
Setelah selesai makan malam bersama Justin, Nathalie memutuskan untuk segera pulang ke apartemen. Saat ini dia sedang berada dalam perjalanan, dia menyetir mobilnya sendiri.
Nathalie menyetir dalam kecepatan normal, Nathalie sebenarnya sangat penasaran ada hubungan apa antara Justin dan Selena, dia semakin curiga bahwa mereka benar-benar memiliki hubungan spesial, apalagi Justin terlihat panik ketika ada panggilan telepon dari Selena, seolah-olah Nathalie tidak boleh tahu bahwa orang yang menelponnya adalah Selena.
"Aku semakin curiga, mereka pasti memiliki hubungan spesial." gumam Nathalie, sayang sekali dia belum juga bisa menemukan bukti yang dapat memperkuat dengan kecurigaannya itu terhadap Justin dan Selena.
Jika seandainya kecurigaannya itu benar, Dilan pasti akan sangat terluka, dia telah dikhianati oleh istri dan juga seseorang yang sudah dia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri.
Dikhianati oleh orang terdekat pasti akan membuat hati Dilan hancur, tapi walaupun begitu, Dilan memang harus siap menghadapi kebenaran ini.
Nathalie tak sengaja melihat di pinggir jalan yang telah dia lewati ada seorang ayah yang sedang berjalan menggenggam tangan putrinya, mungkin usia putrinya itu sekitar 6 tahunan, mereka terlihat sangat bahagia sekali, apalagi putrinya sedang menggenggam erat tali balon dengan tangan.
Mata Nathalie berkaca-kaca, dia menjadi teringat kembali dengan ayahnya. Hatinya sangat sakit jika mengingat kenangannya bersama sang ayah.
Anak mana yang tak sakit hati ketika dia tiba-tiba diantarkan ke panti asuhan, lalu ayahnya pergi begitu saja, tanpa menjelaskan alasan yang jelas mengapa ayahnya sampai hati meninggalkannya begitu saja.
Berbagai kenangan bersama sang ayah kembali muncul dibenaknya, Pak Arga adalah seorang ayah yang berhati lembut, dia akan selalu pasang badan ketika ada seseorang yang berani menyakiti putrinya.
Nathalie masih ingat dengan jelas saat Nathalie di bully oleh teman-temannya sekolahnya saat dia masih kecil, Pak Arga tak akan diam begitu saja, dia datang ke sekolah sampai berdebat dengan pihak sekolah dan orang tua siswa yang membully Nathalie.
Mereka hanya bilang. "Namanya juga anak-anak Pak."
Pak Arga memprotes pernyataan itu, karena bullying tidaklah bisa dianggap wajar, justru karena masih anak-anak harus mendapatkan arahan yang benar, bahwa bullying itu adalah perilaku kejahatan yang akan merusak mental, dan efeknya akan terus berlanjut sampai korban dewasa.
Akan tetapi pernyataan Pak Arga tidak diterima oleh pihak sekolah, mungkin karena orang tua siswa yang membully Nathalie adalah donatur di sekolah tersebut, sehingga Nathalie di keluarkan dari sekolah, saat itu Nathalie masih kelas 2 SD.
Pak Arga menyemangati Nathalie yang nampak bersedih, dia membelikan Nathalie balon untuk menghiburnya. Kemudian Pak Arga berkata kepada Nathalie, "Jangan bersedih, ayah akan mencari sekolah yang lebih bagus, disana tidak akan ada anak yang berani macam-macam padamu. Dan ayah tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu."
Itu adalah secuil kenangan yang Nathalie ingat ketika ayahnya selalu menjadi garda terdepan untuk melindunginya. Ayahnya bilang dia tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitinya.
"Tapi akhirnya ayah yang telah menyakitiku." lirih Nathalie, dia menghapus air matanya yang tiba-tiba saja menetes, Nathalie harus berkonsentrasi dengan apa yang sedang dia lakukan saat ini, dia harus ingat bahwa saat ini dia sedang menyetir mobil.
Saat itu, ketika ayahnya meninggalkannya di panti asuhan, setiap hari, setiap malam, Nathalie selalu menunggu ayahnya, berharap ayahnya datang kembali untuk menjemputnya. Akan tetapi sampai sekarang harapannya tak terkabul.
