Hantu Tampan Sang Pewaris

Hantu Tampan Sang Pewaris
Lima Puluh Tiga


Di sel tahanan, terlihat Pak Arga yang sedang memanjatkan sebuah do'a kepada Yang Maha Kuasa, hari demi hari silih berganti tak terasa Pak Arga telah hidup di jeruji besi selama 10 tahun, do'anya kepada Tuhan selalu sama, berharap Tuhan mengabulkan permintaannya.


"Tuhan, tolong lindungi putri hamba di manapun dia berada, berikanlah kebahagiaan untuk putri hamba. Dan berikanlah keajaiban untuk hamba, hamba ingin bertemu dan memeluk putri hamba. Jika hamba memang ditakdirkan untuk mati, hamba rela, asalkan hamba diberikan kesempatan untuk bertemu dengan putri hamba. Kirimkanlah seseorang yang bisa menolong hamba, untuk membuktikan bahwa hamba tidak bersalah."


Itulah do'a yang selalu Pak Arga panjatkan di setiap malamnya, tiada lelahnya dia berdo'a dan berharap keajaiban itu datang.


Berharap ada seseorang datang menyelamatkannya dari hukuman mati dan menyelamatkan putrinya dari ancaman Justin.


"Uhukk... uhukk..." Pak Arga terbatuk-batuk, Pak Arga menutup mulutnya dengan tangan, batuk Pak Arga semakin bertambah parah.


Pak Arga terdiam ketika melihat ada darah di telapak tangannya, hal itu memang sering terjadi, dadanya selalu merasa sakit, tapi dia tak pernah menghiraukan kesehatannya.


Hidup Pak Arga memang sangat menderita, mendapatkan hukuman yang tak pernah dia lakukan, dan dipaksa terpisah dengan putri kesayangannya disaat Nathalie masih kecil, orang tua mana yang tak sedih dan tersiksa jika dipaksa karena keadaan harus meninggalkan putri satu-satunya.


Pak Arga hanya bisa menangis memandangi foto Nathalie yang telah tumbuh dewasa, dia tidak tahu bagaimana pertumbuhan putrinya dari waktu ke waktu, bagaimana putrinya melewati kehidupannya selama ini, bahkan dia tidak tahu bagaimana suasana ibu kota yang telah banyak berubah selama 10 tahun mendekam di penjara.


Pak Arga telah kehilangan waktu yang berharga selama 10 tahun, yang tak akan pernah bisa dikembalikan oleh siapapun. Itu semua karena ulah Justin.


...****************...


Sementara itu di apartemen, Dilan sangat syok dengan apa yang dia lihat, tangannya gemetaran ketika membaca berkas hasil penyelidikan Detektif Al tentang ayahnya Nathalie.


Nama: Arga Rancaguna


Usia: 50 tahun


Pekerjaan: Supir taksi 2000-2005. Supir pribadi keluarga Niroga 2005-2013


Pada tahun 2013 menjadi tersangka atas pembunuhan terhadap Andre Niroga dan Lea Soraya.


Arga Rancaguna telah di vonis hukuman mati yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Juli 2023.


"Tidak mungkin, bagaimana mungkin dia adalah anak dari pembunuh itu." Dilan nampak terkejut begitu mengetahui kenyataan bahwa Nathalie adalah anak dari Pak Arga, mantan supir yang menjadi tersangka atas terbunuhnya kedua orang tua Dilan.


Dilan nampak mematung, dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan kepada Nathalie.


Hati Dilan terluka kembali jika mengingat bagaimana kedua orangtuanya mati dengan cara yang sangat tragis, di depan mata kepalanya sendiri. Bagaimana mungkin dia melupakan begitu saja peristiwa mengerikan itu.


Bagaimana mungkin Dilan memaafkan begitu saja orang yang telah membunuh kedua orangtuanya. Nafas Dilan terasa sangat sesak tak beraturan, keringat dingin membasahi dahinya.


Terbayang dengan jelas tentang peristiwa mengerikan 10 tahun yang lalu, sebuah kenangan pahit yang tak akan pernah bisa Dilan lupakan dan membenci pembunuh orangtuanya dalam seumur hidupnya, berharap orang itu akan segera dihukum mati.


Dilan tiba-tiba merasakan kepalanya sakit, seakan kepalanya dihantam oleh benda keras secara bertubi-tubi, sampai berkas yang Dilan pegang berjatuhan dan berserakan di lantai.


"Arrrgghh!" Dilan meringis, dia mencengkeram rambutnya dengan kuat, sampai dia bersimpuh di lantai, tak kuasa menahan rasa sakit di kepalanya, seakan mau meledak.


Berbagai kenangan muncul di kepalanya, sebuah kenangan yang sama sekali tidak pernah ada ketika selama dia masih hidup sebagai manusia.


Kenangan itu dimulai dari ketika Dilan berada di jembatan, lalu menyadari dirinya adalah hantu ketika ada sebuah mobil melewatinya begitu saja menembus tubuhnya. Kemudian dia bertemu dengan Nathalie, mengikuti Nathalie kemanapun Nathalie pergi.


Bukan hanya itu saja, kenangan ketika Dilan memaksa Nathalie untuk menjadi CEO sementara di Niroga, padahal Nathalie sudah beberapa kali menolak tawaran dari Dilan. Tapi akhirnya Nathalie terpaksa menerima tawaran dari Dilan karena dia ingin bisa menemukan ayahnya dan membantu Dilan.


Kenangan saat di pesta penyambutan CEO pun muncul di kepalanya, saat itu Nathalie berpenampilan sangat cantik sekali, disambut begitu meriah oleh orang-orang yang hadir di pesta.


Kemudian setelah itu Dilan teringat ketika dia menolong Nathalie disaat Nathalie hampir saja dibunuh oleh seseorang.


"Arrrgghh!"


Dilan mengerang, kepalanya semakin terasa sakit, semua kenangan bermunculan tiada henti, membuat kepalanya sangat sakit dan berat.


Mata Dilan membulat ketika mengingat saat Dilan bisa melihat dengan jelas wajahnya Hendrik, mantan security di Mansion Niroga, 10 tahun yang lalu.


Bukan hanya itu, kenangan saat Dilan berkata bahwa dia sangat mencintai Nathalie pun muncul dengan begitu jelas, bahkan saat mereka sedang berciuman, karena Nathalie juga sangat mencintainya.


"Aku mencintaimu, Nathalie. Aku tidak ingin menyesal jika tidak mengatakannya padamu. Karena itu jika seandainya aku ditakdirkan untuk bisa hidup kembali, aku harap perasaan ini akan tetap ada dihatiku, dan aku akan mencarimu. Tapi jika seandainya aku ditakdirkan sudah mati, aku akan membawa perasaan ini dihatiku."