Hantu Tampan Sang Pewaris

Hantu Tampan Sang Pewaris
Lima Puluh Lima


Walaupun wajahnya ditutupi dengan masker, Nathalie sangat tahu bahwa pemilik mobil sport itu adalah Dilan, lagi-lagi Dilan telah menjadi pahlawan untuknya, disaat Dilan masih menjadi hantu maupun setelah dia kembali menjadi manusia.


Ingatan Dilan telah kembali, sebuah ingatan ketika Dilan dalam keadaan koma, arwahnya tersesat, sehingga mempertemukannya dengan Nathalie. Dilan sudah mengingat semuanya, tak ada satu kenangan pun yang dia lupakan, yaitu kenangan hari-hari yang dia lalui bersama Nathalie ketika Dilan menjadi hantu.


Walaupun itu semua tak masuk akal, akan tetapi kejadian yang menimpa Dilan bukanlah dongeng belaka, itu semua nyata adanya. Sebuah keajaiban yang mungkin bukanlah sebuah kebetulan, pasti ada alasan mengapa Dilan bisa menjadi hantu, mungkin untuk mengungkapkan sebuah misteri yang belum terungkap, yang mungkin saja ada kaitannya dengan kejadian 10 tahun yang lalu dengan kejadian di tahun ini.


Dilan mengepalkan tangannya, dia menatap ketiga preman itu dengan penuh amarah, karena telah berani menyakiti Nathalie. "Lepaskan dia, atau kalian akan mati ditangan ku!"


Ketiga preman tersebut malah mentertawakan Dilan, satu lawan tiga, mana mungkin Dilan bisa mengalahkan mereka, walaupun mereka tidak bisa melihat wajah Dilan dengan jelas, karena sebuah masker melekat menyembunyikan parasnya Dilan yang tampan.


"Hahaha... lebih baik kamu gak usah ikut campur urusan kami, cepat pergi sana!" Preman berbaju hitam mengusir Dilan.


Preman berbaju merah ikut mengancam Dilan. "Mumpung kami masih berbaik hati, kami sarankan kepadamu agar kamu segera pergi dari sini."


Preman berbaju biru mencoba menyeret Nathalie kembali, untuk membawanya masuk ke dalam mobil.


Nathalie berontak, "Lepaskan aku, bajingan!"


Dilan sangat murka, dia tak peduli dengan ancaman mereka, dia tak akan membiarkan Nathalie terluka.


Dilan berlari ke arah Nathalie yang sedang diseret dengan paksa oleh preman berbaju biru, dengan cepat dan keras, Dilan menendang benda pusaka milik preman berbaju biru.


Bugh...


"Arrrgghh!" Preman berbaju biru menjerit, dia merintih kesakitan, melepaskan genggamannya pada tangan Nathalie, dia langsung memegang benda pusakanya yang terasa linu, seakan sekujur badannya terasa sakit.


Nathalie segera berlari ke arah Dilan.


Kedua preman yang lainnya tak kan membiarkan Nathalie lepas begitu saja, mereka segera menyerang Dilan.


Dilan memposisikan dirinya berada di depan Nathalie, agar Nathalie merasa aman berada di belakangnya. Dia harus melawan mereka.


Dilan menahan bogeman dengan tangannya yang hampir saja mengenai wajahnya, rupanya preman berbaju hitam ingin menghajar wajahnya.


Setelah kejadian 10 tahun yang lalu, yang menewaskan kedua orangtuanya, Dilan berusaha bangkit dari rasa traumanya. Dan dia juga belajar ilmu bela diri untuk melindungi dirinya sendiri.


Walaupun Dilan pernah kalah berkelahi melawan Hendrik, karena Dilan dalam keadaan terluka akibat benturan keras yang dilakukan oleh Hendrik terhadap mobilnya.


Tapi kali ini Dilan tak akan membiarkan dirinya kalah, dia harus mengalahkan mereka, demi melindungi Nathalie.


