Hantu Tampan Sang Pewaris

Hantu Tampan Sang Pewaris
Empat Puluh Dua


Selama menjadi asistennya Nathalie, Justin berpura-pura bersikap baik kepada Nathalie, dia berusaha untuk menjadi seorang asisten yang bisa diandalkan.


Nathalie walaupun hatinya sangat sedih karena telah kehilangan Dilan, tetapi dia berpura-pura ceria di depan semua orang, termasuk di depan Justin.


Justin sengaja mengakrabkan diri dengan Nathalie agar dia bisa tahu mengapa Dilan bisa memilihnya sebagai CEO.


Untuk sekarang ini Justin lebih baik tidak berbuat ulah dulu, karena dia tahu Hendrik sekarang sebagai buronan, dia tidak ingin ikut terseret.


Saat ini Nathalie dan Justin sedang meeting dengan klien di salah satu restoran milik Niroga.


Nathalie adalah perempuan yang cerdas dan bekerja keras, sehingga apa yang dia jelaskan kepada klien sangat membuat klien terpukau dan ingin bekerjasama dengan Niroga.


"Wah, saya sama sekali tidak menyangka, walaupun Anda masih muda, tapi ternyata Anda mampu menjadi seorang CEO yang sangat hebat, Nona Nathalie." Puji sang klien yang bernama Pak Anwar itu.


Justin mengakui Nathalie memang sangat hebat, bahkan mungkin karena dia orang ceria dan ramah, sehingga banyak sekali yang menyukainya.


Bahkan Justin sedari tadi tak bisa melepaskan pandangannya dari Nathalie, dia juga tidak tahu mengapa selama satu minggu menjadi asistennya, dia menjadi sering memikirkannya, tidak mungkin dia jatuh cinta kepada mangsanya sendiri.


Nathalie hanya bisa tersenyum mendengar pujian yang telah dilontarkan oleh Pak Anwar, dia terkadang tidak tahu harus menanggapi orang-orang yang memujinya seperti apa, entah itu memujinya benar-benar tulus atau hanya sekedar cari muka saja. Karena dia seorang CEO.


Pak Anwar melihat arloji yang melingkari pergelangan tangannya, rupanya waktu telah menunjukkan jam satu siang. "Saya tidak bisa berlama-lama disini Nona Nathalie, kalau begitu saya harus kembali ke kantor."


Nathalie dan Pak Anwar pun berjabatan, "Oh iya Pak, terimakasih atas waktunya." ucap Nathalie.


Setelah Pak Anwar pergi, Justin rasa ini saatnya dia bertanya sesuatu yang sangat dia penasaran hubungan antara Dilan dan Nathalie.


"Boleh saya tanya sesuatu?"


"Tentu saja boleh, silahkan!" Nathalie mempersilahkan Justin untuk bertanya dengannya.


"Mungkin karena sekarang ini kita sedang di luar kantor, aku ingin berbicara secara informal dengan kamu, Nathalie." Justin lebih nyaman memanggil Nathalie dengan panggilan nama, mungkin karena dia sangat tahu dulu Nathalie hanyalah cleaning servis, tidak layak untuk dia hormati.


Nathalie memilih menunggu Justin untuk melanjutkan bicaranya, dia sama sekali tidak keberatan dengan panggilan tersebut.


"Aku dan Dilan sudah seperti saudara kandung, karena itu aku ingin tahu dengan jelas tentang hubungan kamu dengan Dilan, sejak kapan kalian mulai dekat?"


Nathalie tidak paham mengapa Justin sangat penasaran dengan hubungannya bersama Dilan. Dia harus berhati-hati dalam menjawab pertanyaan dari Justin, karena dia tahu Justin sangat dekat dengan Dilan. "Aku rasa anda tidak perlu tahu tentang hubungan kami seperti apa, yang pasti kami berteman, walaupun pertemanan kami hanya kami yang tahu."


"Baguslah kalau kalian hanya berteman, jika seandainya Dilan masih hidup, mungkin sekarang ini dia akan menjadi seorang ayah." Justin hanya ingin melihat reaksi Nathalie seperti apa ketika mendengar perkataannya soal kehamilan Selena.


Justin tahu persis tulisan di surat yang ditunjukkan oleh Pengacara Kenzi sangat mirip dengan Dilan, hanya saja dia tak habis pikir mengapa Dilan malah mempercayakan posisi CEO pada Nathalie, padahal dia masih ingat dengan jelas waktu itu Nathalie dipecat oleh Dilan dengan semena-mena.


Justin menambahkan perkataannya, "Sekarang ini istrinya Dilan telah mengandung satu bulan, buah cinta mereka."