Hantu Tampan Sang Pewaris

Hantu Tampan Sang Pewaris
Enam Puluh Lima


"Arrrgghh!"


"Brengsek!"


"Brengsek!"


Dilan terlihat begitu marah, sampai dia memukul-mukul setir mobil. Dilan sangat frustasi karena tidak tahu harus pergi kemana mencari Nathalie.


Dilan mencoba untuk berpikir jernih, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang, dia hanya mencoba untuk berpikir tempat mana saja yang pernah Justin tunjukkan kepadanya waktu mereka masih kecil.


Dilan baru teringat bahwa Justin pernah menunjukkan rumah peninggalan kedua orangtuanya Justin, dulu mereka pernah pergi kesana. Dilan segera pergi rumahnya mendiang orangtuanya Justin, akan tetapi dia tidak menemukan Nathalie disana, Dilan terlihat frustasi sekali.


Sementara waktu telah menunjukkan 40 menit lagi, Dilan sangat gelisah, tapi dia mencoba terus untuk tetap berpikir jernih. Dilan mencoba untuk mengingat tempat-tempat yang pernah menjadi tempat favorit Justin ketika dia masih kecil.


Dilan teringat dengan gudang peninggalan orang tuanya Justin yang terdapat di tengah hutan, dulu gudang itu dipakai tempat untuk berbisnis, tapi sekarang sudah tak terurus lagi.


Dilan segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju gudang tersebut, waktu tersisa 25 menit lagi.


Setelah sampai ke dalam gudang, Dilan tak berpikir panjang mendobrak pintu di gudang tersebut, sehingga pintu itu rusak dan terbuka.


Brakk...


Dilan terkejut ketika melihat Nathalie dalam kondisi tangan dan kakinya terikat, ternyata Nathalie sudah sadarkan diri, Nathalie menatap sendu kepada Dilan.


"Dilan!"


Dilan segera berlari untuk menolong Nathalie, tapi betapa terkejutnya dia saat melihat dipunggung Nathalie terdapat sebuah bom yang telah menuju waktu tersisa 18 menit lagi.


Dilan memegang wajah Nathalie, dia mencoba untuk menenangkannya. "Kamu tenang ya, aku tidak akan membiarkan kamu terluka."


Dilan mulai membuka tali yang mengikat tangannya Nathalie. Kemudian Dilan berusaha keras untuk melepaskan bom itu dari punggung Nathalie, sehingga berhasil terlepas. Waktu tersisa 14 menit lagi.


Nathalie terkejut saat melihat Justin yang tiba-tiba muncul, sekarang dia ada di belakang Dilan. "Dilan awas!"


Dilan tak sempat menghindar, ketika dia menoleh, Justin memukul kepala Dilan dengan balok kayu.


Bugh...


Membuat kepala Dilan terasa pusing dan mengeluarkan darah, tapi Dilan berusaha untuk tetap kuat, dia sadar saat ini ada orang yang harus dia lindungi.


Dilan segera bangkit, dia menahan balok kayu yang akan dipukulkan lagi kepadanya, Dilan menendang kaki Justin, memukul mundur Justin agar sedikit menjauh darinya.


Justin mengambil sebilah pisau diatas meja, dia berusaha keras untuk melukai Dilan kembali, Dilan menahan tangannya ketika Justin hendak menikam perutnya Dilan.


Dilan menatap tajam kepada Justin, "Jadi ini sesungguhnya dirimu? Orang yang begitu aku percaya dan sudah aku anggap kakakku sendiri, tapi ternyata kamu tega membunuh orang tuaku yang telah merawat dan membesarkanmu dengan penuh kasih sayang?"


"Salahkan mereka, mengapa mereka harus mempercayai aku." Justin berkata tanpa merasa bersalah.


Perkataan Justin membuat Dilan semakin murka.


Waktu tersisa 10 menit lagi. Sementara Nathalie sedang berusaha untuk membuka kakinya yang masih terikat.


Justin ingin menikam Dilan kembali, Dilan menahan sekuat tenaga tangan Justin yang sedang menggenggam pisau, hampir mengenai perutnya. Kemudian Dilan menendang kaki Justin dengan keras.


"Arrghh!" Justin meringis.


Ketika Justin mulai lengah, Dilan menendang tangan Justin yang yang memegang pisau hingga pisau itu pun terjatuh ke lantai.


Dilan dan Justin saling menyerang, saling memukul, sehingga wajah dan badan mereka babak belur.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Waktu tersisa 6 menit lagi.


Justin meraih pistol dari holder pinggang, dia menodongkan pistol ke arah Nathalie dan Dilan secara bergantian.


"Kalian pikir kalian akan selamat, hah? Tidak akan, aku akan membunuh kalian." Setelah berkata begitu, Justin terkekeh.


"Bukankah yang kamu incar adalah aku?" Tanya Dilan kepada Justin. "Biarkan Nathalie pergi, aku mohon." Yang Dilan pikirkan saat ini adalah keselamatan Nathalie.


Nathalie menangis, dia menggelengkan kepala, Nathalie tidak mungkin mau meninggalkan Dilan.


