
Wanita berbadan disturbing itupun mulai merangkak mendekati Robin setelah turun dari tali temali membentuk sarang laba-laba.
Robin tetap tenang sembari menodongkan pistol Laras panjang ke arah wanita itu yang tak ada takut-takutnya sama sekali.
"Hei... aku tahu dirimu menjadi korban keegoisan seseorang di tempat ini, tapi jika dirimu masih memiliki sisi manusia, berhentilah sejenak. Aku ini adalah seorang mantan militer profesional yang sudah pensiun, serta diriku ini dapat menjadi pendengar yang baik!" terang Robin dengan tatapan serius seraya menurunkan kewaspadaan serta senjata Laras panjang yang dipegangnya.
Wanita itu diam sepertinya dia mendengar jelas maupun memahami perkataan Robin barusan.
"Tolong selamatkan diriku... hiks... aku ingin keluar dari tempat ini..."
Tangis wanita itu pecah bersamaan dengan dirinya yang melihat jijik tubuhnya yang berjalan merangkak dengan anggota tubuh tak layak.
Dimodifikasi oleh seseorang dan mengakuinya sendiri, bahkan dari raut wajahnya saat mengatakan ingin diselamatkan, Robin percaya kepadanya bahwa wanita itu sangat tersiksa selama ini.
Nampak Robin yang mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat serta raut kekesalan terhadap pelaku eksperimen gila seseorang yang menggunakan manusia sebagai kelinci percobaan.
Sebelumnya ia melihat sesuatu maupun barang-barang berkaitan dengan ilmu medis. Yang memperkuat dugaannya terhadap eksperimen keji tersebut.
"Ya, aku berjanji akan menyelamatkan dirimu. Tapi pertama-tama, apa dirimu aman saat aku dekati?" tanya Robin tatapannya serius saat mengatakannya.
Wanita itu terdiam kemudian tangisnya mulai berhenti.
"Heh... memangnya kamu mengerti huh, kondisi diriku selama ini. Bahkan saat diriku kembali mungkin aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi..."
"Apa maksudmu mengatakan hal itu, senyumanmu ku tahu menyiratkan sesuatu?"
"Kalau begitu bagaimana jika dirimu memelukku sebentar aku membutuhkan pelukan saat ini!"
Kini Robin memikirkan maksud dari perkataan wanita itu mengarahkannya pada sebuah pesan dengan kode ucapan maupun tatapan dan gerak gerik dari orang yang akan dirinya selamatkan.
Tak lama dirinya mengerti akan sebuah situasi yang bisa saja terjadi. Situasi rahasia yang hanya diketahui jika jeli dalam menyikapi suatu kondisi.
"Ya, aku akan memelukmu..."
Di ruangan gelap hanya monitor sebagai penerangan.
Seseorang menyunggingkan senyuman kemenangan lantaran targetnya telah masuk dalam perangkap.
"Akhirnya... aku dapat membuat pria itu dan wanita yang tersiksa mendapati keselamatan dan kebebasan. Ibu, ku harap ibu menyetujuinya..." terakhir berucap ia menoleh kebelakang.
"... Ibu setuju denganmu nak."
Kembali pada mereka berdua kini Robin mulai mendekati wanita itu, namun langkahnya terhenti dan berkata.
"Akhirnya mereka datang, sejumlah tim khusus yang akan mengepung tempat ini. Mereka disebut sebagai pasukan elit, tim terbaik yang kini diterjunkan. Selamat dirimu akan segera terselamatkan!" ujar Robin serius dengan ekspresinya saat berkata, yang membuat siapa saja yang melihatnya pasti mengganggap perkataan Robin adalah sebuah kejujuran hakiki.
Wanita itu terperangah dia tidak bisa berkata-kata lagi dan terus menatap Robin lekat.
Kembali pada ruangan gelap dan pria muda itu.
"Apa, ternyata bala bantuan datang. Tapi kenapa aku belum menyadarinya, tunggu, dia bilang pasukan elit. Jangan-jangan mereka sedang melakukan penyergapan sembunyi-sembunyi!?" ucapnya menerka.
"Bu kita selamat, jadi apa aku harus membatalkan rencana itu?"
"Baiklah."
Bip.
