
Saat ini Hendrik sedang berada di tempat persembunyiannya, disebuah rumah yang letaknya jauh dari pemukiman, untuk bersembunyi dan menghindari dari kejaran polisi.
Hendrik sangat merasa tersiksa dengan keadaan ini, dia sama sekali tidak menikmati uang yang seharusnya dia gunakan untuk berpoya-poya, padahal bayaran dari Justin cukup tinggi.
Hendrik mendengar ponselnya berdering, dia segera mengangkat panggilan telepon begitu mengetahui siapa yang menelponnya, siapa lagi kalau bukan Justin.
"Hallo Tuan Justin." sapa Hendrik ketika mengangkat telepon dari Justin.
"Aku ingin hari ini juga kita bertemu." jawab Justin dengan nada dingin.
"Boleh sekali Tuan, tapi kita harus bertemu dimana?"
"Nanti aku kirim alamatnya ke kamu, aku akan menunggumu disana."
Hendrik memang selalu patuh kepada Justin, karena Justin selalu membayarnya dengan harga yang tinggi.
Dalam waktu satu jam, Hendrik telah sampai ditempat yang dijanjikan, sebuah gudang tua yang terdapat di tengah hutan. Hendrik masuk ke dalam gudang tersebut, namun tiba-tiba ada seseorang yang memukul kepalanya dengan pipa besi begitu keras.
Bugh...
Tubuh Hendrik pun ambruk ke lantai.
Justin sengaja menyuruh Hendrik untuk menemuinya, karena dia ingin mengintrogasi Hendrik.
Ketika Hendrik tersadar, dia kaget begitu menyadari tangan dan kakinya dalam posisi terikat dengan tiang besi kiri dan kanan, dalam posisi berdiri.
Hendrik merasakan kepalanya pening, darah segar bercucuran dari pelipisnya, dia merintih merasakannya sakit dibagian kepalanya itu.
Hendrik baru menyadari ternyata disana ada lima orang preman yang sedang menatap tajam ke arahnya, dan ada Justin yang sedang berdiri di depannya.
"Tuan, kenapa anda mengikat saya seperti ini?" protes Hendrik kepada Justin. Hendrik menarik-narik tali yang mengikatnya dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri, tapi sayangnya tali tersebut terikat dengan sangat kuat.
"Katakan dengan jujur, mayat siapa orang yang ada di dalam mobil itu? Apakah kamu benar-benar membunuh Dilan?" Justin bertanya dengan nada tinggi, dia terlihat sangat marah.
"Te-tentu saja mayatnya Dilan, Tuan." Hendrik mengatakannya dengan terbata-bata.
"Apa kau yakin?" Justin mencambuk tubuh Hendrik dengan sabuk kulit.
Membuat Hendrik menggeram, menahannya rasa sakit dan perih ketika Justin mencambuk tubuhnya berkali-kali. "Arrghh!"
"Arrrgghh!"
"A-mpun Tuan. Saya salah, saya akui mayat yang ada di jurang itu adalah mayat supir dan mayat teman saya, saya terpaksa melakukannya." Hendrik terpaksa berkata jujur agar Justin berhenti mencambuk badannya.
Betapa terkejutnya Justin saat ini, ternyata selama ini Hendrik telah membohonginya. Justin semakin marah, dia mencengkeram kerah baju Hendrik. "Jadi selama ini kamu telah menipu aku? Lalu bagaimana dengan Dilan?"
"Saya tidak bermaksud menipu Tuan, malam itu saya gak sengaja mendorong Dilan ke sungai, saya takut Tuan marah."
"Brengsek!" Amarah Justin semakin meledak, membuat dia lepas kendali. Dia tidak terima dibodohi oleh Hendrik. Justin membawa sebilah pisau yang ada digenggaman salah satu preman yang ada disana, lalu menusuk perut Hendrik.
Jlebb...
"Arrrgghh!"
Justin menusuk perut Hendrik berkali-kali sampai dirinya puas, dia tak peduli dengan kondisi Hendrik yang merintih kesakitan dan banyak mengeluarkan darah.
"Rasakan akibatnya, ini adalah hukuman karena kamu telah berani mempermainkan aku!"
...****************...
Diwaktu yang bersamaan, saat ini Dilan sedang berada di lapas, untuk menemui Pak Arga, dengan ditemani oleh Pengacara Kenzi.
Pak Arga terlihat gemetaran ketika bertemu dengan Dilan dan Pengacara Kenzi, dia sangat yakin Dilan pasti sangat membencinya.
Pak Arga hanya bisa menundukkan kepala, melihat dari sikap dan raut wajahnya, sepertinya hidupnya penuh dengan tekanan, sampai badannya kurus kering, terlihat lebih tua dari usianya.
"Kedatangan kami kesini hanya untuk memastikan satu hal, apakah benar anda yang membunuh Tuan Andre dan Nyonya Lea?" Pengacara Kenzi langsung membahas ke bagian inti dari pertemuan mereka.
"I-iya, aku yang membunuh mereka." Pak Arga tidak mungkin berkata jujur, dia sangat takut Justin akan menyakiti Nathalie.
Setelah bertemu dengan Pak Arga kembali, Dilan semakin yakin bahwa Pak Arga bukanlah pembunuh terhadap kedua orangtuanya. Lantas mengapa Pak Arga harus menyerahkan diri ke polisi dan mengakui kejahatan yang sama sekali tidak dia lakukan?
Apakah mungkin Justin telah mengancamnya sehingga Pak Arga terpaksa dikambinghitamkan?
Ancaman biasanya bersangkutan dengan sesuatu yang berharga untuk orang tersebut, apakah mungkin Nathalie dijadikan tameng oleh Justin untuk mengancam Pak Arga?
"Berkatalah yang sejujurnya Pak Arga, kami datang kesini untuk menolongmu. Masalah Nathalie, dia baik-baik saja dan aman bersamaku." Dilan mencoba untuk meyakinkan Pak Arga.