Dilan menahan tangan preman berbaju hitam yang hampir saja meninju wajahnya, dia memutarkan tangannya dengan keras, sampai tangannya dibuat terkilir.


Krekk...


"Arrrgghh!" Preman berbaju hitam pun di buat menjerit penuh rasa sakit, dia mengaduh karena tangannya hampir saja dibuat mau patah.


Bugh...


Dilan menendang perut preman berbaju hitam itu, sehingga preman tersebut terjungkal ke aspal.


Nathalie terkejut ketika melihat preman berbaju merah menyerang Dilan dari samping.


"Dilan awas!" teriak Nathalie.


Dilan tak sempat menghindar, sehingga pukulan pria berbaju merah itu telah berhasil mengenai wajahnya, membuat wajah Dilan terluka.


Tak hanya satu kali, preman tersebut memberikan pukulan demi pukulan ke wajah dan tubuhnya Dilan, mungkin karena preman berbaju merah adalah ketua preman, dia yang paling kuat diantara kedua rekannya.


Dilan tak diberikan kesempatan untuk melawan, dia nampak kewalahan, preman berbaju merah itu memiliki tubuh yang besar dan tinggi, dia sangat kuat sekali.


Preman berbaju merah mengangkat tubuh Dilan, membanting tubuhnya ke aspal dengan keras.


"Arrrgghh!" Dilan merasakan punggungnya seakan remuk, pria itu membatingnya cukup keras.


Preman berbaju merah terkekeh, dia berjalan mendekati Dilan. "Gue sudah memperingatkan lu agar jangan ikut campur urusan kita. Sekarang rasakan akibatnya."


Pria itu mengeluarkan sebuah pisau lipat di jaketnya, untuk membunuh Dilan. Tapi sebelum itu dia sangat penasaran dengan wajahnya Dilan, mengapa Nathalie berteriak nama Dilan? Apakah dia adalah Dilan Niroga suaminya Selena?


Tapi rasanya tak mungkin, semua orang sudah tahu bahwa Dilan telah meninggal. Tapi untuk memastikannya, dia ingin membuka masker yang menutupi wajahnya Dilan.


Akan tetapi, tiba-tiba saja ada yang memukul preman berbaju merah itu dengan sebuah balok kayu.


Bugh...


Pukulan itu tak begitu terasa oleh ketua preman itu, dia membalikkan badan, mencoba untuk memberikan pelajaran kepada Nathalie karena telah berani memukulnya.


"Dasar ja-lang, berani lu mukul kepala gue!" Ketua preman tersebut sangat marah kepada Nathalie.


Dengan sisa tenaga yang Dilan punya, dia segera bangkit, Dilan mengambil sebuah batu yang lumayan besar, dia memukulkan batu tersebut ke kepala bagian belakang ketua preman itu.


Bugh...


"Arrrgghh!" Ketua preman mengiris, darah bercucuran di kepala bagian belakangnya. Dia membalikkan badan untuk menghajar Dilan kembali.


Dilan segera memberikan pukulan dengan cepat ke perutnya, lalu menendang lututnya, setelah itu dia pun menendang kepala preman tersebut.


"Aduhh... arrrgghh!" Ketua preman tersebut akhirnya tumbang juga.


Nathalie segera berlari ke mobilnya untuk membawa ponselnya, dia ingin melaporkan mereka ke polisi, akan tetapi ketiga preman tersebut malah melarikan diri, mereka berlarian dengan sisa tenaga yang mereka punya.


Dilan tak bisa mengejar mereka, tubuhnya merasakan kesakitan, apalagi kondisi kesehatannya belum stabil. Dilan tidak sempat melaporkan mereka ke polisi, karena dia terburu-buru menolong Nathalie yang hampir saja dibawa masuk secara paksa ke dalam mobil oleh ketiga preman itu.


...****************...


"Arrkkh... akhh... !"


"Pelan-pelan!"