Robin lalu langsung saja mendekati wanita itu dengan gerakan terburu lalu melepaskan rancangan mirip bom yang terikat pada tubuh wanita itu. Kemudian membuangnya ke arah jendela.
Setelahnya layar monitor yang menampakkan ruangan tempat Robin dan wanita itu berada menampilkan jejak semut.
Kreesk...
"Sialan, pria itu malah menipu diriku. Dia dari awal memang sudah tahu aku memasang bom remote control pada wanita itu, lalu berpura-pura bala bantuan datang agar memompa keputusan diriku. Pada akhirnya aku tertipu dan mematikan bom itu dari jarak jauh, lalu dengan sigap mantan militer itu menyingkirkan bom pada tubuh wanita malang itu, tch... dia memang asli seorang militer!"
Di saat bersamaan Robin membawa wanita itu ke tempat yang menurutnya aman dan terbebas dari tangkapan CCTV.
Dor!
Senjata api diarahkan kepada orang yang hendak menembak Robin dari belakang dengan senapan.
Tembakan barusan langsung saja menewaskan orang itu di tempat.
Bruk.
"Kenapa kamu begitu jeli sekali?" tanya wanita itu yang ternyata seorang gadis saat Robin memperbaiki tampilan rambutnya.
"Sudah ku katakan dari awal, aku ini mantan militer profesional. Dan janjiku menyelamatkan diriku bukan bualan semata, meskipun sebelumnya aku sempat berbohong."
"Tidak apa-apa, aku menghargai aksimu tadi. Dan pria paruh baya itu memang pantas untuk mati, hanya saja aku tidak merasa puas karena dia belum tersiksa sama sepertiku!"
Robin memasuki ruangan yang menurutnya aman dari tangkapan CCTV kemudian bersembunyi di suatu tempat.
Tujuannya untuk menanyakan perihal tentang tempat ini kepada gadis bernama Sheila yang menjadi korban dari sebuah eksperimen keji dan tidak berprikemanusiaan.
"Ada lima orang yang ku tahu mendiami bangunan ini, pertama otak dari kegilaan ini yaitu Prof, Valen. Beliau ahli dalam bidang medis seperti bedah, tulang, operasi bahkan banyak lagi lisensi yang beliau punya. Intinya dia yang melakukan eksperimen keji ini kepada manusia dan hewan!"
"Lalu Debi yang kamu bunuh barusan bertugas sebagai perancang jebakan, Karl bertugas mengintai pada layar monitor, Jonathan sebagai asisten dari profesor, pintar dalam segala hal, yang ku tahu dia mendedikasikan hidupnya pada seni!"
Usai mendengarkan penjelasan dari Sheila dan sudah mengingat orang-orang dalam bangunan ini beserta peranannya, Robin lalu mengatakan sumpah akan menangkap dan bila perlu membunuh mereka.
Orang-orang yang terlibat dalam kejahatan terlampau jahat dan gila ini.
"Oh ya, bukannya ada lima orang, satu lagi?" tanya Robin kembali setelah menghitung orang-orang itu kurang satu dari kelima orang yang disebutkan oleh Sheila sebelumnya.
"Ah.. aku lupa, dia adalah anak dari Profesor Valen. Dan dia berbeda sekali dengan ayahnya, malahan menolak eksperimen itu. Hanya saja karena memiliki dendam pribadi dia sampai-sampai menahan kebencian terhadap ayahnya dan berpura-pura menjadi bagian dari aksi keji ini. Selain itu yang ku tahu tentangnya... dia bisa membuat bom jenis apapun. Serta rencana mulia guna menghentikan semua ini, namun pada jalur yang salah."
Tak disangka obrolan mereka langsung didengar oleh Stefan, Hani, dan Gerry lantaran mereka memasangi diri dengan perekam suara yang dapat pula digunakan sebagai komunikasi.
Sementara mereka bertiga sedang bersembunyi dari kejaran anjing berkepala manusia yang terdapat bom yang terpasang pada bagian perutnya.
Meskipun kepala anjing-anjing itu berkepala manusia, akan tetapi fakta menyedihkan mereka dilatih selayaknya anjing sungguhan.
Bahkan mereka sampai lupa berbicara dalam bahasa mereka sendiri-sendiri, karena korban-korban eksperimen adalah sampah masyarakat terlupakan.