
Dilan nampak tertegun mendengar pertanyaan dari Nathalie, ketika Nathalie mengatakan bagaimana kalau seandainya Dilan sama sekali tidak mengingat apapun yang dia lalui bersama Nathalie selama Dilan menjadi hantu, jika seandainya Dilan sebenarnya masih hidup.
Dilan menjawabnya dengan penuh keyakinan, "Aku pasti akan mengingatnya. Tidak mungkin aku melupakanmu begitu saja, kamu sudah banyak membantuku. Lagian aku juga tidak ingin terlalu berharap, mungkin bisa saja aku memang benar-benar sudah mati."
Entah mengapa Nathalie merasa sedih jika membayangkan Dilan memang sudah mati, dan setelah urusannya di dunia ini selesai, dia pergi untuk selamanya, Nathalie tidak bisa melihat hantu Dilan lagi. Mungkin karena setelah kehadiran hantu Dilan, Nathalie tidak kesepian lagi, dia seakan memiliki seorang teman, Dilan tak semenyebalkan yang dia kira.
Nathalie memilih untuk menyembunyikan rasa sedihnya, dia pura-pura terlihat ceria. "Sebenarnya aku sangat penasaran."
"Penasaran soal apa?"
Nathalie menggigit bibir bawahnya, kemudian dia celingukan ke kiri dan kanan, belum berbicara saja dia sudah merinding, lalu berbisik dengan pelan kepada Dilan. "Apa selama kamu menjadi hantu, kamu sering melihat kuntilanak atau pocong?"
Dilan jadi ikut celingukan memperhatikan ke sekitar ruangan di apartemen sana. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Hanya penasaran, hantu kalau ketemu hantu lagi suka ngapain?"
"Mana saya tahu, mungkin pada ngerumpi kali." jawab Dilan dengan nada kesal, dia tidak suka jika Nathalie menyebutnya hantu, walaupun faktanya dia memanglah seorang hantu.
Nathalie malah senang melihat Dilan sekesal itu, dia masih ingin meledek Dilan. "Aku hanya takut mbak kunti cemburu kepadaku, soalnya kamu adalah hantu paling tampan sejagad raya ini, gak kebayang pasti banyak hantu wanita yang naksir padamu, mungkin sejenis kuntilanak, wewe gombel, sundel bolong."
Dilan mendeliki Nathalie, perkataan Nathalie seakan memuji dia sebagai hantu tampan sejagad raya, tapi masa iya dia disandingkan dengan berbagai macam hantu menyeramkan seperti itu. Kini Dilan yang berbalik ingin mengerjai Nathalie.
"Tentu saja aku melihat mereka." Dilan menunjuk ke setiap sudut yang ada di apartemen tersebut. "Sebenarnya dunia ini dipadati oleh banyak makhluk ghaib, bahkan ada dua hantu dibelakang kamu."
Seketika bulu kuduk Nathalie menjadi merinding, dia menggeser posisi duduknya menjadi semakin dekat dengan Dilan, sambil menoleh ke belakang.
"Bahkan wajah mereka sangat menyeramkan, matanya hanya ada satu, tubuhnya dipenuhi dengan darah, organ tubuhnya terlihat sangat jelas, dan giginya bertaring."
Nathalie semakin merapatkan posisi duduknya dengan Dilan, "Sttt... udah, jangan diteruskan."
Justru Dilan malah semakin bersemangat untuk menakuti Nathalie. "Dan sekarang ada hantu yang duduk dibelakang kamu."
"Dilan!" Nathalie semakin ketakutan. Berharap Dilan berhenti menakutinya, sampai dia tak sadar bahwa pria dihadapannya juga seorang hantu.
Mana mau Dilan berhenti begitu saja, dia masih saja mengoceh untuk menakuti Nathalie. "Dan sekarang hantu itu...mmhh..."
Dilan tak bisa melanjutkan bicaranya ketika Nathalie menutup mulut Dilan dengan tangan. "Berhenti menakutiku!"
Jantung Nathalie berdebar-debar ketika dia menyadari bahwa tangannya sedang menyentuh bibir Dilan, merasakan bagaimana lembutnya bibir hantu tampan itu. Itulah yang membuatnya merasa frustasi, karena baginya Dilan nampak begitu nyata, seperti manusia biasa.
Nathalie langsung melepaskan tangannya yang dari tadi menutup bibir Dilan, dia terlihat salah tingkah. Begitu juga Dilan, dia merasakan perasaan aneh kepada gadis itu.
"A-aku mau cari angin." pamit Nathalie, dia segera pergi keluar tanpa menunggu persetujuan dari Dilan.
Begitupun Dilan, dia memegang bibirnya, dia merasakan gelayar aneh ketika Nathalie memegang bibirnya. Dilan yakin yang dia rasakan pada Nathalie bukanlah cinta, bagaimana mungkin ada seorang hantu bisa jatuh cinta?
Nathalie menyadarkan punggungnya di daun pintu apartemen, dia memegang jantungnya yang masih saja berdebar-debar dari tadi. Nathalie mencoba untuk memperingatkan hatinya. "Ingat Nath, dia itu hantu. Jangan sampai kamu jatuh cinta kepada hantu."
Padahal selama ini Nathalie belum bisa melupakan Nino, masa dengan mudahnya dia move-on dari Nino hanya karena seseorang hantu.