Dilan memprotes ketika Nathalie mengobati luka di wajahnya Dilan. Saat ini mereka sedang duduk di kursi sofa yang ada di apartemen.


"Sudah aku bilang, lebih baik kamu diobati oleh Dokter Roberto aja." Nathalie hanya ingin memastikan Dilan baik-baik saja, dia takut bagian dalam ditubuh Dilan terluka akibat berkelahi dengan ketiga preman itu.


"Gak apa-apa kok, ini hanya luka kecil." Dilan pura-pura terlihat baik-baik saja, walaupun sebenarnya tubuhnya merasakan sakit.


Dilan membuka bajunya, membuat Nathalie kaget. "Kenapa kamu membuka bajumu?" protes Nathalie.


"Sepertinya punggung aku ada luka memar, cepat obati punggung aku!"


Nathalie menelan saliva melihat tubuh pria itu yang sangat sixpack, terlihat jelas otot-otot yang ada diperutnya, pasti Dilan sangat rajin berolahraga.


Nathalie berusaha untuk fokus mengobati luka memar dipunggungnya Dilan dengan salep luka, walaupun sebenarnya dia sangat grogi.


Nathalie telah selesai mengobati Dilan, dia segera berdiri. "A-aku... aku sudah selesai mengobati luka di tubuhmu, kalau begitu aku..."


Nathalie tak melanjutkan perkataannya, dia terkejut ketika Dilan tiba-tiba menarik tubuhnya sehingga dia terduduk kembali di kursi sofa, kini Dilan yang berjongkok di hadapannya.


"Dilan!" protes Nathalie saking kagetnya.


"Lututmu terluka, biarkan aku mengobatinya." Dilan berkata sambil tersenyum manis kepada Nathalie.


Senyuman itu mampu membuat Nathalie terhipnotis, begitu manis, apakah dia sedang bermimpi, mengapa Dilan tiba-tiba bersikap manis kepadanya.


"Shhh... mmmhh!" Nathalie menahan diri sekuat mungkin agar dirinya tidak meringis ketika Dilan mengobati luka di lututnya Nathalie. Sebenarnya lukanya itu termasuk luka ringan, makanya Nathalie sempat mengabaikan lukanya sendiri, lebih memilih untuk mengobati luka di wajah dan tubuh Dilan.


Nathalie tak bisa melepaskan pandangannya ketika Dilan sedang meniupi luka di lututnya itu. Nathalie tak menyangka, ternyata seorang Dilan Niroga bisa bersikap lembut seperti itu.


Apa yang dilakukan Dilan terhadapnya malam ini sungguh membuat hati Nathalie berdebar-debar. Nathalie menjadi salah tingkah ketika dia ketahuan oleh Dilan sedang memperhatikan pria itu.


Nathalie ingin bangkit, tapi Dilan lagi-lagi menahannya. Dilan berdiri, dia mencondongkan badannya dihadapan Nathalie yang sedang duduk di kursi sofa.


Nathalie merasakan hatinya tak aman dalam situasi seperti ini, dia harus meminta izin pada Dilan untuk pergi ke kamarnya. "Dilan, aku harus... mmmhh..."


Nathalie tak dapat meneruskan perkataannya, matanya terbelalak, ketika Dilan mencium bibirnya secara tiba-tiba. Pria itu memagut bibirnya Nathalie tanpa permisi.


Semua orang boleh menganggap Dilan gila, dia sama sekali tak peduli Nathalie anak siapa, dia tak akan mempermasalahkan siapa ayahnya Nathalie, walaupun ayahnya Nathalie telah membunuh kedua orangtuanya, Dilan tak bisa melepaskan Nathalie. Cintanya begitu besar terhadap gadis itu.


Walaupun dia akan mencari tahu kejanggalan yang telah dia ingat mengenai Hendrik, mantan security di Mansion Niroga.


Dilan menekan tengkuk leher Nathalie, sehingga ciumannya terasa semakin dalam, membuat gelayar panas menguasai tubuhnya.