
Tangan Justin bergerak untuk menekan pelatuk senjata api yang ada ditangannya. Sehingga terdengar suara bunyi tembakan begitu keras.
Dor...
Justin memilih untuk menembakkan peluru ke atas, rasanya tidak menyenangkan jika harus membunuh Nathalie begitu saja, lebih menyenangkan jika dia membunuh Nathalie di depan mata Dilan.
Nathalie terlihat tegang, dia pikir hari ini dia akan mati di tangan Justin, tapi ternyata Justin malah menembakkan peluru tersebut ke atas.
Nathalie mendengar ada suara langkah seseorang di belakangnya, ketika dia membalikkan badan, dia terkejut saat melihat ada satu orang preman yang hendak membekap dirinya dengan sapu tangan yang mengandung bius, atas instruksi dari Justin.
Nathalie tak sempat menghindar, karena preman itu bergerak cepat membekap mulut Nathalie dengan sapu tangan tersebut.
"Mmmhh... mmmhh.... mmhhh..."
Nathalie berusaha untuk berontak, dia memukul-mukul lengan pria yang sedang membekap mulutnya, namun Nathalie merasakan kepalanya pening dan pandangan kabur, sehingga dia tak memiliki kekuatan untuk melawan.
Nathalie jatuh pingsan, tubuhnya ambruk dijalanan yang beraspal sana, sementara keempat bodyguard yang melindungi Nathalie kalah telak.
...****************...
"Sebenarnya kamu sangat cantik, Nathalie. Seandainya jika kamu tidak berhubungan dengan Dilan, seandainya kamu tidak tahu apapun tentang ayahmu, dan seandainya kamu tidak tahu apapun yang telah aku lakukan, mungkin ceritanya akan berbeda. Aku pasti akan memberikan hatiku untukmu." lirih Justin, dia mengusap wajah Nathalie dengan lembut, saat ini Nathalie masih belum sadarkan diri dengan posisi duduk diatas kursi, tangan dan kakinya diikat dengan kuat dengan sebuah tali.
"Jika aku tidak bisa memiliki kamu, maka aku tidak akan membiarkan siapapun memiliki kamu juga." Justin meneruskan perkataannya. Dia mengusap bibir Nathalie dengan lembut, Justin memperhatikan bibir Nathalie yang sangat menggoda, Justin membungkukkan badannya untuk mencium bibir Nathalie, tapi suara getaran ponsel diatas meja membuatnya terganggu.
Drrrrtt...
Drrrrtt...
Drrrrtt...
Justin membawa ponselnya Nathalie, dia duduk di sebuah kursi yang ada disana, menumpangkan kakinya dengan santai. Kemudian Justin mengangkat telepon dari Dilan.
Terdengar suara Dilan diseberang sana, seseorang yang telah dianggap mati oleh Justin, ternyata pria itu masih hidup. "Hallo, Nathalie. Kenapa..."
Justin memotong perkataan Dilan, "Sudah lama aku tidak mendengar suaramu, ternyata kamu masih hidup. Tunggulah kejutan yang akan aku berikan padamu, Dilan Niroga." Setelah berkata seperti itu Justin tertawa dengan puas.
Betapa terkejutnya Dilan ketika mendengar suara Justin, itu artinya Nathalie sedang bersama Justin, Nathalie sedang berada dalam bahaya.
Dilan segera menepikan mobilnya di pinggir jalan, hatinya sedang dilanda penuh rasa cemas, dia tidak tahu bagaimana nasib Nathalie sekarang.
"Kenapa ponsel Nathalie ada padamu? Dimana Nathalie?" Dilan berkata dengan nada tinggi.
Justin melihat ke arah bom yang ada di punggung Nathalie, dia sengaja memasang bom itu dipunggungnya. "Gadis itu telah terlanjur ikut campur dengan urusanku, bahkan dia berani mempermainkan aku, karena itu aku harus memberikan pelajaran padanya."
Emosi Dilan semakin meluap-luap mendengar perkataan Justin. "Apa yang kau lakukan pada Nathalie, bajingan? Jika kamu berani menyakitinya, aku tidak akan pernah memaafkanmu."
Justin malah tertawa. "Aku menaruh bom ditubuhnya, waktu hanya tersisa satu jam. Kau harus mencarinya sampai ketemu jika ingin menyelamatkannya. Dan jangan pernah melaporkan hal ini pada polisi, anak buahku sedang berkeliaran untuk memantau dirimu."
Klik!
Setelah berkata begitu, Justin menonaktifkan ponselnya Nathalie agar tidak dapat dilacak oleh siapapun.