Justin tertawa ketika mendengar permohonan dari Dilan, "Hahaha seorang Dilan Niroga memohon padaku untuk menyelematkan gadis yang dicintainya? Sungguh menakjubkan!"


"Nathalie tidak ada hubungannya dengan kita, bukankah yang kamu incar adalah hartaku?"


"Bukan hanya hartamu, tapi aku memang ingin membunuh kamu, kamu pikir mudah bagiku menghadapi pria arogan seperti kamu? Rasanya aku ingin membunuhmu dari dulu."


"Kita selesaikan urusan kita sebagai laki-laki, karena itu biarkan Nathalie pergi!" Bagi Dilan keselamatan Nathalie yang paling utama. Apalagi waktu tersisa 3 menit lagi.


Justin menodongkan pistol ke arah Dilan, lalu dia menatap Nathalie. "Cepatlah pergi, selama aku bisa bersikap baik padamu."


Nathalie tidak mungkin pergi, dia tidak ingin membiarkan Dilan terluka sendirian. "Gak, aku gak akan pergi. Aku mohon tolong akhiri kejahatanmu itu."


"Kamu pilih saja, mau pergi dari sini atau aku tembak kepalanya Dilan!" Justin mengarahkan pistol ke arah kepala Dilan, Dilan susah menjangkau Justin karena jaraknya dengan Justin cukup jauh, Justin sengaja menjaukan dirinya dari jangkauan Dilan, agar Dilan tak bisa melawan karena Justin terus saja mengarahkan pistol kepadanya.


Dilan memberikan isyarat kepada Nathalie yang jaraknya terhalang satu meter dengannya, Nathalie harus pergi, dia harus selamat. "Ayahmu sedang berada di rumah sakit dalam keadaan kritis, dia sangat ingin bertemu denganmu. Maafkan aku, karena terlambat mengetahui kebenaran tentang ayahmu, aku jamin ayahmu akan segera dibebaskan." Dilan berkata dengan pelan.


Nathalie menitikkan air matanya, dia tidak ada pilihan lain, dia harus pergi, jika dia tidak pergi juga, Justin akan menembak kepala Dilan. Apalagi Nathalie bisa meminta bantuan di luar sana untuk menolong Dilan.


Waktu tersisa 2 menit lagi.


Nathalie berlari ke luar dari gudang itu, dia harus meminta bantuan agar ada yang menolong Dilan.


"Tolong!"


"Tolong!"


Nathalie berteriak meminta pertolongan, berharap ada yang mendengar teriakannya. Nathalie terbelalak ketika menyadari ada 8 orang preman mengelilinginya, ternyata Justin tidak akan melepaskannya begitu saja.


Sementara di dalam sana, Dilan melihat ada balok kayu di dekat kakinya, Dilan menendang balok kayu tersebut sehingga terlempar ke arah kepala Justin.


Justin meringis, ketika Justin lengah, Dilan menendang tangan Justin yang memegang pistol sehingga pistol tersebut terlempar cukup jauh.


Kini giliran Justin yang menyerang Dilan, dia menendang perut Dilan sehingga Dilan terjungkal ke lantai.


...****************...


"Hahaha, mau kemana kamu Nona manis?" goda salah satu preman yang ada disana.


Nathalie tidak tahu harus berbuat apalagi sekarang ini, dia hanya bisa terengah-engah, karena kelelahan.


Namun, mereka dikejutkan dengan segerombolan orang datang secara tiba-tiba, menodongkan pistol ke arah para preman tersebut. Ternyata mereka adalah polisi, polisi berhasil mengepung orang-orang jahat yang ada disana. Dilan sengaja menelpon polisi sebelum tiba di gudang tua itu.


Nathalie sangat bernafas lega, akhirnya bantuan telah datang juga. "Tolong selamatkan Dilan! Dia ada di gudang itu."


Kedelapan preman tak bisa berkutik, mereka terpaksa bertekuk lutut karena takut ditembak.


Sementara ada sekitar 6 polisi berlarian menuju gudang untuk menyelamatkan Dilan, begitu juga Nathalie.


Tapi sayangnya waktu telah menyisakan 0 detik, seketika gudang itu hancur lebur, menyalakan api yang begitu besar.


DOAAARRR...


BOOOMMM...


BOOOMMM...


Suara ledakan bom terdengar begitu nyaring, api menyambar melahap semua yang ada di dalam gudang. Asap hitam melambung tinggi ke atas menutupi cerahnya awan biru.


Nathalie menjerit histeris, dia berlari ke arah gudang yang telah hancur lebur. "Dilaaan!"


Namun, dia ditahan oleh dua orang polisi, Nathalie sekuat tenaga mencoba untuk berontak sambil menangis, dia telah kehilangan akal, hatinya benar-benar hancur saat ini melihat kondisi gudang yang telah hancur lebur.


"Arrrgghh... Dilan!"


"Dilan!" Nathalie menangis sesenggukan, dia terduduk di rerumputan, rasanya dia telah kehilangan setengah nyawanya melihat kondisi gudang tersebut.