
Hendrik dulu adalah mantan security-nya di Mansion Niroga, dulu dia hanya sebentar saja bekerja di sana, mungkin sekitar 3 bulan. Karena tujuannya hanya untuk memata-matai targetnya yang akan dia bunuh.
Hendrik bekerja satu bulan sebelum Tuan Andre dan Bu Lea di bunuh, lalu dia keluar dari pekerjaannya dua bulan setelah Tuan Andre dan Bu Lea meninggal, dengan alasan akan pindah ke luar kota bersama istri dan anaknya.
Tidak ada yang mencurigai sosok mantan security-nya tersebut, karena semuanya fokus kepada Pak Arga yang dijadikan tersangka pembunuhan atas meninggalnya Tuan Andre dan Bu Lea. Sehingga Pak Arga mendapatkan banyak kecaman dan umpatan dari banyak orang, karena aksi pembunuhan itu sangat sadis dan keji.
Jika Hendrik adalah orang yang membunuhnya dan mencoba membunuh Nathalie, Dilan yakin Hendrik pasti pembunuh bayaran yang disewa oleh Selena dan orang yang dinamai Partner oleh Selena itu. Tapi bagaimana dengan Pak Arga? Apakah Pak Arga pembunuh bayaran juga? Itulah yang ada dipikiran Dilan saat ini.
Dilan ingin menghajar Hendrik kembali, tapi sayangnya dia merasakan dadanya sakit, seakan jantungnya terasa mau meledak.
"Arrgghhh!" Dilan memegang dadanya, entah mengapa dia merasakan tubuhnya terasa melemah, sampai dia kehilangan keseimbangan tubuhnya, bersimpuh di aspal.
Seketika bayangan 10 tahun yang lalu terlintas di kepala Dilan, ketika seorang pria bermasker hitam telah membunuh kedua orang tuanya dengan sangat sadis, dan hendak membunuhnya juga, dari tatapan matanya dan postur tubuhnya sangat mirip dengan Hendrik, sementara Pak Arga tubuhnya lebih pendek dari Hendrik dan juga badannya Pak Arga sangat kurus, sementara Hendrik tubuhnya berotot.
Apakah mungkin Hendrik juga orang yang membunuh kedua orang tuanya?
Tapi kenapa malah Pak Arga yang menyerahkan diri ke kantor polisi?
Melihat Dilan yang mengerang kesakitan, hal ini digunakan kesempatan oleh Hendrik untuk melarikan diri, dia berlari dengan sisa tenaga yang dia miliki. Karena dia tidak sanggup melawan seorang hantu.
Nathalie ingin merangkul Dilan, akan tetapi tangannya tak bisa menyentuh Dilan. Hal itu membuat Nathalie sangat frustasi dan sedih, mengapa dia tak bisa menyentuh Dilan.
"Dilan!" Nathalie menangis, dia tak ingin Dilan pergi meninggalkannya. Dulu dia memang sangat membenci pria itu, bahkan berharap hantu tampan itu segera pergi dari hidupnya, tak mengganggunya lagi.
Tapi sekarang, dia tak ingin kehilangan Dilan, semenjak ada Dilan, Nathalie tidak kesepian lagi, walaupun dia tahu Dilan hanyalah seorang hantu, dia tak peduli dengan hal itu.
...****************...
Sementara itu, di rumah sakit, tubuh Dilan nampak mengejang, dadanya terangkat tinggi, dan alat pengontrol denyut nadinya juga mulai mengeluarkan suara tanda bahaya, sebagai pertanda detak jantung Dilan hampir tak terdeteksi .
Pengacara Kenzi masih berada di sana, dia mendekati Dilan yang tengah menggeliat menghadapi penghujung nyawa. Pengacara Kenzi sangat panik, rasa takut dan bingung bercampur menjadi satu. Ditengah perasaannya yang kalut, Pengacara Kenzi buru - buru menghubungi Dokter Riberto berharap pertolongan akan segera tiba.
"Hallo, ada apa Pengacara Kenzi?" Terdengar suara Dokter Roberto setelah menerima panggilan telepon dari Pengacara Kenzi.
"Tubuh Tuan Dilan mengejang, tolong secepatnya Anda datang kesini!" Pengacara Kenzi sangat mencemaskan kondisi Dilan. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika seandainya dia gagal dalam menepati janjinya kepada Tuan Andre untuk melindungi Dilan.