
Nathalie nampak bimbang ketika mendapatkan pesan dari Pengacara Kenzi, padahal dia ingin mengikuti Selena dan Justin, akan tetapi dia sangat tahu Pengacara Kenzi tidak mungkin menghubunginya jika tidak ada hal penting yang harus dia bicarakan padanya.
Padahal hanya fokus beberapa menit saja membaca pesan itu, Nathalie baru menyadari bahwa mobilnya Justin telah menghilang begitu saja.
Nathalie mendengus kesal, dia segera menjalankan mobilnya, siapa tahu dia masih bisa mengejar mobilnya Justin, mungkin karena suasana di jalan raya yang begitu padat, Nathalie nampak kesulitan untuk mencari mobilnya Justin, apalagi setelah dia berada di persimpangan jalan, entah belok arah mana Justin dan Selena pergi.
"Ah, sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka?" Nathalie sangat penasaran sekali, tapi dia tidak ingin menduga-duga hanya karena Justin dan Selena pergi berdua dalam satu mobil, sehingga Justin ada kemungkinan dia Partner atau bukan, dia sama sekali belum memiliki bukti yang jelas.
Nathalie lebih baik berbelok arah, dia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit Niroga, dia juga sangat penasaran apa yang ingin ditunjukkan oleh Pengacara Kenzi padanya.
Di tengah perjalanan menuju rumah sakit, Nathalie melewati halte bis, tempat yang memiliki kenangan antara dia dengan Dilan, saat itu hujan turun begitu deras, sehingga mereka berteduh di sana.
Nathalie mengigit bibir bawahnya, nafasnya terasa menyesakkan jika mengingat semua kenangan yang dia lalui bersama Dilan, sayangnya kenangan itu hanya dia sendiri yang bisa mengingatnya.
Mata Nathalie berkaca-kaca, dia berusaha keras agar tidak menangis, sangat sulit sekali mengobati rasa sakit dihatinya, perasaan yang dia rasakan kepada Dilan begitu besar.
Padahal dulu dia sangat berharap bisa kembali pada Nino, tapi kini perasaannya pada Nino benar-benar menghilang, tak tersisa. Dilan mampu menggantikan posisi Nino yang sudah lama bersemayam di dalam hatinya. Sehingga dia tidak merasakan getaran apapun ketika bertemu dengan Nino.
...****************...
Ternyata Justin membawa Selena ke rumahnya, karena itu adalah satu-satunya tempat yang aman agar mereka bisa berbicara dengan leluasa.
Begitu berada di dalam rumah, Selena langsung meluapkan kekesalannya kepada Justin. "Jadi ini alasan kamu ingin terus berjaga jarak denganku? Agar kamu bisa leluasa mendekati gadis kampung itu?"
Justin sudah menduganya, Selena pasti akan marah kepadanya, dia juga sebenarnya sangat merasa kesal mengapa Selena harus memergokinya ketika dia sedang bersama Nathalie, walaupun sebenarnya mereka tidak sedang makan siang bersama, mereka baru saja selesai meeting dengan seorang klien.
Padahal momen itu bisa Justin pergunakan untuk mendekati Nathalie, sayangnya rencananya gagal gara-gara kehadiran Selena.
"Bahkan kamu mengajak gadis itu untuk makan malam denganmu?" Selena benar-benar sangat marah sekali kepada sang kekasih.
Mungkin karena Selena cinta mati pada Justin, sehingga dia percaya begitu saja dengan apa yang Justin jelaskan kepadanya.
Selena melepaskan pelukan Justin, dia menatap kedua bola mata Justin, "Beneran hanya itu alasannya?"
Justin menganggukan kepala, "Iya, aku melakukannya demi masa depan kita. Kita bisa menjatuhkan Nathalie dengan cara yang halus jika aku tau kelemahannya. Tidak mungkin aku naksir gadis itu."
Walaupun sebenarnya Justin sering memikirkannya setelah dia menjadi asistennya Nathalie, mungkin karena sering berinteraksi dengannya, Nathalie adalah seorang gadis yang sangat ceria dan murah tersenyum, apalagi dia perhatian kepada karyawan, termasuk kepadanya.
Justin masih ingat ketika hari pertama Nathalie masuk ke kantor Niroga, saat itu Justin sedang tidak enak badan, Nathalie begitu perhatian padanya. Nathalie menyuruh Justin untuk beristirahat saja, agar dia cepat sembuh. Padahal sebenarnya Nathalie memang perhatian kepada semua karyawan.
Sikap Nathalie yang hangat dan sering tersenyum kepada Justin, membuat Justin terkadang selalu mengingat bagaimana ketika Nathalie tersenyum kepadanya. Justin yakin perasaan yang dia rasakan kepada Nathalie bukanlah cinta, tapi dia hanya penasaran kepada gadis itu.
"Kalau begitu maafkan aku, aku sudah merusak rencanamu. Tapi ingat ya, jangan sampai kamu menidurinya." Selena tidak rela jika Justin tidur dengan wanita lain, bahkan dia setelah menikah dengan Dilan pun, dia berusaha agar Dilan tidak menyentuhnya, walaupun status Dilan sudah menjadi suaminya.
Justin hanya menganggukkan kepala, dia tidak bisa menjaminnya, tidak ada yang bisa mengatur kehidupannya.
Tangan Selena nakal, tangan Selena menyelinap masuk ke dalam celana Justin, mere-mas dengan lembut benda pusaka di dalam sana. "Karena punyamu hanya milikku, anak kita ingin sekali bertemu denganmu sayang."
Selena ingin mencium bibir Justin, tapi Justin malah membuang muka, dia mengeluarkan tangan Selena dari celananya. "Aku harus kembali ke kantor."
"Hanya sekali saja, kamu tidak merindukan aku?"
Entah mengapa Justin tidak memiliki hasrat lagi kepada Selena, entah karena Selena sedang hamil atau karena dia sering memikirkan Nathalie.
"Aku harus kerja, Selena." Justin mengatakannya dengan nada tegas.
"Hm, ya sudah." Selena sangat tahu sifat Justin, Justin begitu berambisi di dalam pekerjaannya, sebenarnya Justin memang telah menjadi seorang asistennya yang hebat, karena dia merasa dirinya hebat, sehingga dia menginginkan posisi yang sangat tinggi di Niroga.