Hantu Tampan Sang Pewaris

Hantu Tampan Sang Pewaris
Enam Puluh Satu


Setelah membunuh Hendrik, Justin melepaskan kemejanya yang berlumuran darah itu, lalu melemparkannya ke dalam drum, Justin dengan santai mengapit sebatang rokok diantara bibirnya, tangannya bergerak menghidupkan pematik, lalu menghidupkan ke ujung rokok. Rokoknya dia hisap lalu dihembuskan ke samping kanan tubuhnya.


Justin melemparkan pematik yang masih menyala ke dalam drum, sehingga api tersebut berkobar membakar kemejanya yang telah memiliki banyak noda darah.


Salah satu anak buahnya memberikan kemeja Justin yang baru, Justin membawa kemeja tersebut, lalu memakainya dengan santai.


Justin melihat kearah Hendrik yang sudah tergeletak di lantai dengan kondisi berlumuran darah dan sudah tak bernyawa, dia menghela nafas, padahal dia telah lama bekerjasama dengan Hendrik, sangat mempercayainya, hanya demi uang, Hendrik memilih untuk membodohi Justin. Justin merasa yakin pasti Dilan masih hidup.


Justin tersenyum smrik, "Rupanya kau ingin berperang denganku, Dilan. Oke, ayo kita lakukan. Siapa yang akan menang dalam pertarungan ini."


Justin memberikan perintah kepada anak buahnya untuk mengurus mayatnya Hendrik, "Cepat urus dia, jangan sampai ada satu orangpun yang bisa menemukan mayatnya!"


"Baik, Tuan."


Justin meraih kunci mobilnya yang tergeletak diatas meja, "Saya harus pergi, ada hal penting yang harus saya lakukan."


...****************...


Pak Arga merasa bahwa apa yang Dilan katakan padanya penuh kesungguhan dan tulus, dia menatap dengan mata sayu kepada putra dari mantan majikannya itu, ternyata sekarang sang tuan muda telah tumbuh dewasa.


"Saya sudah menugaskan bodyguard untuk menjaga Nathalie, saya berjanji akan selalu melindunginya, karena itu saya mohon Pak Arga bisa berbicara sejujurnya apa yang sebenarnya terjadi pada 10 tahun yang lalu?" Dilan terus saja berusaha meyakinkan Pak Arga, terlebih dia berbicara sesuai dengan apa yang dia rasakan.


Pak Arga terbatuk-batuk, dia memegang dadanya yang semakin hari semakin terasa sakit, bahkan nafasnya sudah tak beraturan. Kemudian setelah itu, dia memaksakan diri untuk berbicara yang sejujurnya kepada Dilan dan Pengacara Kenzi. Mungkin inilah jawaban dari Tuhan atas do'anya selama ini, akhirnya ada seseorang yang datang untuk menolongnya.


"Maafkan saya, Tuan. Saya terpaksa harus berbohong kepada semua orang, mengakui bahwa saya yang membunuh orang tua anda, padahal bukan saya pelakunya. Saya bukanlah orang yang membunuh orang tua anda."


Dilan dan Pengacara Kenzi terkejut mendengar pengakuan dari Pak Arga, padahal Dilan sudah menduga bahwa Pak Arga bukanlah pelaku pembunuhan yang sebenarnya.


Tangan Pak Arga nampak gemetaran, tubuhnya berkeringat dingin, akhirnya dia bisa berani berkata jujur, bahwa dia bukanlah pelaku sebenarnya.


"Lalu siapa pembunuh yang sebenarnya? Siapa yang telah membunuh orang tua saya?" Walaupun Dilan mencurigai Justin, dia harap hal itu tidak benar, hatinya sangat hancur jika seandainya ternyata orang yang paling dia percaya dan paling dekat dengannya adalah pembunuh kedua orangtuanya.


"Jus-Justin." Pak Arga menjawab pertanyaan dari Dilan dengan sangat gugup.


Jawaban dari Pak Arga membuat hati Dilan sangat hancur, sehancur-hancurnya, Dilan terpaku, wajahnya merah padam, bagaimana bisa Justin setega itu membunuh kedua orangtuanya yang telah mengadopsi Justin dari kecil? Membesarkannya sampai tubuh dewasa dengan penuh kasih sayang, air susu dibalas dengan air tuba. Justin sama sekali tidak tahu berterimakasih.


Pengacara Kenzi mencoba untuk menenangkan Dilan, dia menepuk-nepuk pundak Dilan.


Pak Arga meneruskan perkataannya, "Justin adalah orang yang menyuruh saya untuk menyerahkan diri ke kantor polisi, berpura-pura bahwa saya yang membunuh Tuan Andre dan Nyonya Lea. Saya terpaksa melakukannya karena saya diancam, Justin akan membunuh putri saya jika saya menolak perintahnya. Dan... dan Hendrik adalah pembunuh bayaran yang disewakan oleh Justin."


Kemudian Pak Arga menangis, walaupun nafasnya terasa berat, tapi dia memaksa diri untuk bicara. "Saya... saya sangat mer-merindukan putri saya, saya ingin sekali bertemu dengannya."


Pak Arga terbatuk-batuk kembali, kali ini batuknya semakin parah.


Dilan segera memberikan satu botol air mineral yang telah dia bukakan tutup botolnya kepada Pak Arga, akan tetapi Pak Arga tak sempat mengambil air minum yang telah Dilan berikan, Pak Arga tak sadarkan diri. Beruntung Dilan segera berdiri dan menangkap tubuh Pak Arga yang hampir terjatuh dari kursi, begitu pun Pengacara Kenzi.


"Pak Arga, bangun Pak Arga!" Dilan dan Pengacara Kenzi mencoba untuk membangunkan Pak Arga.


...****************...


Pak Arga telah dirawat di rumah sakit, kondisinya kritis, hanya satu hal yang diinginkan Pak Arga sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, dia ingin bertemu dengan Nathalie.


Karena itu Dilan segera menelpon Nathalie, dia memang menyuruh bodyguard untuk menjaga Nathalie di depan pintu apartemen dan menahan Nathalie agar tidak pergi dari sana tanpa seizin darinya, demi keselamatan Nathalie.


Sudah keempat kalinya Dilan menghubungi Nathalie, tapi tidak ada respon sama sekali dari Nathalie.


"Kemana dia? Mengapa telepon aku tidak diangkat juga?" Dilan sangat mengkhawatirkan Nathalie.


Dilan mencoba menghubungi bodyguard yang menjaga Nathalie satu persatu, tapi tak ada yang mengangkat telepon darinya juga. Membuat Dilan semakin resah dan gelisah.


Dilan menitipkan Pak Arga kepada Pengacara Kenzi, kebetulan disana juga terdapat beberapa polisi yang menjadi Pak Arga yang masih berstatus sebagai tahanan. "Tolong jaga Pak Arga, saya harus pulang sebentar."


Pengacara Kenzi menganggukkan kepala, "Baik, Tuan."


Saat berada ditengah perjalanan, ponsel Dilan tiba-tiba berdering, Dilan sangat bernafas lega, ternyata yang menelponnya adalah Nathalie.


Dilan segera memakai headset ke telinganya. "Hallo, Nathalie. Kenapa..."


Dilan berhenti bicara ketika mendengar suara seorang pria di seberang sana, membuat dia terkejut bukan main, karena dia tahu siapa suara itu. "Sudah lama aku tidak mendengar suaramu, ternyata kamu masih hidup. Tunggulah kejutan yang akan aku berikan padamu, Dilan Niroga." Kemudian pria itu tertawa puas.