Nathalie sangat penasaran, apa alasan ayah pergi meninggalkannya, padahal selama ini ayahnya selalu menjadi ayah yang baik dan selalu melindunginya Nathalie. Rasa rindu kepada sang ayah mampu mengalahkan benci yang ada di hati Nathalie.
Nathalie terkejut ketika tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat di depannya, hampir saja Nathalie menabrak mobil itu, beruntung dia segera menginjak rem mobil dengan cepat.
Nathalie mengusap dadanya, dia telah dibuat jantungan dengan kejadian ini, Nathalie segera turun dari mobil, untuk memperingatkan pengemudi mobil yang seenaknya berhenti di depan mobilnya.
Akan tetapi dia nampak kaget saat melihat ada tiga orang pria berbadan besar keluar dari mobil tersebut, ternyata mereka adalah preman yang suruh oleh Selena untuk membunuh Nathalie.
Nathalie nampak ketakutan, dia berjalan mundur. "Kalian siapa? Jangan macam-macam padaku, aku akan melaporkan kalian ke polisi." Nathalie mencoba untuk mengancam mereka.
"Sayang banget kalau kita bunuh dia begitu saja, mending kita pake dulu sampai puas." bisik preman berbaju merah.
Preman berbaju biru terkekeh, "Ide yang bagus bos, pasti rasanya sangat nagih."
Preman yang berbaju hitam ikut terkekeh, pertanda menyetujui ide dari kedua rekannya. Siapa bisa tahan jika menghadapi targetnya yang sangat cantik, tidak mungkin dia menyia-nyiakannya begitu saja.
Preman berbaju hitam mencoba untuk mendekati Nathalie. "Gak usah banyak nanya, mending ikut abang yuk."
Nathalie ingin berlari, dia baru menyadari bahwa dia telah dikepung dengan cepat oleh ketiga preman tersebut.
Nathalie mencoba untuk berteriak meminta pertolongan, berharap ada seseorang yang datang menolong dirinya.
"Tolong!"
"Tolong aku!"
Ketiga preman itu malah semakin tertantang, mereka tertawa terbahak-bahak.
"Percuma saja berteriak, tidak akan ada yang mendengarnya, sayang. Jangan buang-buang energimu, nanti saja kamu keluarkan seluruh energimu saat bersenang-senang dengan kami." ucap preman berbaju merah.
Suasana dijalan raya disana memang nampak begitu sepi, sehingga Nathalie merasa putus asa, dia akan kesulitan untuk mendapatkan pertolongan.
Akan tetapi Nathalie tak akan menyerah begitu saja, dia mencoba untuk melawan mereka walaupun dia tahu akhirnya dia akan kalah.
Nathalie ingin memukul salah satu diantara ketiga preman itu, tapi mungkin karena tenaganya bukanlah tandingannya, sehingga Nathalie terjatuh ke aspal, membuat lututnya terluka.
"Arrghh" Nathalie meringis.
"Jangan mencoba untuk melawan kami, nanti saja melawannya ketika berada diatas ranjang hahaha..." Preman berbaju biru cekikikan, dia sudah tak sabar menantikan dimana dia bisa menikmati tubuh Nathalie, sebelum membunuhnya.
Preman berbaju hitam dan preman berbaju merah menarik Nathalie dengan paksaan, menyeretnya agar masuk ke dalam mobil.
"Ayo ikut kami!" ucap preman berbaju merah.
Nathalie berusaha untuk berontak, dia tidak sudi dibawa pergi oleh mereka. "Lepaskan aku! Lepaskan aku, brengsek!"
Tiba-tiba ada sebuah mobil sport berwarna merah berhenti, tepat di depan mereka. Membuat kedua orang preman yang menyeret Nathalie segera melepaskan Nathalie, karena harus menyerang pemilik mobil sport berwarna merah itu, yang telah berani ikuti campur pada urusan mereka.
Pemilik mobil sport itupun keluar dari mobilnya, dia menatap tajam kepada ketiga orang preman yang telah berani menyakiti Nathalie. "Lepaskan dia, atau kalian akan mati ditanganku!"