Hantu Tampan Sang Pewaris

Hantu Tampan Sang Pewaris
Enam Puluh Dua


Dua jam sebelum handphone Nathalie ada pada Justin...


Setelah membaca berkas tentang sang ayah, Nathalie memutuskan untuk segera pergi ke lapas, dia ingin sekali bertemu dengan ayahnya.


Nathalie terkejut ketika melihat ada empat orang bodyguard sedang berdiri di depan pintu apartemen. Dia sama sekali tidak tahu bahwa Dilan mengirim bodyguard untuk menjaganya.


"Maaf Nona, anda tidak bisa pergi tanpa izin dari Tuan Dilan." cegah salah satu bodyguard ketika melihat Nathalie keluar dari dari apartemen.


Namun, Nathalie bersikukuh ingin bertemu dengan ayahnya, "Hanya sebentar, saya harus bertemu dengan ayah saya. Saya mohon." lirih Nathalie, sebagai seorang anak, pasti dia sangat ingin bertemu dengan ayahnya, setelah 10 tahun mereka berpisah.


"Tapi Nona..."


"Saya mohon, hanya sebentar saja." Nathalie memohon dengan sangat, dia ingin sekali bisa menemui ayahnya. Hatinya sangat terluka karena sebentar lagi ayahnya akan di eksekusi mati, Nathalie sangat berharap sebuah keajaiban datang, ternyata ayahnya memanglah bukan seorang pembunuh, sehingga sang ayah bisa dibebaskan.


Akhirnya keempat bodyguard tersebut mengabulkan permintaan Nathalie, dengan catatan mereka harus ikut bersama Nathalie. Nathalie menyetujui persyaratan yang diajukan oleh mereka, mereka melakukan itu semua untuk melindunginya, atas perintah dari Dilan.


Hal itu membuat Nathalie dilanda kebimbangan dan rasanya membuat hatinya perih, padahal Dilan sudah tahu bahwa ayahnya dipenjara karena menjadi tersangka atas pembunuhan terhadap kedua orang tuanya Dilan, tapi Dilan berpura-pura baik-baik saja di depan Nathalie, pria itu masih tetap mencintainya dan memperlakukannya dengan baik, bahkan berusaha untuk melindunginya. Padahal saat ini Nathalie tidak memiliki kepercayaan diri lagi jika harus berhadapan dengan Dilan.


Di tengah perjalanan menuju lapas, Nathalie menangis, mengapa kisah cintanya bersama Dilan begitu pelik, ternyata ayahnya selama ini ditahan atas pembunuhan terhadap orang tuanya Dilan. Tapi walaupun begitu, dia sangat yakin bahwa ayahnya bukanlah seorang pembunuh. Nathalie sangat mempercayai ayahnya.


Akan tetapi tiba-tiba saja ada dua buah mobil sengaja menghalangi jalan yang akan mereka lalui. Justin memang telah mengetahui dimana Nathalie tinggal, karena dia pernah diam-diam mengikuti Nathalie, hanya ingin tahu di apartemen mana Nathalie tinggal, Justin sama sekali tidak tahu bahwa Nathalie selama ini tinggal bersama dengan Dilan.


Nathalie merasakan tidak enak hati, pasti ada seseorang yang ingin berbuat jahat kepadanya.


Keempat bodyguard turun dari mobil, mereka juga telah membawa senjata untuk perlindungan diri. Sehingga terjadilah perkelahian hebat diantara mereka.


Nathalie merasakan resah dan gelisah, dia sangat ketakutan sekali. Nathalie harus melaporkannya ke polisi, tapi dia dibuat terkejut, sampai jantungnya hampir mau copot.


Nathalie kaget saat ada dua orang preman mencoba untuk menyerangnya, mereka sengaja menghancurkan kaca mobil dengan pipa besi.


Prang...


Prang...


Tidak ada pilihan, Nathalie berusaha untuk melarikan diri, dia keluar dari mobil. Nathalie berhenti melangkah ketika dia melihat tepat di depannya ada seorang pria yang sedang berdiri dengan begitu tenang.


Ya, dialah Justin. Pria itu menodongkan pistol ke arahnya.


"Justin!" Nathalie terkejut begitu melihat Justin mengarahkan pistol ke arah kepala Nathalie.


Ternyata kecurigaan Nathalie selama ini benar, Justin bukanlah pria baik-baik. Sudah tidak diragukan lagi, Justin adalah Partner itu, dialah tersangka utama atas percobaan pembunuhan terhadap Dilan.


"Seandainya kamu menerima cintaku, ceritanya akan berbeda, Nathalie. Aku akan memanjakan mu, memujamu dengan banyak cinta." Justin mengatakannya dengan nada kesal, dia masih menodongkan pistol ke arah Nathalie.


Justin meneruskan perkataannya. "Tapi ternyata selama ini kamu bekerjasama dengan Dilan, apa itu alasan kamu mendekatiku? Karena ingin memata-mataiku?" Justin terlihat marah sekali kepada Nathalie, seakan gadis itu telah mempermainkannya.