjadi sukses sampai di usianya saat ini. Beliau berumur 65 tahun namun masih terlihat sehat bugar serta memiliki jiwa kepemimpinan tak pernah padam pada dirinya.
Beliau ini adalah pemilik perusahaan aplikasi delivery menu makanan ternama. Masuk kedalam salah satu orang dengan penghasilan selangit nomor lima belas.
"Selamat sore pak, senang bisa melihat bapak hadir atas undangan sederhana ini, dan mungkin menganggu waktu bapak," ucap Hani ramah serta merendah.
Beliau memang kemari sekalian mengajak kerjasama antar Perusahaan dengan CEO yang Hani sebut orang paling dingin di dunia, Stefan.
Bradley membalas perkataan Hani dengan ramah pula tak lama setelah beberapa menit berbincang. Beliau akhirnya memulai cerita masa lalunya.
Berawal di hari pertama dirinya bekerja di sebuah penambangan batu bara. Pagi itu, beliau bersama dengan rekan-rekannya berjumlah lima orang disibukkan dengan perbicangan hangat.
Pagi yang cerah sembari menyeruput kopi dan makan gorengan yang dibeli secara patungan, mereka masih baik-baik saja mulanya.
Hingga jam 08.00 saat para pekerja tambang terutama Bradley berada dalam kedalam jauh dari permukaan tanah guna mengambil mineral batubara.
Kejadian tidak terduga menimpa para pekerja yang sedang melakukan pekerjaannya disana.
Terjadi guncangan beberapa saat hingga mengubur tempat keluar mereka dari dalam sana.
Membuat semua pekerja tambang menjadi gelisah dan khawatir mengenai keselamatan dirinya.
Tujuh jam berlalu, bantuan belum datang tidak ada suara tim penyelamat yang melakukan pengeboran di atas.
Mengurangi harapan para pekerja yang berpikir selamat hari ini juga apalagi mereka sadar jika kedalam ini sangat dalam dibandingkan tempat penambangan batubara lain.
Hanya demi membuat jalur alternatif maupun jalur keluar yang sebelumnya telah tertimbun tanah. Evakuasi pun sepertinya sangat sulit.
Mengingat pada tahun itu teknologi tambang belum se-mutakhir seperti sekarang ini.
Lima belas jam, para pekerja pasrah dan menunggu tim penyelamat datang maka salah satu dari mereka menjadi ketua disana dan menyarankan kepada rekannya untuk tetap tenang menghadapi masalah maupun keadaan sekarang ini.
Semuanya lalu makan bersama dengan bekal yang sebelumnya mereka bawa, namun tidak semuanya mereka makan dan menghabiskannya dengan cepat.
Sistemnya, mereka harus mengurangi konsumsi terhadap bekal bawaan mereka yang setelah di cek adalah makanan yang mampu bertahan lama.
Serta mereka harus menahan n*fsu makan berlebih bagi mereka yang makan banyak, aturan ini juga berlaku bagi semua orang.
Sampai tim penyelamat datang dan menyelamatkan mereka, para pekerja harus sangat bersabar pada segalanya, hal itu dikatakan oleh ketua yang terpilih secara acak disana. Dan dipatuhi oleh semua orang.
Dua hari berlalu, semuanya masih tenang dan tentram walaupun beberapa dari para pekerja ada yang mengeluh maupun meratapi nasib.
Tapi sebagiannya berusaha bertahan hidup didalam tempat ini dengan harapan besar, selamat sampai akhir hingga bertemu dengan keluarga dan sanak saudara mereka ketika keluar dari tempat ini.
Memasuki empat hari persediaan makanan semakin menipis air pun hanya di peruntukan bagi mereka yang sangat kehausan, terjadilah perdebatan maupun pertengkaran.
Sampai-sampai salah satu dari rekan Bradley terluka karena ikut melerai perkelahian.
"Kau tak apa sobat?" tanya Bradley khawatir melihat rekannya terluka. Sekarang ini hanya Agung sebagai rekannya yang paling terpercaya lantaran temannya yang lain memilih bersama dengan regu berbeda.
Kini para pekerja di bagi menjadi beberapa regu. Sebenarnya mereka semua berjumlah Tiga puluh orang lebih.
"Yah, aku baik-baik saja. Tsk, padahal aku hanya melerai, mereka malah menganggap diriku..."
"Tidak usah dipikirkan, inilah jati diri manusia yang sebenarnya. Dipenuhi oleh sifat-sifat negatif dalam dirinya yang sebelumnya terpendam."
"Apa yang kau bicarakan, lebih baik kita bergegas makan. Karena dirimu adalah rekan sejati dan terus membantuku beberapa hari ini, aku akan memberimu suatu rahasia, lagipula di dalam sini sangat luas. Aku menyembunyikan sesuatu selama ini!" ucap Agung dengan senyum menyeringai.
"Kau bahkan lebih licik dariku, baiklah, tunjukkan padaku!"
Mereka berdua lalu melewati maupun menjauhi beberapa regu para pekerja menuju tempat tersembunyi yang dibilang oleh Agung.
Alangkah terkejutnya Bradley melihat tas besar berisi makanan kering setelah dicek ternyata adalah dodol yang sengaja dikeringkan.
"Aku melakukan ini guna menjaga kondisi dodol agar tetap terjaga dengan serta mampu bertahan lebih lama lagi, kita bisa memotongnya dengan cutter ketika akan memakannya," ujar Agung disaat temannya itu mengorek dan melihat-lihat isi tas besar berisi banyak dodol kering.
"Bukan hal itu yang membuatku terkejut, tapi bagaimana kau membawa banyak dodol kedalam tempat seperti ini, tidak mungkin jika disengaja?" tanya Bradley dengan sorot mata mengintimidasi pada sahabatnya itu.
"Sebenernya aku menemukan tas ini saat kita berada di warung makan, aku ingin mencari pemiliknya, tapi semua orang seakan acuh. Jadi apa boleh buat aku membawanya kesini, sengaja ingin aku berikan kepada para pekerja. Namun melihat dengan mata kepala sendiri mereka sudah seperti kehilangan akal dan mulai bertindak semena-mena, aku lebih baik mengurungkan niat untuk membagikannya!"
"Ini aneh, bukannya saat memasuki tempat ini ada pengecekan apa yang dibawa oleh pekerja. Lalu dia berani membawa tas besar berisikan dodol yang sangat banyak ini, bahkan aku sendiri mengangkatnya sangat kesusahan. Tapi dia, seperti halnya harus membawanya. Jika aku jadi Agung, aku pasti akan membagikan dodol temuannya ini setelah pekerjaan selesai!" ucap Bradley dalam hati.
Dirinya merasa curiga kepada sahabatnya itu. Dan tanpa disadari mereka berdua sebelumnya sedang diikuti oleh seseorang.