
Mata pada dinding itu masih mengamati mereka berempat yang ternyata adalah seorang wanita dengan tubuh sangat Disturbing.
"Ruangan ini sepertinya penuh jebakan, kita harus ekstra berhati-hati. Bila perlu jeli pada pijakan dan sekitaran, karena jebakan disini..."
Belum usai menyelesaikan perkataannya mereka dikejutkan dengan seorang perempuan dari depan sana.
Suara derit lantai kayu mengakibatkan langkanya terdengar jelas.
Dan perempuan itu memang menuju kemari. Aneh, dia memakai gaun tak biasa yang menutupi sesuatu dibelakangnya.
"Siapa dirimu?" ucap mantan militer itu guna mencegah perempuan itu terus mendekati mereka.
Meskipun perempuan itu tidak menunjukkan lagak dan gerak gerik aneh, tapi perempuan itu sangat mencurigakan.
Karena di setiap melangkah sembari mendekati mereka dia sama sekali tidak berekspresi, bahkan matanya berkedip agak lama dibandingkan orang pada umumnya.
"Hei... sudah kubilang berhenti, atau akan ku tembak dirimu!" ancam mantan militer itu.
Perempuan itu selain aneh dirinya juga tak terawat yang membuat siapa saja yang melihatnya merasa jijik.
Berbanding terbalik dengan keadaan gaun yang dikenakannya, nampak indah dan mewah.
Sudah lumayan dekat dengan mereka berempat perempuan itu lalu tersenyum bahagia dan nampak serius seakan menghayati tanpa dibuat-buat.
Hani yang melihatnya pun dibuat kebingungan sembari menerka-nerka lalu ia asumsikan perempuan itu hendak melakukan percobaan bunuh diri.
"Tunggu, dia... Menjauh darinya!!"
Dharr!!
Ledakan dengan radius kecil berasal dari perempuan itu. Hingga membuat mereka berempat meloncat kebelakang setelah berbalik badan.
Bau anyir dan manis seakan menyelimuti tubuh keempatnya, saat Hani cium dan melihatnya ternyata bau itu adalah darah yang menempel pada bagian belakang pakainya.
Meskipun terlihat sedikit tapi di posisinya ia menganggap sangat banyak, karena menyimpulkannya dari bau.
Yang ternyata saat Hani melihat ke arah perempuan itu pemandangan berdarah serta menjijikkan dilihat olehnya.
Badan bagian atas perempuan itu hancur setengah hingga menyisakan tubuh bagian bawahnya yang masih berdiri tegak.
Mengerikannya lagi darah terciprat kemana-mana, bahkan dari bagian dalam tubuhnya yang hancur mengeluarkan darah segar.
"Ah..humph..."
Tentu saja Hani shock hingga spontan ia berteriak, namun lagi-lagi Stefan menutup mulutnya.
"Hiks... hiks..."
Hani menangis lantaran tak kuasa melihat hal mengerikan itu, bahkan ia dibuat menjerit dalam dekapan Stefan saat melihat dua pria terlatih itu berlumuran darah di bagian belakang tubuh mereka.
Sama halnya dengan Stefan namun belum Hani ketahui.
"Tsk... aku lengah, tapi untungnya sadar jika perempuan itu membawa bom dibelakang tubuhnya!" ucap Robin.
"Ya, kita hampir bernasib sama dengan perempuan itu. Dan aku tidak menyangka seseorang mencuci otak gadis itu hingga mau melakukan bunuh diri!" sahut Gerry sembari melepaskan jaket kulit yang dikenakannya karena kotor terkena cipratan darah.
"Hu... hiks..." sedangkan Hani masih menangis dalam dekapan Stefan.
"Tidak, perempuan itu bukan di cuci otak oleh seseorang, melainkan diperintahkan. Yang kebetulan dirinya menerima dengan senang hati, alasannya terbilang menyedihkan, karena perempuan itu menginginkan kebebasan selama-lamanya!" ujar Stefan.
"Aku paham, mungkin perempuan itu selama ini hidup seperti dalam penjara, tersiksa hingga orang yang membuat dirinya tersiksa menyuruhnya untuk bunuh diri, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapatkan kebebasan," timpal Robin memahami maksud perkataan Stefan barusan.
Setelah semuanya sudah melepaskan jaket lantaran terdapat noda darah mereka berempat lalu memasuki ruangan lain.
Kali ini dengan sangat hati-hati dan waspada dipandu dan dijaga oleh Robin yang nampak serius.
Sementara Gerry tak lepas memperhatikan sekitaran nya selama bergerak.
Dan beberapa jebakan telah mereka sadari berkat kejelian Gerry maupun Robin.
"Ini, aku kasih kamu pistol untuk berjaga-jaga. Gunakan dengan hati-hati saat menggunakannya, dan dalam situasi terdesak ketika bahaya mengancam dirimu!" ucap Stefan yang malah membuat Hani memasang ekspresi takut. Padahal bermaksud baik.
"Dengarkan aku Han, kamu tadi menangis, kamu tahu artinya bukan, kamu kalah dalam taruhan. Tapi aku memberimu kesempatan, jika kamu mampu menahan tangis dan rasa takut aku akan mempersingkat waktu dirimu berada di kota ini!" terang Stefan yang mana berhasil membuat Hani bangkit dari ketakutan yang dirasakannya.
Bahkan ia menyeka air matanya sembari menunjukkan ekspresi tegar.
"Kamu udah berjanji ya, awas kalau kamu mengingkari.." ucap Hani sejurus kemudian.
"Tuan muda memang hebat, bisa membuat nona muda kembali baikan," sela Gerry.
Drap..
"Ada orang, aku akan mengejarnya!" ujar Robin sembari bergerak untuk mengejar seseorang yang dilihatnya.
Terlihat jelas sedang mengintip pada tangga yang menuju ke lantai atas.
Di langit-langit tepat di atas mereka bertiga seseorang sedang merangkak dan hendak menembakkan jarum dengan semacam alat pegas yang ditiup.
Jleb!
Sebuah belati menusuk pada langit-langit.
"Argh!!!"
Aksinya itu mendadak diketahui oleh Gerry, meskipun orang itu merangkak seakan tak ada suara. Hanya saja pendengaran Gerry sangat tajam selain matanya.
Dor!
"Arg...!!"
"Heh.. kenapa kamu menembaknya Gerry?" tanya Hani yang kini nampak tenang malahan penasaran pada keputusan Gerry menembak orang di atas mereka.
"Dia bisa saja kabur dengan cepat, meskipun dengan cara merangkak. Dan ada alasan lain untuk itu!" jawab Gerry masih membuat Hani penasaran dengan perkataannya di akhir terkesan sengaja tidak diberitahukan.
Gresek...
Gresek...
"Sepertinya dia memilih untuk kabur, karena diriku menembak bagian kakinya," terang Gerry.
Woff.. woft..
"Suara anjing, dan sepertinya menuju kemari!"
Dari suaranya mereka tahu jumlah anjing yang kemari terdengar lebih dari satu.
"Aku rasa anjing yang kemari bisa saja dipasangi oleh bom lagi!" ujar Hani berasumsi.
Stefan maupun Gerry pun terlihat terkejut serta menunjukkan ekspresi setuju.
Sementara di suatu ruangan minim akan penerangan dan hanya layar monitor yang menerangi.
Seseorang pria muda melihat mereka bertiga dari layar monitor.
"Perempuan itu bisa menebak dengan mudah, tapi aku berharap mereka mati, karena aku tidak ingin mereka dijadikan subjek oleh ayahku yang gila itu. itulah mengapa aku memasang bom pada anjing-anjing yang dikerahkan mendekati mereka!"
"Serta memberi mereka kebebasan melalui kematian agar mereka dapat beristirahat dengan tenang disana, sudah cukup mereka di buat mengalami hari-hari yang buruk. Ya kan ibu?" ucap pria muda itu terakhir sedang mengajak berbicara pada seseorang.
Dari dalam kegelapan muncul kepala seorang wanita paruh baya hingga dia mendekati pria itu yang membuat wujudnya terlihat, karena layar monitor.
Mengejutkan, wanita paruh baya itu memiliki tubuh serigala berkepala manusia yang kini mengusapkan kepalanya pada pria itu.
"Ibu setuju denganmu nak, mereka memang harus di lenyap kan!" ucap wanita paruh baya itu yang akhirnya menjawab.
Di lantai atas, Robin kehilangan jejak seseorang yang dikejarnya hingga membuatnya melihat tali temali dibuat seperti sarang laba-laba.
Dan dari tali tersebut seorang wanita berambut panjang berwajah menyeramkan dan kotor melihat kearahnya dengan tatapan tajam.
Robin tercengang, karena tubuh bagian samping wanita itu terdapat kaki berjumlah enam di tambah dengan kedua tangan normalnya jadi delapan.
Sembari menjaga sekitaran lalu selanjutnya memasuki sebuah kamar.